Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Kegilaan Jessica


__ADS_3

Setelah gue selesai mandi dan juga mengganti pakaian gue, gue memutuskan untuk menemui Marcel di kamarnya, sekaligus mengajaknya untuk sarapan bersama.


Saat keluar dari kamar, gue udah di sodorkan pertanyaan. "Apa anda membutuhkan sesuatu, Nona?" oleh Jordan.


"Tidak, saya hanya ingin menemui Marcel dan mengajaknya untuk sarapan bersama." jawab gue.


"Maaf, Nona. Tuan belum bangun dari tidurnya, anda bisa sarapan sendiri saja, di temani oleh Dika." sahut Jordan.


"Belum bangun? tapi ini kan sudah hampir jam 10, apa dia baik-baik aja." sambung gue khawatir.


"Tenang saja, Nona. Tuan baik-baik saja, dia hanya butuh istirahat lebih saja." jawabnya.


"Hah...yasudah, aku akan sarapan bersama Dika saja. Ayo, Dika." ajak gue, lalu melangkah pergi.


"Tunggu saya, Nona." sahutnya Dika, yang menyusul gue lalu berjalan tepat di samping gue.


"Dika..." tegur gue.


"Ada apa, Nona?" tanyanya.


"Ada apa dengan Tuan kalian? apa dia terluka parah?" tanya gue.


"Tidak separah yang anda pikirkan, Nona. Tuan hanya terkena pisau dari musuh saja, dan membuat lengannya terluka." jawabnya.


"Apa lukanya parah?" tanya gue lagi.


"Tidak terlalu parah, Nona. Lukanya hanya sedikit dalam saja." jawabnya.


Saat mendengar itu, gue sontak berhenti melangkah dan terdiam.


"Ada apa, Nona? Apa anda sakit?" tanya Pria itu.


Bukannya menjawab pertanyaannya, Gue malah berbalik dan sontak berlari kembali ke kamar Marcel. Saat di depan kamarnya, Jordan bertanya sesuatu ke gue. Tapi gue gak menghiraukannya, dan malah menerobos masuk ke dalam kamar Marcel.


"No-nona!?" sahut Jordan yang terkejut.


Gue menutup pintu kamar itu, lalu melangkah menuju ke Marcel yang terbaring di atas ranjangnya. Saat gue berdiri di samping ranjangnya, dan menatap Marcel, gue langsung terfokus ke lengan kanannya yang di perban.


"Apa itu sakit?" gumam gue.


Tanpa sadar, gue duduk di samping kepala Marcel dan mengelus rambut Pria itu dengan lembut. Entah kenapa, gue gak suka ngeliat dia yang terluka seperti itu.


Dia menyembunyikan lukanya, dan bersikap baik-baik saja seperti tidak terjadi apapun. Gue baru menyadari...kalau gue juga sama sepertinya, yang berusaha tegar di hadapan orang-orang dan menjadi gadis yang ceria.


Gue pikir tuhan gak adil sama gue, karna ngasih gue hidup yang sangat-sangat membuat gu sengsara. Tapi ternyata, gue sadar...mungkin ada seseorang yang lebih sengsara dari gue.


MARCEL ****POV*****

__ADS_1


Gue yang tadinya tertidur pulas, tiba-tiba terbangun karna ada yang menerobos masuk ke kamar gue. Tapi, saat gue lihat siapa yang berani menerobos masuk ke amar gue. Gue tanpa sadar langsung memejamkan mat gue kembali, dan berpura-pura tidur.


*Lah, anjir! kok bisa dia masuk? gue lupa kunci pintu, kali ya?* batin gue.


Tiba-tiba saja Jessica bergumam. "Apa itu sakit?" dan membuat gue terkejut sekaligus penasara dengan ekspresi apa yang Ia gunakan saat bergumam seperti itu.


dan lebih mengejutkannya lagi, gue tiba-tiba merasakan Jessica duduk tepat di sebelah gue dan mengelus rambut gue dengan sangat lembut.


*Dia ngapain, sih!? bukannya sarapan, malah ganggu orang tidur.* batin gue.


*Tapi...tangannya lembut banget, woi!* batin gue.


"Apa lu terluka karna gue?" ucapnya yang sontak membuat gue membulatkan mata dan menatapnya.


"Aaaaa!!!" teriaknya sambil mendorong gue dengan kuat.


"Astaga! kuping gue, woi!" protes gue, lalu bangun dari posisi tidur gue, dan duduk di depan gadis itu.


"Lu kapan bangun, bego!? bikin orang kaget!" balasnya.


"Baru aja." jawab gue.


"Btw, lu kenapa disini? lu gak sarapan?" tanya gue.


"Lu? kenapa gak sarapan? kok malah tidur?" tanyanya balik.


"Terus tangan lu? itu di jahit, gak?" sahutnya.


"Anjir! ya kagak, lah! masa di jahit disini? cuma di kasih obat doang." protes gue.


"Kenapa gak langsung kerumah sakit, sih!? lu gak sanggup bayar atau gimana?" ucapnya.


"Gak mungkin gue gak sanggup bayar, gue cuma malas ke rumah sakit. Lagian gue punya Dokter pribadi, dia aja udah cukup." jawab gue.


"Tapi kata Dika luka lu dalam." sambungnya.


"Dika? Dika bawahn gue, kan? Dika yang itu kan? yang gila kalau lagi marah atau perang?" sahut gue.


"Iya! Dika yang mana lagi selain bawahan lu itu?" jawabnya.


*Oh...memang tuh bocah, mentang-mentang gue suruh patuh sama Jessica, tapi malah lupa sama gue yang lebih berkuasa.* batin gue.


"Woi! Napa diam aja, sih!?"tegur gadis itu.


"Dah lah, gue mau mandi." ucap gue.


"Mau gue bantu?" tawarnya.

__ADS_1


"Kagak, gue bisa sendiri." tolak gue sambil turun dari ranjang.


"Yakin? tangan lu kayak gitu loh, mumpung gue lagi baik juga." sambungnya.


"Lu pikir tangan gue patah, apa!? cuma luka kecil doang, gak butuh bantuan, kal!" protes gue.


"Yasudah, lah. Buruan sana, gue lapar banget nih."


"Pergi sendiri aja, sana. Gue mau makan di kamar aja."


"Ayolah...masa gue disuruh makan sendiri. Lu gak tega sama cewek cantik ini? makan sedirian di tempat asing. Jadi, temenin gue ya, Please..." mohonya dengan mata yang berbinar-binar.


"Bodo! gue gak mau keluar kamar, lu pergi sama Dika atau siapa kek." tolak gue.


Jessica hanya berdecak karna jengkel, lalu turun dari ranjang dan menatap gue dengan tajam.


"Dasar gila!!" ejeknya, lalu melangkah pergi dari hadapan gue.


"...gila? lu bilang apa!!!?" geram gue sambil menatapnya yang baru saja membuka pintu.


"DASAR ORANG GILA!!" teriaknya, dan langsung keluar dari kamar gue.


"Oh...awas lu nanti!!" kesal gue.


Gue pun melangkah masuk ke dalam kamar mandi, saat di dalam kamar mandi gue baru sadar, kalau gue gak pakai baju dan hanya pakai celana saja.


dan lebih parahnya, tadi gue malah ketemu sama paman gue tanpa memakai pakaian. Entah, apa yang di pikirannya sekarang.


Setelah beberapa menit di kamar mandi, gue pun keluar dengan memakai baju handuk saja, karna pakaian gue yang ada di atas meja. Sebelum memakai pakaian, gue memilih untuk menemui Jordan lebih dulu.


"Jordan..." panggil gue setelah membuka pintu.


"Ada apa, Tuan?" sahutnya.


"Siapkan sarapan dan antarkan ke kamar ku, ingat untuk mengecek siapa yang memasak makanan untuk ku." ucap gue.


"Baik, Tuan." jawabnya sambil menunduk.


Gue pun menutup pintu gue, lalu berjalan kearah sofa untuk mengambil pakaian gue dan langsung memakainya.


Mungkin karna lengan gue yang di perban, gue sedikit kesusahan saat memakai kemeja dan juga jas, dan membuat gue sedikit membuang-buang waktu.


Setelah memakai pakain, gue memilih untuk duduk disofa sambil bermain ponsel, selagi menunggu sarapan gue.


Bersambung


Like dan komen, dong... biar author tambah semangat nulisnya 🤗❤️

__ADS_1


__ADS_2