
AUTHOR POV*
Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba. Pernikah yang hanya di hadiri seisi kastil dan juga seorang pendeta. Kastil pun hanya dihias bagian dalamnya saja, sedangkan bagian luar terlihat seperti di hari-hari biasanya.
Marcel yang sedang menunggu Carmelia dengan stelan berwarna hitam dan rambut yang di tata sangat rapi. Walaupun wajah Pria itu terlihat biasa saja, tapi di dalam lubuk hatinya banyak kegelisahan yang menghantuinya.
Seorang pendeta yang sedang berjalan kearah Marcel dengan sebuah Alkitab di tangan kanannya.
"Selamat Pagi, Tuan." sapa Pria itu sambil menunduk.
Marcel yang tadinya sedikit melamun, sontak tersadar dari lamunannya dan menjawab sapaan Pendeta itu. "Pagi, bagaimana kabar anda?"
"Kabar saya baik, Tuan. Bagaimana dengan anda?"
"Cukup baik."
"Anda tumbuh dengan baik, sekarang. Anda menjadi sangat tampan, saya hampir saja mengira kalau Pria yang di hadapan saya ini bukan Anak lelaki yang dulu saya temui." puji Pendeta itu.
"Haha...tidak juga, saya tumbuh seperti apa seharusnya."
"Semoga Tuhan Yesus selalu melindungi anda."
"Amin~"
Tak lama kemudian, Seorang Wanita yang menggunakan gaun berwarna hitam dengan serbuk berlian yang menghiasi gaun lebar itu, melangkah menuruni anak tangga dengan di bantu oleh para pelayan dan juga Vernon di sampingnya.
Marcel yang melihat wajah calon istrinya itu sontak membatu tanpa sepatah kata pun.
"Tuan, saya izin undur diri dulu." ucap Pendeta itu, tapi Marcel tidak menghiraukannya.
Carmelia yang melangkah semakin dekat dengan kearah Pria itu, dan berdiri tepat di depan Marcel.
__ADS_1
"Hei! kenapa diam aja!?" tegur Carmelia.
Marcel yang tersadar, langsung menjadi salah tingkah sendiri, dan berkata. "Ti-tidak, aku tidak diam. aku hanya... ah! tak tau lah!!"
*Dasar aneh!* batin Wanita itu.
Vernon yang melihat tingkah Tuannya itu, Ia hanya tersenyum kecil. Pria itu tiba-tiba meraih tangan Marcel, dan memberikan tangan Carmelia sambil berkata. "Semoga kalian selalu hidup bersama."
Kedua orang itu sontak menatap Vernon dengan tatapan terkejut.
"Terimakasih~" jawab Wanita itu sambil tersenyum.
Vernon membalasnya dengan sebuah senyuman, lalu berkata. "Baiklah, sekarang kalian harus bersiap untuk menghadap ke pendeta."
"Apa kalian sudah membaca janji pernikahan?" tanya Vernon, dan mereka berdua hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Kalau begitu saya izin undur diri, semoga pernikahan ini berjalan dengan lancar." ucap Vernon, lalu membungkuk sekilas dan melangkah pergi dari hadapan mereka.
"Tidak buruk, setidaknya tidak membuat ku bosan dengan wajah mu!" canda Marcel.
Mendengar candaan Pria itu, Carmelia merasa kesal dan langsung mencubit pinggang kanan Pria itu. dan mmebuat Marcel merintis kesakitan.
"Aku hanya bercanda, kenapa kau mencubit ku? istri macam apa kau ini?" kesal Marcel sambil memegang pinggangnya.
"Suami macam apa kau, tidak memuji istrinya? kau tau tidak? aku bersiap dari jam 6 pagi, sampai jam 9! dan kau malah berkata 'tidak buruk'? dasar Pria jelek!!!" geram Wanita itu.
"Aku benar-benar hanya bercanda, Carmelia~ jangan membuat ku merasa bersalah karna candaan ku ini."
"Aku bukannya tidak ingin memuji mu, tapi aku tidak tau harus berkata apa. Karna kau tampil dengan sangat~ cantik di depan semua orang, rasanya aku ingin menyuruh mu menghapus riasan mu itu. Agar semua orang tidak melihat wajah cantik mu ini."
"Apanya yang semua orang? disini hanya para bawahan mu saja! bagaimana kalau aku meminta pernikahan yang biasa dan di hadiri beribu-ribu orang? apa kau akan mmbuat ku memakai piyama dengan wajah bantal ku? kau benar-benar gila, Marcel!!"
__ADS_1
"Bukan seperti itu maksud ku, tapi—"
"Ah! sudahlah!! kita harus menghadap ke pendeta sekarang." potong Wanita itu, lalu menggandeng tangan kiri Marcel.
Pernikahan rahasia itu pun dimulai. Kedua mempelai berjalan di atas karpet merah menuju ke arah pendeta yang sedang berdiri dengan Andre di sampingnya.
"Kedua mempelai yang kekasih, setelah saudara memutuskan bersama untuk hidup sebagai suami isteri di dalam terang kasih karunia Kristus, maka sekarang kami mengundang saudara saudara berdiri, sambil berjabatan tangan dihadapan Allah dan sidang jemaatnya dan menyatakan kehendak dan janji saudara saudara." ucap Pendeta itu, setelah Carmelia dan Marcel berdiri tepat di hadapannya.
"Kedua mempelai dipersilahkan untuk berjabat tangan bersama, dan ucapkan janji pernikahan." lanjutnya.
Carmelia dan Marcel pun saling berhadapan dan mengulurkan tangan kanan mereka masing-masing. Setelah tangan mereka bersatu, Marcel pun mulai mengucapkan Janji pernikahan.
"Saya Marcel Anggara berjanji, akan menerima engkau Carmelia sebagai istriku yang sah dan satu-satunya dari sekarang ini dan seterusnya, baik pada waktu senang atau susah, baik pada waktu kaya atau miskin, pada waktu sehat ataupun sakit. Saya berjanji, akan mencintai, mengasihi dan selalu hidup bersama-sama dengan rukun dan damai dan hanya maut yang dapat menceraikan kita sebagaimana yang difirmankan Tuhan. Saya mengucapkan janji ini, dengan hati yang sungguh-sungguh dihadapan Allah dan siding jemaat-Nya."
"Saya Carmelia berjanji, akan menerima engkau Marcel Anggara sebagai suamiku yang sah dan satu-satunya, dari sekarang ini dan seterusnya, baik pada waktu senang atau susah, pada waktu kaya atau miskin, pada waktu sehat ataupun sakit. Saya berjanji, akan mencintai dan selalu hidup bersama-sama dengan rukun dan damai dan hanya maut yang dapat menceraikan kita sebagaimana yang difirmankan Tuhan. Saya mengucapkan janji ini, dengan hati yang sungguh-sungguh dihadapan Allah dan sidang jemaat-Nya."
Setelah mengucapkan janji pernikahan, Pendeta pun mengambil cicin pernikahan dari tangan Andre dan memperlihatkannya kepada kedua mempelai sambil berkata. "Cincin perkawinan ini adalah lambang perkawinan dari dua segi: kemurnian emas melambangkan kemurnian cinta saudara satu sama lain, dan lingkaran yang tak berujung melambangkan janji yang telah saudara ucapkan yang tidak pernah berakhir yang tidak dapat diputuskan secara apapun dihadapan Allah kecuali karena kematian. Sebagai sebuah tanda bagi janji saudara, saudara memberikan dan menerima cincin."
Lalu pendeta itu pun memberikan cicin wanita kepada Marcel, dan Marcel pun memasangkan cicin itu Kejari manis Carmelia sambil tersenyum kecil. Begitupun sebaliknya.
Para Bawahan Marcel yang menyaksikan pertukaran cicin itu, bersorak riang untuk kedua mempelai.
Pendeta itu pun meletakkan tangan kanannya diatas tangan kanan kedua mempelai yang berjabatan tangan dan berkata. "Saudara Marcel Anggara dan Carmelia, berdasarkan kasih setia Tuhan Yesus yang menyebut diri-Nya mempelai jemaatNya, kami meneguhkan/nikahmu dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. Kenakanlah kasih sebagai pengikat yang menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena itulah kamu telah dipanggil menjadi satu, untuk melakukan tujuan hidup penuhi bumi dengan kemuliaan Allah"
Setelah Berlutut di hadapan pendeta dan mendapatkan doa berkat Allah dan perkawinan. Pendeta mempersilahkan mempelai laki-laki untuk membuka cadar mempelai wanita. Mempelai pria dipersilahkan memberikan ciuman kudus kepada mempelai Wanita.
Dengan perlahan Marcel melangkah mendekati Carmelia, dan membuka cadar transparan yang menutup wajah Wanita itu. Marcel pun mendekati wajah Carmelia, dan mencium bibir Jessica dengan lembut.
Sorakan dan ucapan selamat mulai terdengar di telinga mereka berdua. Pernikahan Rahasia yang tiba-tiba itu pun akhirnya selesai dengan sebuah ciuman yang mesra.
BERSAMBUNG
__ADS_1