Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Operasi!?


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa menit di sofa sambil menutupi perban gue dengan handuk hotel, akhirnya Dokter itu pun datang.


"Maaf saya terlambat, Tuan." ucapnya sambil menunduk.


"Tidak apa, cepat obati luka ku!" perintah gue.


"Baik, Tuan." jawabnya dan langsung duduk di samping gue, lalu mulai mengeluarkan alat-alatnya.


"Tolong lepas handuk itu, Tuan." sambungnya.


Mendengar itu, gue langsung membuka handuk itu tanpa ada kata pelan sedikitpun, dan melemparkannya ke atas meja.


Dokter itu pun mulai membuka perban gue dengan perlahan. awalnya masih biasa aja, tapi... saat perban itu sudah lepas dari lengan gue, rasanya kulit dan daging di lengan kanan gue di paksa terbuka sampai tulang gue terlihat.


Gue hanya bisa meringis pelan, dan berusaha untuk tetap tenang tanpa menggerakkan lengan kanan gue lagi.


"Tuan! saya sudah bilang, jangan menggerakkan lengan kanan anda. Robekannya semakin membesar, Tuan!" ocehnya.


"Aku juga tau, Hendra! Tapi tadi benar-benar keadaan genting." sahut gue yang sontak menengok dan menatapnya dengan tajam.


"Sekarang keadaan Adan yang genting! Ini harus di jahit, Tuan. Jika tidak, luka anda akan terus seperti ini dan membuat anda kesulitan bergerak." sambungnya.


"Tidak! berikan obat dan perban saja." tolak gue.


"Maaf, Tuan. Saya tidak ingin anda terluka parah lagi, jadi tolong...ikut saya kerumah sakit sekarang." pintanya.


"Ruangan Pribadi anda selalu siap untuk anda, jadi percaya saja kepada Dokter anda." timpalnya.


Gue gak bisa berkata tidak lagi, dia benar...gue gak boleh terluka parah lagi. Jika tidak, mungkin akan ada yang terjadi di kemudian hari saat gue terluka parah atau gue pergi selamanya.


"Baiklah...aku akan ikut dengan ku." ucap gue pasrah.


"Kalau begitu, saya akan menutup luka anda dengan perban baru. Setelah sampai di rumah sakit, saya akan langsung menjahitnya." jelasnya, lalu mulai memberban luka gue.


Setelah selesai memasang perban, gue langsung memakai baju ganti yang telah disiapkan Jordan sebelumnya, lalu melangkah keluar dari kamar gue bersama Hendra.


Saat di luar, gue langsung memanggil kedua bawahan gue itu dan berbicara kepada mereka.


"Aku punya tugas penting untuk kalian." ucap gue.


"Aku akan pergi kerumah sakit, dan sepertinya akan memakan waktu lama. Jadi, aku mau kalian menjaga Nona kalian dengan aman. Jangan biarkan di keluar dari hotel ini. Jika dia bertanya tentang ku, bilang saja jika aku pergi mengurus sesuatu. Jangan bilang kepadanya kalau aku pergi ke rumah sakit." jelas gue.

__ADS_1


"Baik, Tuan." jawab mereka.


"Ingat! jangan sampai terjadi sesuatu dengan gadis itu, jika tidak...nyawa kalian yang akan membayarnya!" tegas gue.


"Kami akan menjaga Nona seperti menjaga anda." jawab salah satu dari mereka.


"Baiklah, aku akan pergi sekarang." sambung gue.


Sebelum gue pergi, mereka berdua lebih dulu membungkuk lalu gue mulai melangkah pergi dan diikut Hendra di samping gue.


Karna mobil yang biasa gue pakai rusak karna kejadian sebelumnya. Jadi, gue ikut bersama Hendra menggunakan mobil miliknya.


Selama di mobil gue hanya diam sambil menahan sakit, bagaimana tidak? Hendra sama sekali tidak memberikan obat apapun dan langsung memperban luka gue. Rasanya memang tidak sesakit saat tidak memakai perban, tapi tetap saja membuat ku kesulitan bekerja.


Tak lama kemudian, kami akhirnya sampai di rumah sakit milik Hendra yang didirikan dengan bantuan pemimpin Mafia sebelumnya.


Hendra pun menuntut gue keruangan Pribadi yang memang di buat untuk gue. Saat sampai di ruangan itu, gue disuruh untuk menunggu sambil membuat diri gue sedikit santai agar operasinya berjalan dengan lancar.


Gue gak tau apa di dilakukan Hendra dengan para Dokter dan perawat lainnya, dia seperti sedang berdiskusi di luar ruangan gue.


Dari pada menunggu lama, gue akhirnya melepas pakaian gue lebih dulu dan berjalan ke jendela untuk menghirup udara segar sebelum di bius.


Tiba-tiba terdengar suara pintu ruangan terbuka, gue sontak menengok kebelakang dan ternyata itu adalah Hendra bersama 2 Dokter dan beberapa perawat.


Gue langsung berbalik dan duduk di atas bangsal, lalu menjawab pertanyaannya. "Sudah."


"Baiklah, silahkan berbaring. Kami akan menyuntiknya obat bius terlebih dulu, setelah itu kita akan memulai operasinya." jelasnya.


"Lakukan sesuka kalian, asalkan jangan menyentuh bagian tubuh ku yang lain." sambung gue.


"Tidak akan. Saya akan menjamin itu, Tuan." jawabnya.


"Baiklah..." ucap gue lalu berbaring di atas bangsal itu. Salah satu perawat itu melangkah kearah gue dan mulai menyuntikkan obat bius itu.


Gue hanya bisa diam saja, sampai gue tidak sadarkan diri dan tidak tau apa yang terjadi selanjutnya.


JESSICA POV*


Gue yang sedang beristirahat di kamar untuk sedikit menenangkan diri gue dengan berbaring di atas ranjang.


Mulai tadi gue memikirkan hal yang terlihat cukup aneh bagi gue. Hal aneh itu adalah sikap Marcel, saat sampai di hotel biasanya dia selalu berjalan dengan sangat santai. Tapi sekarang, dia terlihat sangat tergesa-gesa seperti ada sesuatu yang sedang Ia sembunyikan.

__ADS_1


Gue berusaha untuk tidak memperdulikannya, tapi semakin lama gue mengabaikannya semakin gue penasaran dengannya.


Gue sontak bangun dari posisi tidur gue, lalu menghela nafas panjang karna muak dengan pikiran gue yang selalu dipenuhi dengan Marcel.


Karna khawatir sekaligus penasaran dengannya, Gue akhirnya memutuskan untuk menemuinya. Walaupun hanya sebentar, yang penting rasa khawatir sekaligus penasaran gue bisa berkurang.


Gue akhirnya turun dari ranjang dan berjalan kearah pintu. Saat gue membuka pintu, kedua Pria yang mengantar kami pulang tadi sontak menengok dan menatap gue.


"Anda ingin pergi kemana, Nona?" tanya salah satu dari Pria itu.


"Bertemu dengan Tuan kalian." jawab gue.


"Maaf, Nona. Tuan sedang tidak ada di kamarnya." sambungnya.


"Lalu, dimana dia?" tanya gue.


"Dia sedang ada urusan di luar, Nona." jawabnya dengan pasti.


"Dengan siapa?" tanya gue lagi.


"Tuan Marcel bersama dengan Tuan Jordan sekretaris Pribadi Tuan." jawabnya tanpa ada rasa ragu sedikitpun.


"Hm...apa kalian berbohong?" tuduh gue.


"Tidak, Nona. Kami tidak mungkin berbohong dengan Nona." elaknya.


"Yasudah lah, kalau begitu apa kalian bisa menolong ku?" sambung gue.


"Menolong apa, Nona?" tanyanya.


"Aku ingin makan sesuatu, apa kalian bisa membelikan ku kue? pinta gue.


"Hm...tapi, Nona. Kami harus menjaga anda disini." sahutnya.


"Kalian kan ada dua orang, satu tugasnya jaga di depan pintu yang satu lagi belikan aku kue. Gimana?" saran gue.


Mendengar itu, mereka sontak saling menatap satu sama lain lalu kembali menatap gue.


"Baiklah, Nona. Mohon tunggu sebentar, anda silahkan masuk kembali." ucapnya.


"Oke...makasih." jawab gue dengan senyum bahagia, lalu menutup pintu gue lagi dan melangkah menuju ke sofa.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2