Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
S2. Carmelia & 8 Bawahan Pribadi Ku


__ADS_3

MARCEL POV*


Hari-hari ku berlalu dengan perasaan mual yang menyiksa ku setiap saat, mulai dari tidur yang terganggu karna selalu ingin muntah, ***** makan yang menurun, dan rasa malas untuk melakukan apapun. Semua itu aku rasakan selama satu Minggu, dan sekarang. Perasaan itu masih saja muncul.


Bukan hanya itu, beberapa kali aku meminta hal-hal aneh kepada Jordan dan Vernon. Entah meminta makanan dari luar kastil, menyuruh Vernon memasak kue yang terbuat dari alpukat, dan sebagainya. Berbeda dengan Carmelia, Ia terlihat biasa saja dan menjalankan aktifitasnya seperti sedang tidak hamil.


Terkadang Carmelia melakukan hal yang seharusnya tidak di lakukan oleh wanita hamil, contohnya saja seperti hari ini. Aku yang tadinya sibuk memeriksa dokumen di ruangan ku, tiba-tiba saja mendengar kabar dari Nella, bahwa Carmelia sedang bertarung dengan para bawahan pribadi ku dengan menggunakan senjata api level atas.


Mendengar itu, dengan cepat aku berlari keluar dari ruangan ku menuju ke halaman belakang kastil.


"Ah! bodoh! bisa-bisa mereka bertarung dengan wanita hamil!!" geram ku. Saat sampai di tempat latihan, aku bisa melihat jelas kerumunan orang yang mengelilingi matras pertarungan. Dengan cepat aku menerobos masuk ke dalam kerumunan itu, tapi. Tiba-tiba saja langkah ku terhenti, saat melihat Carmelia yang memegang 2 senjata api level atas dengan kedua tangannya. Bukan hanya itu, Wanita itu juga di kelilingi dengan 8 bawahan pribadi ku yang juga memegang senjata utama mereka.


Karna aku tidak membawa senjata milik ku, aku dengan cepat melihat ke sekeliling ku dan langsung mengambil satu pistol milik bawahan ku. Aku pun mengangkat pistol itu setinggi-tingginya, lalu menembak 3 peluru sekaligus.


Tiga peluru yang di tembakkan secara bersamaan biasanya di artikan untuk mulai bertarung, tapi berbeda dengan peraturan ku. Peluru yang ku tembakkan memang sama, hanya saja setiap peluru, ku tembak ke sisi yang berbeda. Satu di tengah, lalu di kiri, dan kanan. Tapi tentu saja ku tembakkan ke atas langit. Dan arti dari ketiga peluru yang ku tembakkan itu adalah, menyuruh mereka untuk berlutut di tempat mereka berdiri dengan seluruh senjata yang harus di letakkan di hadapan mereka masing-masing.


Disaat mereka semua berlutut, Carmelia hanya menatap ku dengan ekspresi datar dan masih memegang kedua senjatanya. Aku pun menghampirinya, dan merampas kedua senjata itu, lalu melemparkannya ke tanah.


"Kembali ke kamar, dan jangan pernah melangkahkan kaki mu ke tempat latihan lagi!!" tegas ku.


"Hah!? kau kenapa sih!? tiba-tiba datang dan mengacaukan segalanya!!" kesalnya.

__ADS_1


"Aku kenapa? hei!!! seharusnya aku yang bertanya seperti itu!!! kamu tuh lagi hamil, kenapa malah bertarung!!? apa kau ingin membunuh anak mu, hah!!?" geram mu dan tanpa sadar membentaknya.


Carmelia hanya terdiam sambil menatap ku dengan mata yang memerah, Ia langsung berbalik dan melangkah pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Haah...lebih baik aku yang dimarahi daripada dia sampai terluka," gumam ku.


Aku pun kembali fokus dengan para Pria yang masih berlutut di sekeliling ku, aku menatap mereka satu persatu. Jujur saja, rasanya aku ingin membunuh mereka semua. Tapi, aku tidak ingin ada pertumpahan darah di kastil selama Carmelia hamil.


"Aku tidak tau kenapa kalian melakukan hal bodoh seperti itu, tapi. Aku benar-benar kecewa dengan kalian, rasanya aku ingin membunuh kalian sekarang," ucap ku.


"Dan kalian berdelapan! kenapa kalian melawan Nyonya kalian dengan bersamaan!? apa kalian bodoh, atau apa!!!?"


"TIDAK, TUAN," jawab mereka bersama.


"Jawab aku, kenapa kalian melawan Carmelia dengan menggunakan senjata utama kalian!!?" tanya ku.


"Nyonya yang memintanya, Tuan. Nyonya bilang, Ia ingin melatih dirinya dengan bertarung dengan kami sekaligus. Awalnya kami menolaknya, tapi Nyonya memaksa dan berkata bahwa hal itu adalah sebuah perintah. Dengan berat hati kami menerima perintahnya, dan—"


"Tapi kenapa kalian menggunakan senjata utama kalian!!? kalian tau sendiri kan, senjata utama kalian di atur untuk membunuh orang dalam beberapa detik. Tapi kalian malah menggunakan dan mengangkat senjata kalian di hadapan Istri ku, Nyonya Anggara!!?" potong ku.


"Maafkan kami, Tuan. Kami tidak berniat menggunakan senjata utama kami, tapi Nyonya menyuruh Dika untuk mengambil semua senjata utama kami, dan memberikannya kepada kami," jawab Mark.

__ADS_1


*Sudah sejauh mana kamu mencoba untuk melukai dirimu sendiri? padahal kau tau kau sedang mengandung anak mu sendiri,* batin ku.


Aku langsung melangkah kearah Mark, lalu mengambil senjata miliknya yang tergeletak di tanah tepat di hadapannya. Aku meletakkan ujung senjatanya tepat di atas bahu kirinya, lalu berkata. "Jangan bergerak sedikit ku," dan langsung memukul kepala Mark dengan sangat keras, seperti memukul bola golf.


Aku mengulangi pukulan ku sebanyak 3 kali, lalu berpindah ke bawahan ku yang lain. Semuannya akan mendapatkan pukulan yang sama, tapi jika saja mereka bergerak sedikitpun saat aku memukulnya. Aku akan menggandakan pukulan ku, sampai Ia berhasil tetap diam seperti patung.


Kurang lebih 30 orang yang aku pukul, setelah semuanya mendapatkan giliran mereka. Aku pun kembali berdiri di tengah-tengah dan menyuruh mereka untuk berdiri.


"Aku harap tidak ada kejadian seperti ini lagi, jika tidak. Aku bisa memastikan tangan dan kaki kalian di gantung di setiap pohon yang ada di luar kastil!!" tegas ku.


"BAIK, TUAN!" jawab mereka.


"Yasudah, kalian bisa kembali ke aktifitas kalian masing-masing. Aku pergi dulu," ucap ku.


Mereka langsung membungkuk dengan sempurna, sampai aku benar-benar pergi dari tempat itu. Saat di perjalanan masuk ke dalam kastil, aku yang tadinya berniat untuk langsung kembali keruang kerjaku. Malah berubah pikiran untuk menemui Carmelia. Aku memang tidak tau pasti dimana keberadaannya sekarang, tapi kaki ku melangkah kearah perpustakaan, seolah-olah Ia tau keberadaan Wanita itu.


Saat di depan pintu perpustakaan, aku membuka pintu itu dengan perlahan dan memasukkan kepala ku terlebih dulu untuk melihat situasi di dalam. Tapi anehnya, tidak ada tanda-tanda keberadaan seseorang didalam sana. Tapi, kaki ku malah melangkah masuk kedalam perpustakaan itu. Aku mengelilingi tempat yang sangat luas itu, melewati setiap rak dan memastikan apa ada seorang Wanita yang sedang bersembunyi di sana.


*Dimana dia? kenapa disini tidak ada?* batin ku yang sudah berkali-kali mengelilingi ruangan itu. Tapi, tiba-tiba saja aku mendengar suara pintu yang di buka. Karna aku cukup jauh dari pintu, aku pun melangkah mendekati pintu itu. Dan ternyata—


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2