Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
S2. Tea Party


__ADS_3

Sore hari di taman dengan para Wanita yang berkumpul di satu meja yang sama sambil berbincang bersama dengan sebuah Teh dan beberapa cemilan yang menemani mereka.


Awal dari Tea Party ini berjalan sesuai dengan apa yang aku rencanakan. Para Wanita itu sangat menyukai apa yang telah disiapkan, mereka juga berkali-kali memuji taman yang sengaja di hias untuk Tea Party ini. Dan tentu saja, aku tak sungkan-sungkan membanggakan diriku yang telah mengatur taman ini sesuai apa yang aku inginkan, walaupun sebelumnya sempat ada perdebatan kecil dengan Marcel. Karna Ia tidak ingin tempat yang selalu Ia gunakan dengan Ibunya, di ganggu dan diganti tanpa ijin darinya.


Aku yang juga tidak tega menghapus kenangannya bersama Sang Ibu, akhirnya aku membiarkan meja dan kursi yang selalu Ia gunakan dulu, dan juga tetap menanam bunga yang disukai Ibunya.


Karna awal Tea Party ini berjalan dengan lancar, aku jadi sedikit santai sambil mendengarkan cerita para Wanita itu. Tapi, awal yang lancar itu tidak berjalan cukup lama. Salah satu dari Wanita itu, tiba-tiba menyinggung masala Putrinya yang sudah bisa membaca dan berlari dengan lancar.


Gara-garanya Wanita itu, Wanita lainnya pun ikut menceritakan mengenai Putra Putri mereka. Sedangkan aku dan Bella, hanya bisa diam dan mendengar ocehan mereka sambil menyeduh teh dengan santai.


*Omong-omong soal anak, apa sekarang Marcel sedang bermain dengan Felix? atau Ia malah menyuruh anak itu pergi?* batin ku.


Tiba-tiba saja salah satu para wanita itu berkata. "Dari pada itu, apa Tuan Anggara masih belum berhasil menumbuhkan benih di dalam rahim Nyonya Anggara?"


Karna perkataan wanita itu, aku yang sedang menyeduh teh langsung tersedak dan membuat ku terbatuk-batuk. Bella dengan cepat mengambil cangkir teh yang masih ku genggam dan memberikan ku saputangannya.


"Hei!! cepat ambilkan air mineral untuk Nyonya," perintah Bella kepada pelayan.


*Ah! rasanya aku ingin mencekik leher Wanita itu,* batin ku yang masih sedikit batuk sambil membersihkan teh yang ada di wajah ku denga sapu tangan milik Bella.


Untungnya para pelayan cukup gesit mengambilkan ku air mineral, dan aku langsung meneguk air itu dengan perlahan. Setelah merasa cukup membaik, akupun meletakkan gelas itu ke atas meja dan memberikan sapu tangan yang basah itu kepada pelayan.


"Cuci bersih sapu tangan itu, dan berikan kembali kepada Nona Bella," perintah ku.


"Baik, Nyonya," ucap pelayan itu lalu pergi.


"Ehem,ehem... maaf telah membuat anda khawatir. Saya benar-benar terkejut dengan perkataan anda, Nyonya— Hm... maaf, saya lupa nama anda. Apa anda bisa memperkenalkan diri anda lagi?" ucap ku sambil tersenyum manis kepadnya.

__ADS_1


Aku bisa melihat jelas, wajah yang merasa kesal bercampur dengan takut, karna tak berani melawan ucapan ku. Ia pun langsung berdiri dan memperkenalkan dirinya lagi.


"Oh...baik, terimakasih atas perkenalannya, Nyonya Tara."


"Saya sangat berterimakasih dengan kekhawatiran anda dengan Suami saya yang masih tidak berhasil itu, hahaha.... Saya juga mulai bertanya-tanya, kapan ya saya bisa memiliki Putra Putri saya?"


"Tenang saja, Nyonya. Pasti anda akan di karuniai Penerus yang sangat hebat. Saya sangat menunggu penerus keluarga Anggara," cetus Wanita lainnya.


"Benar, Nyonya. Saya benar-benar minta maaf atas ucapan saya yang kurang mengenakkan itu, tapi saya tidak bermaksud menghina anda," timpal Nyonya Tara.


"Hahaha...saya tau anda tidak bermaksud menghina saya. dan lagi, mana mungkin anda berani menghina saya," sindir ku.


"Ha-ha-ha...be-benar, Nyonya," jawabnnya dengan wajah masamnya.


*Kau duluan yang memulainya, jadi kau sendiri yang harus mengakhirinya,* batin ku.


"Tapi, Nyonya. Bagaimana anda bisa memiliki seorang cucu, jika anda tidak membiarkan Putra anda menikah?" tanya salah satu Wanita itu.


"Saya tidak melarang untuk menikah, tapi saya hanya membatasi Para Wanita untuk mendekatinya. Saya hanya tidak ingin Ia bertemu dengan Wanita yang buruk."


Tapi, Nyonya. Bagaimana jika bukan seorang Putra, melainkan Putri?" tanya Wanita lainnya.


"Hm...jika seorang Putri, mungkin aku tidak akan menahannya untuk dekat dengan seorang Pria," jawab ku. Aku bisa melihat dengan jelas wajah bahagia mereka yang memiliki seorang Putra.


*Cih! tidak akan pernah kubiarkan salah satu dari Putra kalian menikah dengan Putri ku!* batin ku.


"Ehem, ehem... anda memang Calon Ibu yang baik, Nyonya. Saya jadi menantikan Putri anda itu."

__ADS_1


"Hahaha....tentu saja, aku tidak ingin Putri ku mendapatkan peraturan bodoh yang mewajibkannya untuk menikah dengan seseorang yang lebih berkuasa. Benarkan Nyonya Tara?" sindir ku.


Wajah Wanita itu terlihat dengan jelas bahwa Ia terkejut dengan apa yang aku katakan, Ia juga sempat terdiam sebentar. Setelah aku memanggil namanya sekali lagi, Ia langsung berkata. "B-benar, Nyonya. Ki-kita tidak boleh memperlakukan anak seperti itu, haha..."


"Astaga! saya lupa, saya masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan," timpalnya, lalu bangun dari posisinya.


Melihat Ia berdiri, aku langsung berkata. "Eh? secepat ini? padahal kita Baru saja memulainya."


"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Nyonya. Ada hal mendesak yang harus saya urus, lain kali saya tidak akan pergi secepat ini."


"Haah... baiklah, biar saya pangilkan pengawal ku untuk mengantar anda," tawar ku.


"Tidak perlu, Nyonya. Saya akan pergi dengan pengawal saya saja," tolaknya.


"Kalau begitu, saya ijin undur diri kepada Nyonya Anggara dan Nyonya-Nyonya lainnya," lanjutnya sambil menunduk.


Tanpa basa-basi lagi, akupun mengijinkannya untuk kembali lebih awal dengan pengawalnya sendiri. Setelah Wanita itu pergi, sekarang tidak ada lagi perbincangan mengenai Putra Putri merek.


*Akhirnya bisa tenang,* batin ku sambil mengangkat cangkir teh ku dengan tersenyum tipis.


Kami sekarang, malah membicarakan mengenai politik dan masa depan Dunia ini. Mereka juga sesekali meminta saran kepada ku mengenai masalah yang mereka hadapi di negaranya. Tentu saja aku memberikan saran dengan senang hati.


Dari pada perbincangan yang tidak bermutu dan hanya membicarakan penerus, aku lebih menyukai perbincangan mengenai politik. Bukannya aku tidak ingin memiliki penerus, aku juga ingin memiliki Putra/Putri dari rahim ku sendiri. Tapi, Marcel sepertinya masih belum menginginkan hal itu. Dan aku sebagai Istrinya, tidak bisa berbuat apapun dan hanya bisa menunggu saja sambil sesekali menyindir masalah Penerus kami.


*BERSAMBUNG


Mari kita menebak, mengenai penerus keluarga Anggara yang baru. Bisa tebak, Putra atau Putri yang akan jadi penerus Keluarga Anggara? dan apa alasan Marcel yang sampai sekarang masih tidak menginginkan seorang Penerus?

__ADS_1


Jawab di Kolom Komentar ya ⬇️*


__ADS_2