Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Pergi Bersama Dika


__ADS_3

Tanpa sadar gue sontak memejamkan mata gue dengan sangat kuat. Tapi, saat gue memejamkan mata, Jessica sama sekali tidak melakukan apapun.


Plak!


Tamparan yang tidak terlalu keras mengenai kedua Pipi gue secara bersamaan, gue sontak membuka mata gue dan menatap Jessica.


"Berharap apa lu sama gue, hah!?" sahutnya.


"Hah!? me-memang gue berharap apa? gak jelas, lu!" jawab gue dan langsung mengalihkan pandangan gue.


"Alah! pikiran lu pasti udah kemana-mana, kan?" duganya.


"Sok tau!! gue gak mikir apa-apa, tuh!" elak gue.


"Masa? tanyanya.


"Iya, anjir!!" geram gue.


"bodo!" jawabnya.


Gue yang mendengar itu, sontak menatapnya sekilas lalu berkata. "Tau ah, malas!"


"Udah kayak cewek aja, pakai ngambek segala." ejeknya.


"Serah!" ketus gue


"Dari pada lu ngambek, mending temenin gue yuk." ajaknya.


"Kemana?" tanya gue.


"Hm...kalau jalan-jalan gimana? ke mall kek atau ke taman, terserah aja. Yang penting gue gak gabut di hotel mulu." jawabnya.


"Gak bisa! ini siang, bukan malam. Belum waktunya gue keluar." sambung gue.


"Lah? kenapa? apa bedanya, sih? yang penting identitas lu gak ketahuan, kan!?" sahutnya.


"Gue tetap gak bisa! kalau lu mau pergi, pergi sama Dika aja. Nanti gue suruh Jordan ngasih lu kartu ATM gue." ucap gue.


"Gak!! gue maunya sama lu!!" tolaknya.


"Mau gimana pun lu maksa, gue tetap gak bisa! gue masih butuh waktu buat jadi Marcel di siang hari. Jadi, tolong pahami gue." jelas gue.


"Ah, terserah!!" ketusnya dan sontak berdiri.


"Mau kemana?" tanya gue.


"Bukan urusan lu!!" jawabnya, lalu melangkah pergi dari hadapan gue.


Gue yang melihat itu, hanya bisa menghela nafas panjang lalu menyandarkan tubuh gue ke sandaran sofa sambil menatap langit-langit dinding.


Tanpa sadar, gue malah memejamkan mata gue dan tertidur. Padahal, gue harus menunggu Dokter untuk mengganti perban gue.

__ADS_1


Baru berapa menit gue tertidur, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu gue. Gue langsung membuka mata gue dan menengakkan tubuh gue.


"Masuk!!" sahut gue.


"Maaf saya telat, Tuan." ucap Dokter itu.


"Tidak apa, cepat duduk." jawab gue.


Ia pun duduk di samping gue, dan mulai mengeluarkan peralatan medisnya. Selagi dia mempersiapkan alat-alatnya, gue melepaskan jas dan juga kemeja gue lau gue letakkannya di samping gue.


"Permisi, Tuan." ucapnya, lalu mulai melepas perban gue.


"Oh ya, Tuan. Apa anda tidak lupa untuk meminum obat yang saya berikan, Tuan?" tanyanya.


"Tidak, Jordan selalu mengingatkan ku untuk meminum obat dari mu." jawab gue.


"Baguslah kalau begitu. Tapi, ingat Tuan...anda tidak boleh terlalu banyak bergerak. Itu bisa membuat robekannya semakin besar." sambungnya.


"Iya, aku tau. Kemarin kamu juga sudah memberitahuku." jawab gue santai.


"Saya hanya mengingatkannya kembali, Tuan. Karna anda sangat sering lupa atau mengabaikan pesan saya."


"Ternyata kamu lebih cerewet dari pada Ibu ku."


"Terima kasih atas pujiannya."


"Terserah..." gumam gue.


"Oh ya, Tuan. Tadi saya sempat bertemu dengan Nona." ucapnya yang membuat gue sontak menengok kearahnya.


"Di depan lift, Tuan. Saat saya ingin keluar, dia baru ingin masuk kedalam lift bersama salah satu bawahan anda." jelasnya.


*Dika?* batin gue.


"Apa kamu tau dia pergi kemana?" tanya gue.


"Tidak, Tuan. Tapi, wajah Nona kelihatan sangat kesal tadi." jawabnya.


*Masa gara-gara gue gak mau nemenin dia pergi? gue kan punya alasan sendiri, makanya gak bisa nemenin dia.* batin gue.


"Hah..." hela nafas gue.


"Apa sakit, Tuan?" sahutnya.


"Tidak, tidak sama sekali." jawab gue.


"Oh ya, bagaimana dengan keadaan para bawahan ku yang ada di rumah sakit mu?" sambung gue.


"Semuanya cukup baik, Tuan. Semuanya sudah di pindahkan ke ruang rawat inap, dan ada beberapa yang sudah bisa kembali ke rumah." jelasnya.


"Baguslah..." jawab gue.

__ADS_1


Suasana kembali hening, Pria itu hanya fokus dengan pekerjaannya dan gue hanya berdiam diri sambil bersandar dengan sangat santai.


*Bagaimana dengan pekerjaan Jordan sekarang? apa dia sudah menyelesaikannya?* batin gue.


"Hah..." sekalai lagi gue menghela nafas panjang.


Tak lama kemudian Pria itu akhinya selesai mengganti perban gue. Setelah Ia merapikan alat-alatnya, Ia pun langsung pergi setelah gue mengizinkannya untuk pergi.


Sendirian di kamar hotel yang cukup luas, dan tidak tau harus melakukan apa. Kalau dirumah, gue pasti udah nonton TV bareng keluarga atau ngurung diri di kamar seharian dan belajar tanpa henti.


Dari pada bosan memandangi TV yang tidak menyala, gue akhirnya memutuskan untuk tidur di ranjang. Karna gue tau, Jordan pasti kembali saat malam dan Jessica entah kapan Ia akan kembali.


Awalnya gue memang bisa tidur, tapi setelah beberapa meni. Anehnya, pikiran gue teralihkan ke Jessica. Entah ada masalah apa dengan gadis itu, tapi perasaan gue mulai gak enak saat memikirkannya.


JESSICA POV*


Karna Marcel gak mau nemenin gue jalan-jalan, gue akhirnya mengajak Dika untuk ke taman yang tida jauh dari Hotel.


Awalnya semuanya baik-baik saja. Gue malah santai-santai aja jalan sama Dika, beli minuman dingin dan juga makanan yang di jual di dekat taman itu.


Dika juga kelihatan santai, tanpa ada rasa waspada sama sekali. Tapi, tentu saja dia selalu menempel sama gue. Gue ke toilet umum saja, dia sampai menjaga di depan pintu toilet itu. Sampai-sampai membuat pengunjung taman takut, karna wajahnya yang cukup seram ditambah lagi ada bekas luka di pipinya.


Tapi, di saat gue ingin sedang berjalan menuju kursi taman untuk beristirahat. Tiba-tiba gue ngerasa seperti ada seseorang yang sedang mengikuti gue dari belakang, bukan hanya itu...gue ngerasa ada banyak orang yang sedang mengamati gue di sekeliling taman itu.


"Dika..." panggil gue pelan.


"Ada apa, Nona?" tanyanya.


"Aku merasa ada yang mengikuti dan mengintai kita." bisik gue.


"Hm...tenang saja, Nona. Tidak akan ada yang berani menyentuh anda." jawabnya.


"Ya...aku percaya padamu." ucap gue.


"Silahkan duduk, Nona." sambungnya.


"Terima kasih." jawab gue, lalu duduk di kursi. Sedangkan Dika, Ia hany berdiri di samping gue.


"Fiiuuh...udara taman memang segar. Tapi, terlalu panas." keluh gue.


"Apa kita pindah saja, Nona? agar anda tidak terkena sinar matahari." tawarnya.


"Tidak perlu, aku ingin disini saja. 5 menit saja, setelh itu kita kembali ke Hotel." tolak gue.


"Baiklah, Nona." jawabnya.


Setelah 5 menit, Gue pun langsung berdiri dan berkata. "Kita kembali sekarang." lalu melangkah pergi menuju mobil milik Dika.


Tapi, saat gue ingin masuk ke dalam mobil. Tiba-tiba saja ada seseorang yang menembakkan peluru kearah gue. untungnya saja, Dika langsung mendorong gue masuk ke dalam mobil.


"Siapa itu?" tanya gue.

__ADS_1


"Maaf, Nona. Ada seseorang yang seharusnya tidak berada disini. Anda tunggu di dalam sebentar, saya akan menyelesaikan masalah ini." ucapnya dan sontak menutup pintu mobilnya.


Bersambung


__ADS_2