Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Kemana Bryan Membawa Gue Pergi?


__ADS_3

Tak terasa, sekarang sudah pukul 5 pagi. Gue yang tidak tidur semalaman dan hanya duduk di sofa sambil meminum whiskey. Gue takut, kalau gue tidur nanti. Jessica bakal bangun dan tiba-tiba menangis karna apa yang Ia alami semalam.


Gue berkali-kali mengecek keadaan gadis itu semalaman. Karna takut Ia akan kedinginan sebab tidak memakai pakaian dan hanya memakai selimut saja, akhirnya gue memilih untuk memakaikannya baju yang telah di siapkan oleh Jordan.


Saat membuka selimut itu dari tubuh Jessica dan sekali lagi gue melihat tubuhnya tanpa memakai pakaian, gue hampir menerkamnya. Gue sampai menampar pipi gue berkali-kali, agar gue tidak termakan nafsu gue sendiri.


Pria mana yang bisa mengendalikan nafsunya sendiri jika di depannya ada seorang gadis yang tidak memakai pakaian, dan lagi. Gadis itu berbaring lemas di hadapannya.


Kalau ada Pria yang berkata bahwa dirinya bisa menahan nafsu di depan gadis seperti itu, itu hanya perkataan saja. Lihat saja beberapa menit kemudian, pasti Ia akan menerkam gadis itu.


Setelah selesai memakai baju, gue kembali menutupi tubuh gadis itu dengan selimut. Lalu berjalan kembali ke sofa.


Disaat gue lagi fokus menatap Jessica dari kejauhan sambil meminum segelas whiskey, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu gue.


"Masuk!" sahut gue, lalu meletakkan gelas itu ke atas meja.


"Maaf mengganggu, Tuan." ucap Jordan sambil menunduk


"Ada apa?" tanya gue.


"Apa hari ini anda ingin izin tidak hadir ke sekolah? Ini sudah pukul 5 pagi, Tuan." tanyanya.

__ADS_1


"Tidak, aku akan hadir. Beri izin saja ke wali kelas Carmelia, dan beritahu orang tuanya bahwa Putrinya masih di pinjam." jawab gue.


"Baik, Tuan." balasnya.


"Oh ya, saya sudah mengirimkan mobil ke rumah Orang Tua Nona. Mereka terlihat sangat senang dan berkata bahwa anda boleh meminjam Putrinya kapan saja, dan lakukan apapun yang anda inginkan kepada Nona." lanjutnya.


"Cih! orang tua macam apa yang menjual Putrinya sendiri, menjijikan!" kesal gue.


"Kita ke basment, aku akan pulang sekarang!" perintah gue sambil berdiri.


"Jaga Carmelia, jika dia menangis ataupun merasakan sakit. Telpon saja Hendra, suruh dia untuk menenangkannya. Dan jangan lupa untuk melaporkan segala aktivitasnya selama di markas. Jika dia ingin kembali kerumahnya, antarkan saja. Tapi perintahkan 4 orang untuk menjaganya sampai malam hari." jelas gue.


"Baik, Tuan." jawabnya sambil menunduk.


Selama di perjalanan menuju rumah, gue menyandarkan punggung gue dan memejamkan mata gue. Walaupun tidak tertidur, setidaknya gue bisa sedikit merilekskan mata gue yang mulai kemarin tidak bisa beristirahat.


Dan pada akhirnya, ulang tahun gue berakhir dengan buruk. Ini hari ulangtahun terburuk yang pernah gue alami.


***


Tepat pada pukul 07.35 gue sampai di sekolah dengan menaiki sepada. Saat di lorong sekolah menuju k kelas gue, gue tiba-tiba mendegar perbincangan para murid mengenai Bryan yang datang kesekolah dengan wajah yang babak belur.

__ADS_1


*Masih ada muka aja tuh bocah ke sekolah.* batin gue yang mulai kesal jika mengingat kejadian semalam.


Saat gue sampai di kelas, gue mendegar seseorang yang membicarakan Jessica. Gue akhirnya duduk di kursi gue sambil mendengarkan perbincangan mereka.


"Semalam gue liat Jessica di gendong sama cowok, ganteng banget gila! Mana di belakang tuh cowok banyak banget Pria-pria yang memakai pakaian formal. Udah kayak bodyguard aja." ucap Murid 1 yang entah siapa, karna gue tidak bisa melihat wajah mereka.


"Jangan-jangan itu pemimpin mafia yang jadi perbincangan semalam. Soalnya, semalam gue denger dari salah satu pelayan. Ada tamu spesial dari kalangan Mafia, dan katanya itu pemimpinnya." sambung Murid lainya.


*Lah? kok kedatangan gue tersebar, sih!? gue kan udah buat peraturan, jangan ada yang membicarakan kedatangan gue di sana. Haduh! tuh pelayan harus di pecat!* batin gue.


"Sumpah!? masa pemimpin Mafia Masi muda, sih? Gu kira pemimpin mafia tuh kayak om-om tua yang mukanya penuh luka." sahut Murid yang lain.


Mendengar itu, gue langsung tersedak air liur gue sendiri. Untungnya saja itu tidak menarik perhatian murid yang ada di kelas gue.


*Anjir! gue di bilang kayak om-om!? gini-gini muka gue mulus kayak pantat bayi, gak ada luka sedikit pun, tau!!* batin gue yang mulai kesal dengan perbincangan mereka.


Tapi, tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk meja gue. Gue langsung menegakkan kepala gue dan menatap seseorang itu.


*Ngapain nih bocah di depan gue? mau nyari masalah lagi?* batin gue.


"Ke-kenapa?" tanya gue.

__ADS_1


"Ikut gue!" ucapnya dan sontak menggenggam pergelangan tangan gue, lalu menarik gue keluar dari kelas.


BERSAMBUNG


__ADS_2