Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Jessica Yang Merajuk


__ADS_3

Jam makan siang pun tiba, seperti biasa gue berpura-pura pergi ke perpustakaan, padahal gue malah pergi ke atas sekolah.


Saat sampai di lantai atas, seperti biasa pintu yang ada di depan gue udah sudah terbuka lebih dulu. dan yang buka, tentu saja Jessica.


Gue pun melangkah keluar dari gedung sekolah melalui pintu itu, lalu menutup rapat-rapat pintu itu dengan kursi sebagai penahannya.


"Gimana? perut lu udah gak sakit, kan?" tanya gue sambil menghampiri Jessica yang sedang berdiri di dekat dinding yang hanya setinggi dada gadis itu.


"Perut lu udah gak sakit, kan?" tanya gue sekali lagi.


"Lu kenapa tinggalin gue, sih?!! rajuknya.


"Hah?!" sahut gue bingung.


"Oh...masalah tadi malam, ya? Tadi malam tuh gue gak bisa tidur, jadi gue balik kerumah. Emang kenapa? perut lu sakit lagi, ya?" oceh gue.


"Perut gue gak sakit, bego!! gue takut di tinggal sendiri, gue cewek sendiri lagi!!" protesnya.


"Mana ada cewek sendiri, ada kok cewek lainnya. Tapi beda ruangan sama, kalau lu kan di ruangan yang spesial."


"Gue gak becanda, bego!!" teriaknya.


"Hust, jangan teriak! kalau ada yang denger gimana?" sahut gue.


"Bodo!!" rajuknya.


"Lu kenapa, sih? gue kan gak salah, gue juga butuh tidur. Makanya gue pulang, lagian lu kan di jagain sama Jordan."


"Au ah! malas!!" rajuknya.


*Nih bocah memang mau di terjunin dari atas sini, ya?* batin gue.


"Hah..." hela nafas gue, dan sontak meletakkan tangan gue di atas kepala gadis itu, lalu mengelus rambutnya dengan lembut.


"Gue minta maaf deh, udah ninggalin lu. Jarang-jarang nih, lu bisa denger permintaan maaf dari pemimpin mafia." ucap gue.


"Alah! sekarang lu Reyhan, bukan Marcel." jawabnya.


Gue yang mendengar itu, sontak mencubit kedu pipi gadis itu lalu menariknya.


"Sa-sakit, bego!!" rintihnya sambil memukul kedua tangan gue.


"Aduh, aduh... sakit, ya? Makanya jangan kebanyak ngambek!" ucap gue.


"Ih!! iya,iya." jawabnya.


"Btw, lu gak makan?" tanya gue.


"Gak lapar!" jawabnya.

__ADS_1


"Mending makan, deh. Gak usah nyusahin orang!"


"Siapa juga yang gue susahin? yang gak makan gue, kok orang yang kesusahan."


"Gue, bego!! kalau lu sakit, gue lagi yang pusing. Lu pekerjaan gue betambah aja." protes gue.


"Ya, gak usah di peduliin! kok ribet!!?" sambungnya.


"Serah lu dah, serah! capek gue!!" ketus gue, lalu berbalik dan bersandar di dinding itu.


"Hm...gue denger, keluarga lu lagi ada masalah ya?" celetuknya.


"Udah sampai ketelinga lu aja, ya? iya, keluarga gue lagi ada masalah." jawab gue.


"Maaf, gue gak bisa bantu apa-apa." sambungnya.


"Buat apa lu bantu? lagian bukan masalah besar, bentar juga selesai. Gak usah di pikirin, gue aja sebagai anak bokap gue, malah bodo amat." ucap gue.


"Tapi, gue beneran minta maaf. Gue gak bisa bantu apa-apa."


Gue yang mendengar itu, sontak menatap gadis itu. Lalu kembali menatap kedepan.


"Udah lah, dari pada ngurusin keluarga gue. Mending lu urusin urusan lu sendiri, kan?"


"Ha ha...iya juga ya, urusan gue aja belum benar." ucapnya, dan sontak ikut bersandar di samping gue.


"Oh ya, kalau lu butuh duit. Bilang aja sama Jordan, ntar dia bakal transfer ke lu. Lu punya ATM, kan?" sambung gue.


"Loh!? serius?" tanya gue.


"Hm...kalau gitu, nanti gue suruh Jordan buat ngurus ATM lu." lanjut gue.


"Tapi, kenapa?" tanyanya.


"Hah?! maksudnya?" sahut gue bingung.


"Buat apa lu ngasih gue duit? gue kan gak kerja sama lu."


"Oh...lu kan udah jadi tanggung jawab gue, jadi gue harus ngasih lu dui tiap bulannya." jawab gue santai.


"Tanggung jawab apaan? gue ini cuma cewek yang lu sekap, kan? gue harus ngikutin lu kemana-mana."


"Lu kenapa, sih? dari tadi sensitif mulu." heran gue sambil menatap ya


"Gak tau!" jawabnya dan sontak melangkah pergi.


"Lah? lu mau kemana, woi!!?" tanya gue bingung.


Tapi Jessica gak menjawab pertanyaan gue, Ia terus saja berjalan sampai melewati pintu itu, dan meninggalkan gue sendiri.

__ADS_1


"Hah...gue kok jadi serba salah, sih?" gumam gue.


"Serah dah, nanti malam juga nurut tuh cewek." ucap gue lalu melangkah masuk ke dalam gedung, dan berjalan menuju kelas, karna bel masuk yang sebentar lagi akan berbunyi.


***


Tak terasa, jam pulang pun tiba. Setelah merapikan buku-buku gue, gue langsung melangkah keluar kelas sambil menggendong tas di belakang punggung gue.


Karna gue pergi jalan kaki, pulangnya juga harus jalan kaki. Ya, walaupun gue sedikit lelah karna tidak melakukan apapun di sekolah, dan hanya sibuk belajar.


Gue berjalan ke rumah dengan santai, tanpa memperdulikan sekitar gue, dan juga tanpa bermain ponsel.


Setelah sampai di rumah, ternyata gak ada satupun orang di rumah. Entah deh pada kemana, dari pada mikir merek kemana, mending gue mandi terus ganti baju.


Tapi, pas gue selesai mandi. Perut gue malah bunyi-bunyi, dengan terpaksa gue keluar dari kamar menuju ke dapur dengan handuk yang hanya menutupi bagian bawah gue aja.


Saat di dapur, gue mencari cemilan yang ada di kulkas. dan cukup beruntung gue, di kulkas ada kue coklat yang bisa gue makan.


Tanpa basa basi lagi, gue langsung melahap gue itu sambil berjalan kembali ke kamar gu.


Kue itu habis, bertepatan dengan gue yang baru sampai di dalam kamar. Setelah meletakkan piring bekas kue itu di tas meja belajar gue, gue langsung bersiap untuk pergi ke markas.


Setelah selesai bersiap, gue langsung melangkah keluar dari kamar gue melewati pintu rahasia itu.


"Selamat malam, Tuan." sapa Jordan.


"Malam." jawab gue setelah menutup pintu itu, lalu melangkah menuju mobil.


Mobil pun langsung berjalan, setelah gue dan Jordan sudah duduk di dalam mobil.


"Oh ya, bagaimana yang aku perintahkan tadi?" tanya gue.


"Saya sudah selesai mengurusnya, Tuan. Perusahaan orang tua anda juga bisa terselamatkan, berkat anda bersama investor yang sudah saya pilih." jelasnya.


"Syukur lah...tapi berapa yang jmu berikan?"


"Awalnya, ayah anda meminta 200 miliyar. Tapi, kakak dari ayah anda sekaligus direktur utamanya, meminta 500 miliyar."


"Hah...pria itu memang selalu mengambil keuntungan." gumam gue.


"Apa kamu sudah memberikan uang itu?"


"Tentu saja, Tuan. Setelah rapat tadi, saya langsung memberikan uang itu secara tunai."


"Baiklah, terima kasih atas bantuan mu." ucap gue.


"Perkataan anda adalah perintah bagi saya, Tuan." jawabnya.


"Ya..." balas gue.

__ADS_1


Gue pun kembali diam, sambil menatap kesisi kanan mobil.


Bersambung


__ADS_2