
Tak terasa, sudah seminggu berlalu setelah sumpah yang gue lakukan kepada Jessica. Setelah sumpah itu, Gue gak pernah berani buat memerintah dia ataupun melawan ucapannya.
Gue selalu mengikuti perintahnya, entah di disekolah ataupun di Markas. Setiap gue ingin melawan perintahnya, selalu ada saja yang menghalangi gue. Dan orang itu adalah Jordan, yang selalu mengingatkan gue tentang sumpah yang sudah gue lakukan itu.
Tapi, perintah dari Jessica itu tidak tentang dirinya sendiri. Dia malah selalu mmberi perintah tentang gue, mulai dari melarang gue minum alkohol lebih dari 3 botol, memaksa gue tidur yang cukup, dan selalu mengingatkan gue untuk makan tepat waktu.
Untungnya saja Dia tidak meminta gue untuk berhenti melukai orang-orang atau bisa saja berhenti melakukan pemberontakan. Kalau dia sampai menyuruh gue seperti itu, mungkin gue bakal menolak sebisa mungkin.
Di hari Senin ini, hari yang cukup membuat gue muak. Kenapa? karna hari ini hari ulang tahun gue. Padahal semua orang sangat menyukai hari tu, tapi tidak dengan gue. Gue selalu menganggap hari ini menjadi hari yang sangat buruk dan sangat sial bagi diri gue.
Setiap hari ulang tahun gue, pasti ada saja yang terjadi. Contohnya saja tahun lalu, saat Jordan dan para bawahan gue ingin memberikan kejutan dengan kue ulang tahun. Tapi, karna kesialan gue. Gue malah membakar baju Jordan dengan lilin dari kue itu. Entah bagaimana bisa terbakar, tapi di hari itu benar-benar membuat satu markas gue heboh.
Bukan hanya itu, 2 tahun yang lalu. Gu berniat untuk melakukan pemberontakan di perusahaan elektronik. Bukannya mendapat perusahaan itu, gue malah hampir mati karna lift yang gue gunakan itu tiba-tiba tidak berfungsi. Dan alhsil...gue, Jordan, dan 4 orang bawahan gue terjebak dalam lift itu selama satu jam lebih.
Untungnya saja Kita bisa keluar dengan selamat, tapi sedikit kekurangan oksigen.
Dan malam nanti, gue berniat untuk tidak melakukan apapun dan hanya berdiam diri di ruangan gue saja. Sambil menyibukkan diri dengan pekerjaan yang selalu Jordan kerjakan.
Hari ini, disekolah. Gue hanya fokus dengan pelajaran sekolah saja, karna Ujian semester akan berlangsung seminggu lagi. Walaupun hanya semester pertama saja, tapi gue harus tetap belajar dengan baik agar orang tua gue gak kecewa dengan nilai gue nanti.
Selama di sekolah, gue hanya di kelas doang. Gue keluar kelas hanya untuk ke kamar mandi saja, selain itu tidak ada lagi. Saat istirahat pun gue mengirim pesan lebih dulu ke Jessica, agar Ia tidak perlu mengunjungi gue di kelas dan menaik gue ke atap sekolah
Isi pesannya. "Hari ini lu makan sendiri aja, ada tugas yang harus gue kerjain. Gue juga harus belajar sedikit, jadi gak usah ke kelas gue."
Anehnya, Jessica hanya menjawab Iya saja. Biasanya Ia sangat keras kepala, dan tetap memaksa gue untuk ikut bersamanya. Tapi, gue cukup bersyukur. Jadi gue gk buang-buang tenaga buat debat sama dia, dan tetap fokus belajar.
Setelah hari yang panjang di sekolah, akhirnya gue bisa pulang kerumah setelah seminggu lebih gue tinggal di Markas.
__ADS_1
Abang gue hari ini sudah diperbolehkan pulang oleh Hendra, dan Jordan juga sudah memberikan izin kepada keluarga gue untuk kembali kerumah. Tapi rumah gue harus terjaga tetap aman, dan bokap gue yang sekarang bekerja di salah satu perusahaan besar milik gue. Keamanannya juga di jaga 2 kali lipat, selalu ada 4 orang yang mengawasinya, dan mengikutinya kemana pun.
Karna hal itu, gue jadi bisa sedikit bernapas dan tidak terlalu memikirkan masalah keaman keluarga gue.
Saat gue sedang asik bersepeda di pinggir jalan, tiba-tiba ada mobil yang berlaju sangat cepat di samping gue dan menginjak genagan air yang ada di samping gue.
Karna mobil sialan itu, gue sampai terkena genangan air itu.
"Hah...padahal masih sore, kenapa gue udah sial aja sih?" gerutu gue sambil menyeka air yang ada di wajah gue, dan membersihkan kacamata gue.
Karna Rambut gue basah, gue akhirnya menyisir rambut gue kebelakang dengan tangan kanan gue.
Tapi, tanpa gue sadari. Gue malah memperlihatkan penampilan asli gue, dan sialnya lagi. Ada mobil yang tiba-tiba berhenti di samping sebeda gue.
"Kutu buku!?" sahut seseorang dengan suara cemprengnya.
*A-amel!?* batin gue yang menatap Amel dengan mata yang membulat besar.
"Lu Si kutu buku, kan? gue gak salah liat, kan? kok lu—"
Sebelum dia menyelesaikan ucapannya, gue langsung mengayuh sepada gue dengan cepat dan pergi dari hadapannya.
*Mampus! apa dia liat penampilan gue tanpa kacamata tadi?* batin gue.
Sangkin takutnya ketahuan dan dikejar oleh gadis itu, gue sampai hampir menambrak anak kecil dengan sepada gue. Untungnya saja gue masih bisa menghindarinya dan melanjutkan perjalanan gue sampai menuju ke rumah.
Saat sampai di sekolah, gue langsung memarkirkan sepeda gue di sembarang tempat dan berlari masuk ke dalam rumah menuju kamar gue.
__ADS_1
"Astaga, astaga! Gimana ini? dia gak ngeliat muka gue, kan?" gerutu gue di dalam kamar sambil berjalan bolak balik di tempat yang sama.
"Muka gue memang gak jelek, tapi kalau dia tau gimana!? mati gue, mati!!" ucap gue.
"Anjir!! kenapa gue sial banget, sih!? argh!!!" teriak gue sambil menarik rambut gue sendiri.
Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamar gue, gue pun langsung melangkah kearah pintu dan membuka pintu itu.
"Eh? Ibu? kenapa, Bu?" tanya gue.
"Loh? kok seragam kamu basah? Perasaan tadi gak hujan, deh." tanyanya balik.
"Memang gak hujan, Bu. Cuma Reyhannya aja yang sial." jawab gue.
"Sudah, lah. Hari ini Ibu buatin pankek kesukaan kamu, nih." ucapnya sambil menyodorkan gue sepiring pankek.
"Makasih, Bu. Tau aja kalau aku lagi lapar." sambung gue dan ingin mengambil sepiring pankek gue.
Tapi, saat gue baru ingin memegang piring itu. Tiba-tiba saja piring itu jatuh dan pecah tepat di tengah-tengah gue dan Nyokap gue.
"Aduh...gimana, nih? Kaki kamu gak papa, kan? Ibu buatin lagi, ya?" sahutnya yang panik dan ingin mengambil pecahan piring itu.
"Hah...gak usah, Bu. Di sapu aja sama pankeknya, Reyhan gak papa kok. Yaudah, Reyhan masuk dulu ya. Sekali lagi makasih, Bu." ucap gue lalu berbali dan menutup pintu kamar gue.
"Sayang? Selamat ulang tahun ke 19, maaf ya...lain kali Ibu buatin banyak pankek buat kamu." teriak Ibu gue dari luar.
"Hah..." hela nafas gue, lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
BERSAMBUNG