Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Hari Yang Biasa Saja


__ADS_3

  Setelah malam yang cukup panjang, dan juga cukup membuat gue kesusahan. Akhirnya jam di tangan gue sudah menunjukkan pukul 05.00.


  Seperti malam sebelumnya, gue gak ada tidur malam ini. Gue hanya menghabiskan malam gue dengan berdiam diri sambil meminum weskay.


  Sedangkan Jessica? tentu saja dia kembali tidur, setelah meminum obatnya. Dia tidur di ranjang gue, karna gue takut akan terjadi sesuatu lagi dengannya. Akhinya gue membiarkannya tidur di ranjang gue lagi dan lagi.


  Gue pun melangkah menuju gadis itu, dan langsung membangunkannya dengan menyebut namanya sambil menggoyangkan tubuhnya.


  "Jes...bangun!" ucap gue.


  "Eemm...iya..." jawabnya sambil merenggangkan tubuhnya.


  "Buruan ganti baju, nanti di antar sama Dika. Gue pergi duluan, ya. Bye." sambung gue lalu berjalan ke arah meja, untuk mengambil ponsel dan juga jas gue. dan langsung berjalan keluar ruangan gue.


  "Selamat pagi, Tuan." sapa Jordan dan Dika, sambil menunduk.


  "Pagi, jangan lu untuk mengantar gadis itu." ucap gue.


  "Baik, Tuan." jawab Dika.


  Gue pun langsung melangkah pergi menuju basement, dan diikuti Jordan di belakang gue.


  Setelah sampai di dalam mobil, tanpa basa-basi lagi supir itu langsung menginjak gas dan pergi menuju rumah gue.


  "Tuan..." panggil Jordan.


  "Ada apa?" tanya gue santai.


  "Apa anda tidak berniat untuk memegang kartu ATM anda sendiri? Saya takut, jika anda membutuhkan sesuatu hal yang mendesak, dan saya tidak bisa langsung membantu anda. Jadi, akan lebih baik kalau anda memegang 1 kartu ATM anda." jelasnya.


  "Tidak perlu, aku yakin kamu pasti bisa langsung datang jika aku membutuhkan mu. Jadi pegang saja semua kartu ATM ku, aku cukup malas berurusan dengan kartu-kartu itu." ucap gue.


  "Baik, Tuan." jawabnya.


  "Oh ya, apa kamu sudah menghubungi orang dalam itu? aku tidak ingin mobil yang sangat ku inginkan, tidak bisa ku miliki " sambung gue.


  "Sudah, Tuan. Tepat pada pukul 10 pagi nanti, mobil itu akan langsung di luncurkan dan salah satu dari mobil itu akan menjadi milik anda. Saya menjamin itu, Tuan."


  "Aku akan menunggu kabar dari mu."


  "Baik, Tuan."

__ADS_1


  Tak lama kemudian, kami pun sampai di depan gang yang ada di samping rumah gue. Setelah pintu mobil di buka oleh Jordan, gue langsung melangkah keluar.


  "Semoga hari anda menyenangkan." ucap Jordan sambil menunduk.


  "Ya, sampai jumpa lagi." jawab Gue dan langsung melangkah dengan cepat menuju pintu rahasia gue.


  Saat sampai di kamar, gue dengan cepat masuk kedalam kamar mandi dan menyembunyikan pakaian yang gue pakai tadi.


  Setelah selesai bersiap, gue langsung keluar dari kamar dan tak lupa untuk mengunci pintu kamar gue. Gue pun melangkah menuju meja makan dengan menggendong tas di punggung gue.


  "Pagi..." sapa gue sambil duduk di kursi tepatnya di samping Rizky.


  "Mau makan apa?" tanya Nyokap gue.


  "Nasi, aku lapar banget." jawab gue.


  "Oke." balas Ibu gue dan langsung mengisi piring gue dengan nasi goreng dan juga telur goreng.


  Tanpa basa-basi lagi, gue langsung melahap sarapan gue.


  "Oy! lu lagi banyak duit, ya? kok lu transfer 5 juta?" bisik Rizky.


  Gue yang mendengar itu, sontak terkejut sampai-sampa gue tersedak nasi gue sendiri.


  "Makanya pelan-pelan, nih minum." sahut Nyokap gue sambil memberikan segelas air putih.


  Gue langsung mengambil gelas itu, dan meminumnya dengan cepat.


  "Hah..." hela nafas gue sambil meletakan gelas itu di samping piring gue.


  "Serius? gue kirim 5 juta?" bisik gue.


  "Iya, serius! Gue aja kaget, tapi makasih loh." bisiknya.


  "Berarti gue salah kirim, dong? ini gara-gara lu nelpon malam-malam, kan gue ngantuk." gerutu gue.


  "Gak papa lah, sekali-sekali bantu Abang." jawabnya.


  "Serah lu, dah." balas gue.


  *Jordan kayanya minta di hukum, ya? disuruh transfer 2 juta, malah transfer 5 juta. Bolot banget, hampir ketahuan gue!* batin gue dan langsung melanjutkan sarapan gue dengan cepat.

__ADS_1


  Setelah selesai sarapan, gue langsung berpamitan dengan orang tua gue lalu pergi ke sekolah dengan sepeda gue.


  Pagi ini gue hanya berharap, tidak ada masalah lagi di sekolah. Bukan hanya itu, gue juga berharap semoga saja gue tidak bertemu dengan Jessica.


  Tapi, terkadang apa yang kita minta malah di berikan yang sebaliknya. Seperti gue ini, gue yang baru sampai di parkiran, sudah melihat wajah songong Jessica saat di sekolah.


  *Semoga dia gak ngeliat, gue.* batin gue sambil memarkirkan sepeda gue.


  Tapi tiba-tiba saja Amel salah satu teman satu geng Jessica, menepuk pundak gue lalu berkata. "Siapa nih? pagi-pagi udah bikin mood gue gak enak aja."


  Gue hanya bisa menunduk doang. Bukannya takut, tapi gue cuma malas berurusan sama cewek kalau pagi-pagi gini.


  "Maaf, gue bakal pergi sekarang." jawab gue dan sontak melangkah.


  Tapi Amel tiba-tiba menarik tas gue dengan kuat, lalu berkata. "Siapa yang suruh lu pergi, hah?!!"


  "Ma-maaf..." jawab gue.


  "Sudah lah, lepasin aja. Gue mau ke kelas, panas banget di luar." sahut Jessica.


  "Tapi, Jes—"


  "Udah, ayo." potong Jessica dan sontak menarik tangan Amel yang menarik tas gue, lalu pergi.


  *Dia bantuin gue?* batin gue sambil menatap Jessica yang sudah cukup jauh itu.


  *Bodo lah!* batin gue dan langsung berjalan menuju kelas gue, dan tentu saja sambil menundukkan kepala gue.


  Setelah sampai di kelas, anehnya tidak ada lagi yang menggangu gue. Tapi tatapan mereka masih saja mengarah ke gue.


  Gue baru sadar kenapa gak ada yang ganggu gue, dan ternyata alasannya adalah Bryan dan teman-temannya tidak masuk ke sekolah.


  *Hari ini bakal biasa aja, syukur deh.* batin gue sambil duduk di kursi gue.


  Tak lama kemudian, pelajaran pun dimulai. Semuanya memang berjalan seperti biasa, tanpa ada seorang pengganggu dan juga seorang gadis yang taunya nyusahin orang mulu.


  Selama pelajar, ataupun saat istirahat. Gue menjalani hari gue dengan santai, di tempati dengan para teman-teman gue, alias buku-buku.


  Walaupun, sesekali gue bertemu dengan Jessica. Gue tetap berusaha seperti tidak mengenalnya, begitupun dia yang juga memainkan perannya seperti biasa.


  Semuanya berjalan sesuai perkiraan gue, sampai jam pulang sekolah. dan seperti biasa, saat sampai dirumah gue memilih untuk beristirahat selama satu jam, setelah itu langsung bersiap untuk pergi markas.

__ADS_1


  Bersambung


__ADS_2