
Dikastil pun Jordan juga menyiapkan monitor yang lebih lengkap dari pada saat di mobil yang hanya menampilkan jalanan utama saja. Monitor yang ada di hadapan gue ini, menampilkan seluruh penjuru kota ini dan juga menampilkan seluruh isi rumah gue.
Kami berlima berkumpul di ruang pertemuan, tidak dengan Hendra yang harus menghandle bagian terpenting dalam misi ini. Ya...dia lah yang akan melakukan test kepada para korban, dan membuktikan bahwa gue sudah tewas.
"Para Wartawan sangat agresif, mereka lebih menyeramkan dari pada pada pembunuh." ucap Nella.
"Tapi mereka sangat berguna saat misi seperti ini." sambung Jordan.
Tiba-tiba saja ponsel gue berdering dengan keras, gue pun langsung mengambil ponsel dari dalam saku jas dan mengangkat telpon itu.
"Ada apa?"
"Malam ini aku tidak akan ke kastil, malam ini ada pesta untuk merayakan kelulusan kita."
"Dimana?"
"Hotel XX"
"Oh, hotel ku. Pergi saja, akan banyak penjaga yang mengawasi mu."
"Hotel mu? lagi? hampir semua hotel di sini itu milik mu? jangan bercanda."
"Jangankan hotel, Negara ini juga milik ku."
"Haah...terserah! aku sudah bilang kepada Madam, kalau aku tidak akan hadir kelas malam ini. Aku ingin berpesta."
"Lakukan sesuka mu, tapi jangan lupa membawa senjata mu. Itu lebih penting dari tas bemerek mu."
"Baiklah, sayang~ aku akan mengingat itu. Selamat malam~"
__ADS_1
Belum sempat gue menjawab salamnya itu, Ia langsung mematikan ponselnya.
"3 bulan ini dia sedikit menjadi wanita yang penurut." ucap gue sambil meletakkan ponsel itu di atas meja.
"Apa yang anda maksud adalah Nona?" tanya Jordan.
"Ya...entah apa yang Nella ajarkan kepadanya, tapi sifat dan sikap gadis itu cukup berbeda dari pertama kali aku bertemu dengannya."
"Saya hanya mengajarkan hal yang biasa di ajarkan kepada pemimpin Wanita lainnya." sambung Nella.
"Tapi, Tuan. Saya dengar, Nona akan berkuliah. Apa itu benar, Tuan?" celetuk Vernon.
"Untuk apa dia berkuliah? Tuan saja tidak berkuliah, membuat repot saja!" sahut Andre.
"Aku memang tidak berkuliah, tapi aku mendapat pelajaran di kasil. Dan lagi, kamu dan Jordan yang sibuk mencarikan ku seorang dosen untuk membantu ku dalam hal politik dan manajemen."
"Biarkan saja Carmelia berkuliah, semenjak Ia bisa membagi waktunya, itu tidak akan menjadi masalah kan? Aku yakin Nella sebagai seorang guru menyetujui pendapat ku ini."
"Benar kata Agnella, perusahaan milik Tuan bukan hanya satu, belum lagi gedung-gedung seperti hotel, apartemen dan yang lainnya. Walaupun setiap perusahaan sudah ada yang menghandlenya, tapi Tuan dan saya juga pasti membutuhkan bantuan jika ada masalah di perusahaan itu." sambung Jordan.
"Hey! kamu pikir aku disini tidak pernah membantu, walaupun aku hany seorang pengacara tapi aku sangat paham dengan politik dan keuangan." kesal Andre.
"Sudahlah, kenapa kalian bertengkar hanya karna gadis itu? padahal kita berkumpul untuk menjalankan misi, kenapa malah jadi pertengkaran?" heran gue.
"Dan kamu Andre, jangan bersikap seolah-olah kamu membenci gadis itu. Padahal kamu sangat peduli pada—"
"Tuan! Saudara anda telah tiba di lokasi." potong Vernon.
Mendengar itu, gue langsung menengok kearah monitor dan mencari keberadaan Rizky di lokasi kejadian itu. Dan benar saja, Rizky yang memakai jas berwarna abu-abu sedang berlari kearah garis polisi.
__ADS_1
"Apa Pria itu Saudara anda, Tuan?" tanya Nella.
"Ya, dia kakak ku."
"Dia sangat mirip dengan anda, Tuan. Terlihat sangat tampan." puji Wanita itu.
"Hm..." dehem gue sambil tersenyum kecil saat mendengar pujiannya.
Rizky terlihat sedang menelpon seseorang dengan pergerakan yang sangat gelisah. Ia tak henti-hentinya ingin menerobos masuk ke dalam garis polisi itu, tapi para polisi terus saja menghalanginya.
*Bisa-bisanya dia memukul tuh polisi.* batin gue.
"Dimana ambulannya? kapan mereka datang? ini sudah sangat lama setelah kejadian tadi." sahut gue
"Tuan, ini baru pukul 10.50 belum sampai 1 jam setelah kejadian tadi." ucap Jordan.
"Tenang, Tuan. Ambulan sedang dalam perjalanan ke sana." sambung Vernon.
"Bagaimana dengan orang tua ku? apa mereka sudah tau?"
"Sepertinya belum, Tuan. Mungkin yang lebih dulu tau adalah saudara anda, dan mungkin saja orang tua anda akan langsung kerumah sakit untuk melihat mayat anda." jelas Jordan.
"Haah...aku hanya berharap mereka tidak pingsan, terutama ibu ku."
"Saya harap anda tidak gegabah saat ada kejadian seperti itu." celetuk Andre.
"Tenang saja, aku akan bersikap seperti Marcel bukan Reyhan lagi."
Kami pun kembali memerhatikan layar monitor itu dengan seksama, dan sesekali berbincang mengenai apa saja yang telah di lakukan orang-orang di sekitar lokasi kejadian itu.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...