Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
S2. Menyusul Jordan


__ADS_3

AUTHOR POV*


Semua persiapan untuk menyusul Jordan pun telah selesai. Sebelum Andre pergi, Ia memilih untuk menelpon sang Istri dan menyuruhnya untuk menjaga Felix dan Carmelia. Berbeda dengan Marcel, Ia memilih untuk merahasiakan keberangkatannya dari Carmelia.


Saat Andre telah duduk tepat di depan Marcel, Pria itu langsung menghubungi pilot pesawat untuk langsung menerbangkan pesawat saat itu juga. Tentu saja pilot itu menerima perintah sang atasan, dan langsung menyalakan mesin pesawatnya.


Karna suara pesawat yang amat sangat bising itu, membuat Carmelia yang sedang berada di kamar terkejut dan sontak berdiri, lalu berjalan ke arah balkon kamarnya.


"Nyonya, bahaya. Tolong kembalilah ke sofa, saya bisa di marahi oleh Tuan, jika anda terluka lagi," ucap Agnella yang menyusul Carmelia di balkon.


"Kenapa ada suara pesawat? bukannya tidak ada yang akan pergi?" tanya Wanita itu yang berusaha untuk melihat ke halaman belakang.


"Oh, saya lupa memberitahu. Kalau Andre akan pergi hari ini, ada tugas yang di berikan oleh Tuan Marcel," jawab Agnella.


"Apa itu benar?" tanya Wanita itu lagi, sambil menatap Agnella.


Buknnya Agnella yang menjawab pertanyaan Carmelia, melainkan Hendra yang tiba-tiba muncul dan berkata. "Benar, Nyonya," sambil melangkah kearah kedua wanita itu.


Mendengar suara Hendra, Agnella langsung bernafas legah. Berbeda dengan Carmelia yang terkejut karna kedatangan Hendra yang secara tiba-tiba.


"Kapan kau datang?" tanya Wanita itu sambil berjalan ke arah Hendra dengan di bantu Agnella.


"Maaf karna telah masuk tanpa izin dari anda, Nyony," ucap Pria itu sambil membungkuk.


"Tak apa, aku hanya sedikit terkejut saja."


"Oh iya, apa kau tidak kembali? aku sudah terlalu lama menahan mu disini, padahal kau pasti sangat sibuk di rumah sakit."


"Saya tidak sesibuk itu, Nyonya. Tapi, sepertinya saya harus mengatakan ini kepada anda."

__ADS_1


"Mengatakan apa?" tanya Wanita itu.


"Sebelum itu, lebih baik kalau anda duduk terlebih dulu. Saya tidak ingin membuat anda lelah. Mari saya bantu." Hendra dan Agnella pun membantu Wanita itu untuk duduk di sofa panjang.


Setelah ketiga orang itu duduk, Carmelia pun melontarkan pertanyaan yang tadi belum dijawab oleh Hendra. "Apa yang ingin kau katakan, Hendra?"


"Ah! ini bukan sebuah masalah, Nyonya. Saya hanya ingin mengatakan, bahwa saya akan tinggal di kastil selama beberapa hari."


"Loh? bukannya kamu memang bisa bolak balik tinggal di kastil? kapan pun dan seberapa lama pun itu, kau bisa tinghal di kastil sesuka hati mu. Kan kamu punya tempat sendiri di kastil ini."


"Hahaha... anda memang memahami saya."


Di saat mereka bertiga sedang asik berbicara, disisi lain. Pesawat milik Marcel sudah terbang tinggi di atas langit. Marcel yang khawatir karna meninggalkan sang Istri yang sedang hamil, tak henti-hentinya menengok keluar jendela dan menatap ke kastil yang berada jauh di bawahnya.


*Aku akan menyelesaikan masalah ini secepat mungkin, maaf~* batin Pria itu.


"Tuan, apa tidak apa kita pergi tanpa bawahan pribadi anda? Setidaknya seharusnya kita membawa dua atau tiga orang untuk memastikan keaman anda di sana, saya cukup mengkhawatirkan keamanan anda," cetus Pria yang duduk di hadapannya dengan memegang dokumen di tangannya dan sebuah laptop di hadapannya.


"Dan lagi, ada dua puluh bawahan lain yang ikut dengan kita. Itu sudah cukup untuk menjaga kita."


"Haah... saya akan menyelesaikan masalah ini secepat mungkin, agar kita bisa kembali ke Itali."


"Aku percaya kau bisa menyelesaikan masalah ini, dan kita akan segera kembali ke kastil."


"Oh iya, apa Vernon sudah bergerak?" tanya Marcel.


"Sepertinya sudah, Tuan. Buktinya saja sistem keaman kastil sudah meningkat berkali-kali lipat dari sebelumnya."


"Di sekeliling kastil?"

__ADS_1


"Tentu saja CCTV di luar kastil sudah di nyalakan dan semua senjata api sudah siap di tembakkan jika ada pergerakan yang mencurigakan, Vernon juga langsung memantau layar monitor di ruang pengedali."


"Baiklah, aku bisa mempercayai keamanan Carmelia dan calon Bayi ku kepada kalian. Ya, walaupun aku masih sedikit khawatir."


"Itu hal yang wajar, Tuan. Saya saja selalu mengkhawatirkan Nella dan Felix setiap saya pergi jauh, karna perintah anda."


"Benar kata Ayah, sekuat apapun kamu dan seketat apapun keaman kastil, pasti rasa khawatir itu tetap akan ada. Dan sekarang, kita berdua malah mengalaminya, haah... benar-benar deh~"


"Saya malah heran, bagaimana bisa setiap perkataan Tuan Anggara selalu benar? Beliau sudah seperti seorang peramal saja," heran Andre yang masih fokus dengan laptop dan dokumen di tangannya.


"Kalau di pikir-pikir lagi, benar juga. Setiap ap yang Beliau katakan, pasti akan terjadi kepada ku. Aku jadi takut jika mengingat semu perkataannya."


"Hahaha... itu hanya insting serang Ayah saja. Wajar jika perkataannya selalu terjadi kepada anda, anda kan sudah bertahun-tahun bersama dengan Beliau. Walaupun anda bukan anak kandungnya, tapi tetap saja kalian adalah ayah dan anak yang sangat serasi."


"Serasi kau bilang!? Ia selalu saja menyuruh ku ini itu, dan jika aku berbuat salah. Ia selalu saja memarahi ku dan menghukum ku, kalau tidak ada Ibu. Bisa ku pastikan aku akan mati di tangannya," protes Marcel dengan raut wajah kesal.


"Hahaha... apa anda tau, Tuan? Tuan Anggara selalu membicarakan anda, setiap saat Ia selalu memuji anda. Apapun yang anda lakukan di hari itu, Ia selalu mengatakannya kepada semua orang. Sangking seringnya beliau membicarakan anda, Ayah saya sampai hapal apa yang akan keluar dari mulutnya jika Ia bertemu dengan Tuan Anggara."


"Serius?" celetuk Marcel yang menatap Andre dengan raut wajah yang penasaran. Andre yang melihat wajah Tuannya, Ia hanya bisa tersenyum tipis dan kembali fokus ke pekerjaannya.


"Benar, Tuan. Bukan hanya itu, Ibu anda juga selalu memarahi Tuan Anggara karna selalu membicarakan hal yang sama setiap harinya. Saya masih ingat apa yang di katakan Ibu anda dulu."


"Beliah berkata, "Daripada kau sibuk mengatakan hal yang sama setiap harinya, lebih baik kau tulis saja semua hal tentang Putra mu itu, dan jadikan sebuah buku!" dan orang-orang yang mendengar perkataan Ibu anda mulai tertawa, begitupun dengan saya."


"Tapi, apa Ayah mengikuti perkataan Ibu?"


"Kalau itu, saya kurang tau, Tuan. Mungkin Beliau mengikuti perkataan Istrinya, atau bisa saja tidak. Tapi, jika beliau mengikuti perkataan Ibu anda. Pasti anda sudah melihat buku itu sekarang."


"Benar juga, apa yang ku harapkan dari Pria itu, cih!" gerutu Marcel.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2