Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
S2. Pria misterius


__ADS_3

Setelah melihat wajah Pria itu, Carmelia hanya terdiam dan mematung dengan masih menatap ke luar mobil. Agnella yang merasa ada yang aneh dengan Wanita itu, Ia langsung meminta sang supir untuk menaikkan kembali skatnya.


"Nyonya, Nyonya!" panggil Agnella berusaha membuat Carmelia sadar. Tentu saj Carmelia langsung tersadar, tapi Wanita itu malah terlihat gelisah setelah melihat Pria misteris tadi.


"Agnella, kita harus kembali ke kastil sekarang! kita harus meninggalkan tempat ini secepat mungkin!!" perintah Wanita itu.


"Nyonya, ada apa? apa anda mengenal Pria tadi? siapa dia, Nyonya?"


"Tidak, tidak mungkin Pria yang sudah menghilang bertahun-tahun tapi tiba-tiba muncul dihadapan ku! tidak mungkin, itu tidak mungkin terjadi!" racau Carmelia yang membuat Agnella khawatir dengan keadaannya.


Agnella dengan cepat mengetuk skat itu lalu bertanya. "Apa kita bisa putar balik sekarang?"


"Maaf, Nyonya. Keadaan sekarang tidak memungkinkan untuk kita bergerak sedikitpun, kita bisa saja di serang secara brutal oleh pembunuh itu."


Tiba-tiba saja Carmelia berteriak. "TIDAK!! KITA HARUS KEBALI SEKARANG!!"


"Nyonya, tenanglah. Anda harus tenang, Nyonya. Tenangkan diri anda," kata Agnella sambil mengelus punggung Wanita itu.


"Hubungi Marcel sekarang, cepat hubungi dia!!" geram Carmelia yang mencengkram lengan Agnella dengan dangat kuat.


Agnella hanya bisa menahan sakit sambil menganggukkan kepalanya, lalu Ia dengan cepat mengambil ponselnya dan berusaha untuk menghubungi Andre. Tapi, tidak ada satupun jawaban dari sang suami. Tentu saja Ia tidak menyerah, Ia langsung menghubungi Marcel dengan harapan Tuannya menjawab telponnya.


Setelah menelpon Marcel berkali-kali, dan akhirnya...


"Halo, ada apa? kenapa kau menelpon ku terus?"

__ADS_1


"Tu-tuan! Tuan tolong! tolong kami, Tuan!!"


"Eh? ada apa? kalian kenapa? apa ada masalah?"


"Ada yang menyerang kami saat kami sedang dalam perjalanan menuju ke tempat tinggal keluarga kandung anda."


"APA MAKSUD MU!!? KENAPA KALIAN KE SANA!!? APA KALIAN LUPA DENGAN PERINTAH KU*!!?"


"*Saya tidak akan memohon ampun kepada anda, karna saya memng berhak untuk di hukum. Tapi, akan lebih baik anda kmebali ke Itali sekarang, Hendra dan Vernon sudah lebih dulu bertarung di luar sana."


"Kenapa mereka berdua sampai turun tangan? bukannya ada delapan bawahan pribadi ku? merek sudah cukup untuk menghabisi para pembunuh bayaran!"


"Saya juga tidak tau pasti dengan apa yang terjadi di luar sana, tapi sepertinya ini bukan hanya pembunuh bayaran saja, ada seseorang yang lebih kuat di luar sana."


"Tapi— ah!! baiklah, aku akan kembali sekarang. Jaga Istri ku dengan baik! jangn sampai dia terluka, dan pastikan diri kalian juga tidak terluka, karna hanya aku yang boleh melukai kalian, ingat itu*!!"


"Bagaimana? apa Marcel akan kesini?" cetus Carmelia.


"Iya, Nyonya. Mohon untuk bersabar, dan tolong tenang kan diri anda."


Carmelia mulai mengatur pelan nafasnya dengan bantuan Agnella, Agnella juga tak lupa memberikan air mineral kepada Carmelia berharap wanita itu bisa sedikit tenang.


Walaupun mereka tidak bisa melihat situasi di luar sana, tapi mereka bisa mendengar suara tembakan dan juga suara bom yang beberapa kali di ledakkan di sekitar mereka.


*Aku tidak peduli akan kematian ku sendiri, tapi aku takut bayi ku ikut mengalami hal buruk karna ku. Aku tidak ingin itu!* batin Carmelia yang masih merasa gelisah.

__ADS_1


"Agnella, apa kau punya pulpen dan kertas?" tanya Carmelia.


"Ada, Nyonya. Di tas saya selalu ada kertas dan pulpen, tapi untuk apa?"


"Berikan saja kepada ku, cepat!"


"Ba-baik." Agnella pun mengambil tasnya dan dengan cepat mengeluarkan selembar kertas dan juga pulpen, lalu memberikannya kepada Carmelia.


Carmelia mulai menulis sesuatu di atas kertas itu, tapi Ia tidak membiarkan Agnella untuk melihat apa yang Ia tulis. Setelah beberapa menit, Ia pun mengulung kertas yang telah ia gunakan itu dan mengambil senjata utamanya.


Agnella merasa bingung dengan apa yang dilakukan wanita itu, Ia menggulung kertas itu dan memasukkannya ke dalam lubang pistol tempat peluru keluar jika di tembakkan.


"Nyonya, apa yang anda lakukan? apa yang anda tulis di kertas itu? kenapa anda menyumbat senjata ada sediri?" heran Agnella.


"Dengarkan aku baik-baik, pistol ini harus sampai di tangan Marcel dan beritahu dia untuk melihat kertas yang aku tulis itu," kata Carmelia sambil memberikan senjata miliknya kepada Agnella.


"Apa maksud anda, Nyonya?"


"Aku tidak yakin aku masih akan hidup hari ini, tapi jika aku tetap hidup aku akan sangat bersyukur kepada Tuhan, tapi jika tidak. Aku tidak akan marah, Karna ini memang kesalahan yang ku perbuat. Tapi tentu saja aku akan menyesal karna tidak mendengarkan kalian dan juga Marcel, aku benar-benar minta maaf atas kesalahan ku." Carmelia menatap Agnella dengan wajah yang serius sambil memegang kedua tangan Agnella.


"Anda akan tetap hidup, Nyonya. saya berjanji untuk tetap memastikan Anda selamat sampai Tuan datang, saya juga—"


"Hust! Kamu harus tetap hidup Agnella, karna ada Felix yang sedang menunggu mu. Dan berjanji lah untuk menjaga anak ku seperti kau menjaga Felix," potong Carmelia.


"Jadi, ingat apa yang kukatakan kepada mu, dan—"

__ADS_1


"NYONYA, BERLINDUNG!!" teriak sang supir yang memotong perkataan Carmelia, dan membuat Agnella dan Carmelia terkejut.


BERSAMBUNG


__ADS_2