Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Tingkah Jessica Yang Berbeda


__ADS_3

Setelah selesai sarapan dan juga meminum obat dari Dokter, gue memutuskan untuk bersantai di sofa selagi menunggu Dokter datang untuk mengganti perban gue.


Tapi, saat gue benar-benar santai tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamar gue. dan untungnya saja orang itu adalah Jordan, bukan Jessica.


"Masuk!" sahut gue.


"Maaf mengganggu waktu anda, Tuan." ucapnya yang berdiri di samping gue.


"Ada masalah apa?" tanya gue.


"Ini masalah tentang Paman anda, Tuan." jawabnya.


Saat mendengar itu, gue langsung menoleh dan menatapnya terkejut, lalu bertanya. "Kenapa? apa yang di lakukan?"


"Dia mencari pembunuh bayaran lainnya, Tuan. Dia juga sudah bernegosiasi dengan pembunuh itu untuk membunuh orang tua anda. dan..." ucapnya yang tiba-tiba berhenti.


"Dan apa!!?" sahut gue.


"Malam ini adalah rencana mereka untuk menumbuh orang tua anda, Tuan." jawabnya.


Gue benar-benar terkejut dengan apa yang dikatakan Jordan. Anehnya, kenapa Pria itu memiliki keberanian untuk membunuh adik kandungnya sendiri. Padahal jumlah uang yang akan dia ambil hanya sedikit, tapi Ia memilih untuk membunuh seseorang yang seharusnya tidak pernah Ia bunuh.


Karna tindakannya yang sudah tidak bisa di maafkan lagi, gue memutuskan untuk menghukumnya dengan berat.


"Jordan..." panggil gue.


"Ada apa, Tuan?" sahutnya.


"Tarik kembali semua uang yang telah di investasikan, dan buat perusahaan itu hancur dalam 10 menit." perintah gue.


"Tapi, Tuan. Bagaimana dengan keluarga anda? Pasti mereka akan merasa sangat sedih jika perusahaan itu hancur." sambungnya.


"Tenang saja... perusahaan kecil itu tidak ada apa-apanya dibandingkan perusahaan besar yang akan Ia pimpin nantinya." ucap gue sambil menyeringai.


"Maksud anda, anda akan memberikan salah satu perusahaan yang anda rebut kepada orang tua anda?" tanyanya.


"Tentu saja tidak segampang itu. Kamu akan bermain peran menjadi Direktur utama dari perusahaan besar dan ingin mencari seorang pekerja yang memiliki kemampuan dalam memimpin suatu perusahaan." jawab Gue.


"Saya masih tidak mengerti dengan apa yang anda maksud, Tuan. Tidak mungkin ada orang yang ingin menyerahkan perusahaan tanpa ada impalan sedikitpun, kecuali...orang itu telah menyelamatkan nyawa si pemimpin perusahaan itu. Tapi, alasan itu tidak mungkin di gunakan di zaman sekarang. Itu sangat tidak masuk akal, Tuan." jelasnya.


"Lakukan saja perintahku! bagaimana pun alasannya nanti, itu adalah tugas mu." ucap gue.


"Tapi, Tuan—"

__ADS_1


"Aku tidak menerima kata tapi, Jordan..." potong gue sambil tersenyum kepadanya.


"Ba-baik, Tuan." jawab sambil menunduk.


"Kamu boleh pergi sekarang." ucap gue.


Jordan hanya menjawab dengan membungkukkan tubuhny sekilas, lalu berbalik dan melangkah keluar dari kamar gue.


Saat suara pintu yang tertutup baru saja terdengar, tiba-tiba ada suara pintu terbuka. Gue kira itu Jordan, gue langsung menengok ke belakang sambil bertanya. "Kenapa lagi...?"


"Elu!!?" sahut gue terkejut saa melihat Jessica yang melangkah kearah gue.


"Ngapain lu kesini? gue lagi sibu, tau!" ucap gue.


Bukannya menjawab pertanyaan gue, dia malah duduk di sebelah gue dengan santai lalu menatap gue sekilas.


"Sibuk ngapain? melamun?" tanyanya.


"Sok tau! mending lu keluar sana! gue gak mood ngobrol!" usir gue.


"Yaudah, gak usah ngobrol. gue mau nonton TV." ucapnya dan sontak mengambil remot TV yang ada di atas meja, lalu menyalakan TV itu.


"Kenapa nonton dikamar gue, sih!? dikamar lu juga ada TV, kan? apa bedanya coba!?" protes gue.


"Lah? itu kan Markas gue, jadi suka-suk gue lah." jawab gue.


"Nah...ini kan bukan hotel lu, jadi suka-suka semua orang lah." sambungnya.


Gue gak bisa berkata-kata lagi, gue akhirnya hanya bisa diam dan ikut menonton bersamanya. Entah film apa yang sedang Ia tonton, tapi sepertinya gue cukup familiar dengan adegan yang ada di film itu.


*Nah kan, bener dugaan gue. Pasti adegan itu.* batin gue.


Tapi disaat adegan itu mulai memanas, tiba-tiba saja Jessica mematikan TV itu dan melempar remotnya ke atas meja.


Gue yang melihat itu, hanya bisa menatapnya dalam diam. Tiba-tiba Jessica menatap gue dan berkata. "Apa, hah!!?"


"Lah? kok ngamok? makanya jangan pilih film sembarangan, dong. nyesel sendiri, kan?" ucap gue.


"Suka-suka gue lah!" jawabnya.


Gue tiba-tiba kepikiran satu ide untuk menjahilinya dan sedikit bermain dengan gadis itu. Gue sontak mendekatkan wajah gue ke telinganya, lalu berbisik. "Mau ngelakuin itu gak?" dan sedikit meniup telinganya.


Mungkin karna merasa geli, Jessica sontak mendorong gue dengan keras dan menatap gue dengan mata yang membulat besar karna terkejut.

__ADS_1


"Kenapa? mau coba? gue ahli loh." goda gue, lalu menggigit ujung bibir gue.


"Menjauh lu!!" teriaknya.


"Loh? kenapa? lu meragukan keahlian gue, ya? Padahal semua wanita suka sama permainan gue." ucap gue.


Tidak seperti yang gue harapkan, bukannya lari menjauh dari gue, dia malah terdiam dan menatap gue.


*Dia takut atau beneran mau nyoba, sih!? kesel juga liatnya.* batin gue.


Gue sontak mendekatinya, dan mendekatkan wajah gue ke wajahnya sambil menyeringai. Entah apa yang ada di pikirannya. Tapi, Jessica sama sekali tidak menjauh dari gue.


Karna tidak sesuai dengan rencana gue, gue akhirnya menjauh darinya dan duduk dengan santai sambil berkata. "Gak asik, ah..."


Tapi tiba-tiba saja Jessica mengecup bibir gue. Karna terkejut, gue sampai gak bisa berkata apa-apa dan menatapnya dengan mata yang membulat besar.


"Kenapa? katanya mau nunjukin keahlian lu?" sahutnya.


"Lu kerasukan setan, ya? Ini bukan kayak lu, sumpah!" sambung gue.


"Kayaknya iya, gue kerasukan setannya lu." jawabnya.


"Gue serius, anjir!!" geram gue.


"Gue juga serius, tuh." jawabnya santai.


*Gue harus ngapain? masa gue ngelakuin itu ke dia? kenapa gue jadi kayak gini, sih!!?* batin gue.


"Lu keluar! buruan keluar!!!" teriak gue.


"Kenapa? gak jadi? atau takut?" ucapnya.


*Anjir nih cewek! udah beneran gila, dia.* batin gue.


Tiba-tiba saja Jessic mendekati gue dengan senyum liciknya. Entah apa yang ada di pikirannya. Tapi, itu kayak bukan dirinya yang sebenarnya.


Gue yang dari awal memang mau mencoba tubuhnya. Tapi, kalau kayak gini ceritanya gu malah takut. Tambah lagi, gadis itu semakin mendekat dan gue sudah berada di pojok sofa.


Wajahnya yang semakin lama semakin mendekat, nafasnya yang terasa sangat hangat dengan bibir berwarna peach yang Ia miliki, hampir menyentuh bibir gue lagi.


dan tiba-tiba...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2