
Tepat pada pukul 18.00 gue yang sudah memakai pakaian gue, sambil memegang ponsel. Gue pun keluar dari kamar itu.
"Selamat malam, Tuan." sapa Jordan sambil menunduk.
"Malam." balas gue setelah menutup pintu rapat-rapat rahasia itu.
Gue langsung melangkah menuju mobil dan diikut oleh Jordan. Gue pun masuk kedalam mobil setelah Jordan membukakan gue pintu.
"Selamat malam, Tuan." sapa supir itu.
"Malam." balas gue.
"Jalan!!" perintah gue setelah Jordan sudah berada di dalam mobil.
"Kemarina senjata ku." sahut gue.
"Ini, Tuan." jawab Pria itu sambil memberikan senjata gue.
"Apa ada pekerjaan malam ini, Jordan?" tanya gue sambil memainkan pintol gue.
"Ada, Tuan. Pria konglomerat, meminta anda untuk membunuh musuhnya." jawab Jordan.
"Pria mana lagi? terlalu banyak Pria yang berurusan dengan ku."
"Pria pemilik kapal pesiar yang selalu dipakai untuk berjudi, menjual para gadis, dan hal lainnya. Apa anda lupa, Tuan?"
"Oh...Pria gendut itu?"
"Ya...tepat sekali, Tuan."
"Berapa dia akan membayar ku?"
"100 miliyar, Tuan. Dia akan memberikan uang itu, jika anda menerima tawaran ini."
"Oh ya? Bagaimana kalau aku menolaknya?" sambung gue sambil menyeringai.
"Itu terserah anda saja, Tuan. Hanya menolak 1 saja, itu tidak akan membuat anda rugi." jawab Jordan.
"Hah...baiklah, aku juga ingin bersenang-senang malam ini. Katakan pada Pria gendut itu, aku menerima tawarannya. dan tunjukkan kepada ku identitas Pria yang akan di bunuh." ucap gue.
"Baik, Tuan." jawabnya.
*Apa misi kali ini, gue gak ussh bawa tuh bocah? tapi kalau gak dibawah, dia mau ngapain di markas?* batin gue.
"Hah..." hela nafas gue.
"Apa ada masalah, Tuan?" sahut Jordan.
"Tidak ada." jawab gue.
Tak lama kemudian, akhirnya kami pun sampai di markas. Setelah keluar dari mobil, gue pun melangkah masuk menuju markas.
"Selamat malam, Tuan." sapa para bawahan yang melihat gue datang.
Gue hanya melewati mereka saja, dan terus berjalan menuju kamar Jessica.
__ADS_1
Saat sampai di depan kamarnya, gue langsung membuka pintu itu tanpa mengetuk ataupun meminta izin kepadanya.
"Astaga!! kaget!!" sahutnya yang sedang duduk di kursi santai.
"Alah lebay, lu." ucap gue sambil melangkah masuk.
"Ngapain lu kesini? ruangan lu kan disebelah." tanyanya.
"Gue cuma mau nanya, lu mau ikut gak?"
"Ikut kemana?"
"Ada yang harus di bunuh, ikut gak?"
"Ikut aja, gue gak tau harus ngapain kalau disini sendirian."
"Yaudah, lu buruan ganti baju."
"Gue keluar dulu."
"Oke."
Gue pun melangkah keluar dari kamarnya, dan berjalan turun untuk berkumpul dengan bawahan gue yang lain.
"Selamat malam, Tuan." sapa mereka sambil menunduk.
"Malam." jawab gue setelah duduk di kursi.
"Malam ini kita mendapatkan tugas untuk membunuh seseorang. Siapa yang ingin ikut bersama ku?" tawar gue.
Semua bawahan gue mengangkat tangan mereka, tanpa terkecuali.
"Hah...turunkan tangan kalian!" perintah gue.
"Aku akan mengajak 3 orang dari tim Junior, 4 orang dari tim senior, dan yang terakhir 6 orang bawahan pribadi ku." ucap gue.
"Baik, Tuan." jawab mereka semua.
"Jordan akan memberitahu siapa Pria itu, aku akan keatas lebih dulu. Setelah aku turun, aku mau kalian sudah siap." sambung gue, lalu berdiri.
"Baik, Tuan." jawab mereka, dan gue pun berjalan menuju kamar Jessica.
Gue langsung menerobos masuk kedalam kamar gadis itu sambil berkata. "Lu kok lama banget, sih?!!"
"Woi!!! gue masih pakai baju!!!" teriaknya sambil menutupi tubuhnya dengan kemeja yang ada di tangannya.
"Apaan sih?!! Lu hobi banget teriak-teriak, lagian cuma kayak gitu doang lu teriak-teriak. Lebay banget lu." ucap gue sambil duduk di kursi santai gadis itu.
"Cuma kata lu?!! ini harta gue, kok lu seenaknya ngeliat-ngeliat. Tuh mata mau gue colok, hah?!!" geramnya.
"Alah...harta apaan? kayak gitu doang gak ada apa-apanya, gue sampai bosan ngeliat tubuh cewek. Apalagi cewek kayak lu, membosankan." sambung gue.
Tiba-tiba saja ada bantal yang mengenai wajah tampan gue.
"Keluar loh!!" teriaknya.
__ADS_1
"Lu yang lempar?" tanya gue.
"Iya, kenapa?!! Mau marah, hah?!!" geramnya.
Karna kesal, gue sontak berdiri dan menghampiri gadis itu sambil menatapnya tajam.
"Lu mau apa, hah?!!" teriaknya.
Gue tidak memperdulikan teriakannya itu, gue malah sontak mendorongnya ke atas ranjang sampai Ia terbaring, dan gue langsung naik di atas ranjangnya tepat di atas gadis itu.
"Lu ma-mau apa?" tanyanya yang mulai ketakutan.
Tanpa memperdulikan pertanyaannya, gue sontak mendekatkan wajah gue ke leher gadis itu. Gue bisa lihat, Jessica yang menutup rapat-rapat matanya dan juga bibirnya.
*Lu pikir gue mau nyium lu?* batin gue sambil tersenyum licik.
*Yaudah lah, dari pada cuma pikiran, mending di coba.* batin gue lagi dan sontak mencium leher gadis itu, sampai meninggalkan bekas.
*Kok dia gak bersuara, sih?* batin gue dan sontak berhenti, lalu menatap gadis itu.
"Woi!!" panggil gue.
"Mati lu, hah?!!" tanya gue.
Jessica sontak mendorong gue dengan sangat kuat, karna gue lengah gue sampai turun dari ranjangnya.
"Lu memang mau kena, hah?!! berani banget dorong-dorong gue!!" geram gue.
"Lu ngapain, sih?!! lu apain leher gue, hah?!!" teriaknya.
"Liat sendiri lah." jawab gue sambil menyeringai.
Jessica sontak berdiri dan melangkah menuju meja riasnya, lalu melihat lehernya dengan jelas.
"Lu gila, ha?!!!" teriaknya dengan sangat keras sambil menatap gue tajam.
Sangking kerasnya teriakan tuh cewek, sampai-sampai membuat Jordan dan beberapa bawahan menerobos masuk ke dalam kamar itu.
Gue sontak menengok ke belakang, dan bertanya. "Kenapa masuk?"
"Kami mendengar suara teriakan, Tuan. Apa ada masalah, Tuan?" tanya Jordan.
"Tidak ada, cepat keluar!!" perintah gue.
"Baik, Tuan." jawab mereka lalu kluar dari kamar itu dan menutup pintunya kembali.
"Buruan pakai baju, lu." ucap gue.
"Lu kenapa selalu seenaknya, sih?!! lu udah berani memerintah gue, dan sekarang lu malah berani nyentuh gue. Lu itu manusia paling gak bemoral!!" geramnya.
"Gue anggap itu pujian, sekarang cepat pakai baju. Gue gak bakal mengelungi kata-kata gue lagi!!" tegas gue dan sontak berbalik.
"Lu tau gak?! udah 18 tahun gue jaga tubuh gue ini biar gak di sentuh cowok brengsek kayak lu, tapi sekarang?!! lu bikin semua usaha gue sia-sia!!" teriaknya.
Gue yang mendengar itu, sontak berbalik dan menatap gadis itu serius.
__ADS_1
Bersambung