Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
S2. Mual (Pt2)


__ADS_3

Setelah selesai bersiap, aku pun langsung pergi menuju ruang kerja. Tapi, saat sudah dengan dengan ruangan ku, tiba-tiba aku merasa mual yang sama lagi seperti sebelumnya. Rasanya semua isi perut ku ingin keluar dari mulutku, padahal aku sama sekali belum meminum atau memakan apapun setelah bngun tadi.


"Haah...ini menyiksa ku!" gumam ku, sambil mendorong pintu ruangan ku dan melangkah masuk kedalam sana.


"Selamat pagi, Tuan," sapa Jordan yang berdiri di depan meja kerja ku sambil memegang tablet kesayangannya di tangan kanannya.


Aku melangkah kearah meja ku, lalu duduk di kursi dan membalas sapaan Jordan. "Pagi."


"Tuan, apa anda baik-baik saja? wajah anda terlihat pucat," tanyanya.


"Aku hanya merasa mual saja."


"Apa anda sakit? apa perlu saya memanggilkan Hendra kemari?"


"Tidak perlu, lebih baik kau bacakan jadwalku sekarang."


"Ba-baik, Tuan," jawabnya, lalu mulai membacakan jadwal ku hari ini.


Setelah mendengar semua jadwal yang telah di sebutkan Jordan, aku langsung menyandarkan punggungku di sandaran kursi, dan berkata. "Beritahu Andre, untuk menghadiri pertemuan dengan Tuan Milo, dan bantu dia untuk menyelesaikan permasalahan militer Itali."


"Tapi, Tuan. Andre baru kembali dari Korea siang nanti, sedangkan pertemuan dengan Tuan Milo tepat di pukul 14 nanti."


"Hubungi Andre, untuk mempercepat kepulangannya, dan langsung suruh dia untuk menemui Tuan Milo."


"Baiklah, Tuan. Akan segera saya hubungi, lalu. Apa anda bisa menerima undangan dari pemimpin mafia Thailand?"


"Kau saja yang menghadirinya, aku tidak bisa pergi dari Itali. Karna ini perintah dari Carmelia."


"Tapi, Tuan. Pekerjaan saya saja masih menumpuk disini, banyak yang harus saya selesaikan hari ini. Saya tidak bisa menghadiri undangan itu."


"Yasudah, kalaubegitu tolak saja. dan katakan, bahwa aku sangat sibuk dan tidak bisa menghadiri undangan yang ia berikan. Kirimkan juga buah tangan, sebagai permintaan maaf ku."


"Haah...baiklah, Tuan."


"Yasudah, siapkan dokumen yang akan aku periksa. Aku akan ke meja makan sekarang," ucap ku lalu berdiri.


"Baik, Tuan," jawabnya sambil menunduk. Aku pun melangkah pergi dari ruangan itu menuju ruang makan.


Kehamilan Carmelia yang pertama dan sudah jalan sekitar 3 bulan, seperti perkataan Dokter 2 hari yang lalu. Dokter itu juga memberikan hasil USG Carmelia kepadaku, tapi katanya Ia belum bisa memastikan apa Bayi di dalam kandungan Carmelia adalah, seorang Putra atau malah seorang Putri. Tapi, aku lebih berharap dia seorang laki-laki yang kuat, agar Ia bisa membantu ku menyelesaikan pekerjaan dan membunuh orang yang menentang perkataan ku.

__ADS_1


Tapi, Carmelia malah menginginkan seorang Putri. Dengan alasan, agar ada yang menemaninya minum teh dan ada yang bisa Ia dandani sesuka hatinya. Sebenarnya, mau itu seorang perempuan ataupun laki-laki, yang terpenting Ia bisa menerima Dunia dan juga takdir hidupnya, karna sudah terlahir dengan status penerus Keluarga Anggara dan juga calon pemimpin Mafia Dunia.


Saat sampai di ruang makan, aku sudah melihat Carmelia yang duduk di meja makan bersama dengan Nella, dan tentu saja Felix, si bocah yang selalu mendekati Carmelia setiap saat. Sekarang pun, Ia duduk di samping Carmelia dengan wajah yang tersenyum lebar karna Carmelia mengelus kepalanya.


"Cih! aku mulai kesal dengan bocah itu," gumam ku sambil berjalan kearah kursi ku, lalu duduk.


"Selamat pagi, Tuan." Sapa Nella.


"Pagi," balas ku sambil menatap kearah Felix dengan tajam.


"Felix, beri salam kepada Tuan Marcel!" bisik Nella.


"Baik! Selamat pagi, Papa Marcel~" sapanya dengan senyum lebarnya.


"Pagi!" jawab ku ketus.


"Oh ya, Tuan. Dimana Jordan? bukannya Ia bersama anda?" tanya Nella.


"Dia masih di ruangan ku, mungkin sebentar lagi Ia kemari."


"Makanan sudah datang," cetus Felix sambil menatap kearah Vernon dengan para pelayan yang membawa nampan makanan di belakangnya.


"Paman, kenapa harus sup? aku tidak suka sup, apalagi kacang-kacangan," cetus Felix sambil mendorong mangkok supnya.


"Sup sangat baik untuk tubuh, apalagi anak kecil seperti mu. Dan lagi, saya dengar sup sangat baik untuk ibu hamil dan calon bayi nya."


"Terimakasih atas perhatian yang kau berikan, Vernon. Aku sangat menghargainya," ucap Carmelia.


Jujur saja, saat melihat menu sarapan pagi ini, yang terpampang jelas di hadapan ku. Rasa mual yang mulai tadi ku tahan, malah semakin menjadi-jadi saat melihat sup itu. Aku tanpa sadar mendorong sup itu, sama seperti apa yang dilakukan Felix tadi.


"Tuan, ada apa? bukannya anda menyukai sup daging? saya juga tidak memasukkan kacang-kacangan kedalam sup anda," tanya Vernon.


"Sup itu menjijikan!" ucap ku tanpa ragu.


"Aku ingin muntah hanya karna melihatnya saja," lanjut ku.


"Benar, Papa Marcel Benar!" timpal Felix.


"Apa anda sakit, Tuan? kenapa wajah anda terlihat sangat pucat?" tanya Nella.

__ADS_1


"Tidak, Marcel tidak sakit. Dia hanya mual karna aku hamil," cetus Carmelia. Aku yakin, saat Carmelia mengatakan itu, pasti semua orang yang ada di ruangan itu sangat terkejut, walaupun aku tidak bisa melihat wajah mereka, karna masih berusaha untuk menahan rasa mual yang semakin menjadi-jadi ini.


"Saya tidak salah dengar, Nyonya? Tuan mual karna anda hamil? bu-bukannya yang seharusnya merasa seperti itu adalah anda, Nyonya?" heran Vernon.


"HEI!!! Ambilkan kantung apapun untukku! cepat!! aku benar-benar ingin muntah sekarang!!" perintah ku.


"Ce-cepat ambilkan kantung untuk Tuan!" ucap Vernon. Baru beberapa detik Vernon berbicara, aku tiba-tiba saja muntah tepat di samping Pria itu.


"Tu-tuan!!?"


*Uukh!! sial! ini benar-benar memuakkan!!* batin ku.


"Haah...si,singkirkan Sup itu, cepat!!!" geram ku.


"Ba-baik, Tuan," jawab Vernon.


"Ganti saja dengan sandwich daging, aku yakin Marcel akan memakannya," timpal Carmelia.


Aku pun menarik serbet dan menutup mulut ku dengan serbet itu, lalu menyandarkan punggungku di sandaran kursi.


"Maaf atas kesalahan yang saya perbuat, Tuan. Saya tidak tau dengan apa yang anda alami," ucap Vernon, sambil membungkuk dengan sempur.


"Sudahlah, itu bukan salah mu. Kembalilah kedapur, dan siapkan sandwich daging seperti yang dikatakan Carmelia."


"Baik, Tuan," jawabnya, lalu menenggakan kembali tubuhnya lalu melangkah pergi.


"Yang sabar ya, nasib mu memang buruk kali ini," ejek Carmelia.


"Jangan mengejek ku, aku tidak ingin bertengkar kali ini," ucap ku sambil mengambil gelas yang berisi air, lalu menengguknya.


"Siapa juga yang ingin bertengkar, aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya saja!"


"Haah..." hela nafas ku sambil meletakkan gelas itu kembali, dan menatap Wanita itu. "Carmelia~ diamlah! mood ku sekarang sedang buruku, sayang~"


"Terserah!" rajuknya.


*Salah lagi, salah lagi!* batin ku.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2