
Setelah malam yang panjang sambil berbincang dengan Jordan, makan malam dan juga meminum obat dari Dokter. Gue baru bisa tertidur tepat pada pukul 5 pagi, tentu saja sebelum tidur gue mengganti pakaian gue lebih dulu, dan meletakkan jas gue di samping ranjang.
Tapi...baru saja beberapa menit gue tertidur, tiba-tiba ada suara keributan dari luar kamar gue. Karna gue yang sangat lelah, gue memilih untuk membiarkan seseorang yang sedang membuat keributan itu dan melanjutkan tidur gue.
Tapi keributan itu tak kunjung berhenti, semakin lama semakin membuat gue muak, dan memilih untuk membuka mata lalu bangun dari posisi tidur gue.
"Kapan aku bisa tidur nyenyak?" keluh gue lalu turun dari ranjang, dan berjalan kearah pintu.
Saat gue membuka pintu, Jordan dan para bawahan gue yang lainnya sontak menatap ke arah gue.
"Ada apa, ini?" sahut gue sambil menyenderkan tubuh gue ke pintu.
"Maaf karna telah menggangu tidur anda, Tuan." ucap Jordan sambil menunduk.
"Tidak apa...beritahu aku ada masalah apa sampai-sampai kalian membuat keributan didepan kamar ku?" tanya gue.
"Ini, Tuan." sambung Dika yang sedang memegang seorang Pria.
Saat melihat Pria itu, gue benar-benar di buat terkejut dengan siapa yang gue lihat di depan mata gue.
*Kenapa Paman bisa disini?* batin gue.
*Oke...tenang dulu, bersikap seperti Marcel.* batin gue lagi.
"Siapa Pria itu? ada urusan penting apa, sampai berani mengganggu tidur ku?" tanya gue.
"Dia adalah—"
Sebelum Jordan melanjutkan jawabannya, gue sontak mengangkat tangan setinggi bahu gue, yang berarti menyuruh Jordan untuk berhenti berbicara.
"Biarkan dia yang berbicara." ucap gue sambil menurunkan tangan gue.
"Maaf, Tuan." jawabnya.
"Katakan, apa yang kamu ingin kan?" tanya gue.
"Lepaskan tangan saya dulu." ucapnya.
Saat mendengar itu, Dika sontak menatap gue dan gue hanya menganggukan pelan. Pria itu pun langsung melepas paman gue.
"Saya ingin menawari anda pekerjaan." ucap Pria itu.
"Pekerjaan? apa?" tanya gue.
__ADS_1
"Saya ingin...anda membunuh adik saya." jawabnya sambil menyeringai, tapi membuat gue sangat terkejut.
*Adik? Bukannya adiknya cuma Bokap gue? kenapa? apa ada masalah lagi di kantor? tapi...bukannya Jordan udah jadi investor buat perusahaannya?* batin gue yang di penuhi dengan banyak pertanyaan.
"Apa alasan mu? kenapa aku harus membunuh adik mu?" tanya gue
"Karna saya ingin perusahaan yang di bangun orang tua saya, menjadi milik saya dengan utuh tanpa ada pembagian pendapatan lagi." jawabnya.
*Nih orang tua kok ngelunjak? kalau bukan karna gue, tuh perusahaan udah bangkrut, anjir!!* batin gue.
"Aku tidak akan menerima bayaran dengan jumlah kecil." sahut gue.
"50 juta! aku akan membayar 50 juta di awal, dan setelah berhasil...aku akan membayar 3 kali lipat dari itu." angkuhnya.
"Cih! bawa dia pergi!!" perintah gue.
"Ti-tidak! saya akan membayar lebih dari itu, tolong bantu saya!!" teriaknya saat Dika dan 2 bawahan lainnya menahannya.
"Dengarkan! kamu sedang berbicara dengan pemimpin Mafia, dan kamu malah menawari pekerjaan dengan jumlah yang sangat kecil? apa kamu sedang mempermainkan ku!!?" geram gue.
"Hah...buang-buang waktu saja, seret dia pergi!! perintah gue, lalu berbalik.
Sebelum gue menutup pintu, gue sontak menengok kearah Jordan dan berkata. "Masuk, dan tutup pintunya!" lalu melangkah menuju ranjang gue.
"Apa kamu tau Pria itu?" tanya gue.
"Tentu saja, Tuan. Dia kakak dari Ayah anda sekaligus direktur utama dari perusahaan yang di bangun oleh Orang Tua Ayah anda." jelasnya.
"Ya...tapi kenapa dia ingin membunuh adik kandungnya sendiri?" sambungan gue bingung.
"Dalam persaudaraan wajar jika ada hal seperti itu, Tuan. dan lagi, perusahaannya tidak termaksud perusahaan besar di kota ini. Manusia terkadang memang tidak memiliki kepuasan dalam hidupnya, Tuan." ucapnya.
"Bagaiman jika Pria itu nekat untuk membunuh orang gue ku? apa yang bisa ku lakukan? aku tidak bisa menghukum Pria itu jika menjdi Marcel, kelurga ku akan tau jika aku seorang Mafia." racau gue.
"Apa saya harus menarik kembali investasi yang telah di tanam di perusahaan itu? agar Pria itu tidak berpikir untuk membunuh orang tua anda, karna masih membutuhkan bantuan dari keluarga anda." saranya.
"Tidak! itu sama saja membuat keluarga ku sengsara, karna harus mencari jalan keluar untuk perusahaan yang hampir bangkrut."tolak gue.
"Sekarang tugas mu untuk memantau Pria itu, jika ada hal yang mencurigakan langsung beritahu aku. dan... perintahkan 2 orang untuk menjaga orang tua ku kemana pun Ia pergi." perintah gue.
"Baik, Tuan. Saya akan berusaha untuk memastikan orang tua anda tetap aman." jawabnya.
"Tentu saja, kalau perlu jaga mereka seperti kalian menjaga ku." sambung gue.
__ADS_1
"Baik, Tuan." jawabnya.
"Kalau begitu, keluarlah. Aku ingin beristirahat, nanti kita bicarakan lagi." ucap gue.
Jordan hanya menjawab dengan menundukkan kepalanya saja, lalu berbalik dan melangkah pergi dari hadapan gue.
Akhirnya gue bisa kembali berbaring, dan melanjutkan tidur gue yang sempat di ganggu.
***
JESSICA POV*
Gue baru aja bangun dari tidur gue, dan langsung mengecek jam di ponsel yang ada di samping lampu tidur. Saat gue menyalakan ponselnya, gue baru sadar kalau itu bukan ponsel gue.
"Hah...ponsel gue kan ada di dalam tas." gumam gue.
Gue baru menyadari sesuatu yang membuat gue terkejut dan sontak bangun dari posisi tidur gue.
"Tas gue kan di markas!!" teriak gue, dan bergegas turun dari ranjang dan berlari ke arah pintu sambil memegang ponsel milik Marcel.
Saat membuka pintu, gue sudah di sambut dengan wajah-wajah para gengster yang membuat gue terkejut, karna ekspresi mereka yang menatap gue benar-benar menakutkan.
"Selamat pagi, Nona." sapa Jordan.
"Pa-pagi." balas gue.
"Jordan, ini jam berapa?" tanya gue.
"Hm...ini sudah pukul 9 pagi, Nona. Ada apa? apa anda ingin sarapan?" tawarnya.
"Saya akan sarapan nanti saja, saya ingin bertanya...tas saya ada dimana, ya? dan...baju yang harus saya pakai hari ini?" tanya gue.
"Tas dan pakaian anda ada di atas meja, Nona. Saya sudah meletakkan sebelum anda terbangun." jawabnya.
"Apa ada yang anda butuhkan lagi, Nona?" tanyanya.
"Hm...tidak ada, saya akan mengganti pakaian sekarang." jawab gue.
"Baik, Nona." ucapnya sambil menunduk.
Gue pun menutup pintu kamar gue, lalu berbalik dan meangkah dengan cepat menuju ke meja yang ada di depan sofa.
"Hah...gue udah kira ponsel gue hilang." gumam gue lalu duduk di sofa, dan mengambil tas gue.
__ADS_1
Bersambung