
Saat sampai dirumah, gue langsung mengganti pakaian gue lalu berbaring di atas ranjang, dan mencob untuk tidur.
Seperti dugaan gue, gue bisa tidur kalau dirumah. Padahal, gue lebih sering tidur di markas dari pada di rumah.
Malam ini, gue bisa tidur sampai 5 jam. Entah sudah berapa lama gue tidak tidur selama itu.
***
Tak terasa, pagi hari pun tiba. Gue yang baru bangun, dan duduk di atas ranjang untuk mengumpulkan kesadaran gue.
"Hah...padahal tadi malam gue gak minum." gumam gue.
Gue pun turun dari ranjang, dan berjalan menuju kamar mandi dengan kaki yang sangat berat untuk di gerakkan.
Setelah beberapa menit di dalam kamar mandi, akhirnya gue keluar dari ruangan yang sangat dingin itu, dan langung berjalan menuju lemari pakaian gue untuk memakai seragam sekolah.
Sebenarnya kalau pakai seragam tuh gak lama, tapi yang bikin lama tuh nyisir rambut biar rapi dan keliatan culun. dan lagi, gue sering banget lupa taro kacamata gue.
Entah tuh kacamata punya kaki, atau bisa pindah-pindah sendiri. Tiap hari gue selalu nyari tuh kacamata.
Setelah selesai dengan penampilan gue, gue langsung keluar dari kamar sambil menenteng tas gue.
"Pagi." sapa gue sambil duduk di kursi.
"Pagi." jawab kedua orang tua gue.
Tapi anehnya, mereka kelihatan seperti sedang memikirkan sesuatu, dan sepertinya itu sebuah masalah.
"Ada apa, Bu? apa ada masalah?" tanya gue.
"Hah?! cuma masalah kecil." jawab Nyokap gue dan tentu saja itu bohong.
"Hm...Pa, ada masalah apa?" tanya gue lagi.
"Papa lagi butuh uang, perusahaan Papa lagi dalam bahaya. Papa butuh investor, biar perusahaan Papa selamat." jelasnya.
"Jangan ngaco! mana ada orang yang mau jadi investor di perusahaan kecil kayak kita ini. Lagian, seharusnya kakak kamu juga bantu dong, dia kan yang jadi direktuny, bukan kamu!" oceh Nyokap gue.
"Lu sih, nanya! malah kelai kan!" bisik Rizky.
"Gue kan penasaran, masa gak boleh nanya." jawab gue.
"Memang berapa yang perusahaan Papa butuhin?" sambung gue.
"Du-dua ratus miliyar." jawab Bokap gue ragu.
"Tuh kan, gak bakal ada orang yang mau ngasih sebanyak itu!!" sahut Nyokap gue.
__ADS_1
"Gak ada yang mustahil, Bu. Yang sabar ya, Pa. Reyhan yakin, pasti bakal ada yang mau jadi investor di perusahaan Papa." ucap gue.
Gue langsung meminum secangkir teh yang sudah tidak terlalu panas, dan sekali tegukan.
"Kalau gitu, Reyhan pamit dulu ya." sambung gue sambil berdiri.
"Hati-hati." ucap Bokap gue.
"Iya, Pa." jawab gue lalu melangkah keluar rumah.
Karna masih banyak waktu untuk ke sekolah, gue lebih memilih untuk jalan kaki dari pada naik sepeda.
Bukan cuma karna masih banyak waktu, gue juga mau nelpon Jordan untuk membantu Bokap gue.
Setelah udah cukup jauh dari rumah, gue langsung mengeluarkan ponsel gue dari saku celana gue, lalu menelpon Jordan.
"Ada apa, Tuan? tumben sekali anda menelpon di pagi hari."
"Aku punya tugas penting untuk mu!"
"Apa itu, Tuan?"
"Orang tua ku sedang menjadi seorang investor. Aku minta, kamu menyamar sebagai seorang investor untuk perusahaan mereka. Langsung berikan uang yang mereka butuhkan, berapapun itu. dan..."
"Pilih perusahaan yang telah aku rebut, untuk bekerjasama dengan perusahaan orang tua ku. Pilih lah perusahaan terbaik yang sangat cocok dengan perusahaan orang tua ku!"
"Oh ya, jangan sampai Ia curiga kalau kamu sengaja menjadi investor di perusahaan kecil itu."
"Baik, Tuan. Apa ada lagi, Tuan?"
"Tidak ada, Lakukan saja sesuai perintah ku."
"Tentu saja, Tuan."
"Baiklah."
Gue pun langsung memutuskan telpon itu, lalu kembali memasukkan ponsel gue ke dalam saku celana gue.
Tanpa gue sadari, ternyata gue sudah dekat dengan sekolah. Gue langsung mempercepat langkah gue, dan masuk ke dalam sekolah dengan menjadi Reyhan yang selalu menunduk.
Gue pun berjalan menuju kelas gue dengan santai. Saat sampai di kelas, sudah ada Bryan yang menyambut gue dengan tatapan tajamnya.
*Gak usah nyuruh-nyuruh, gue lagi capek! habis jalan kaki.* batin gue sambil berjalan menuju meja gue.
"Woi!! kutu buku!!" teriak Bryan.
*Harapan gue memang gak pernah terkabul.* batin gue, lalu berbalik.
__ADS_1
"A-ada apa?" tanya gue.
"Sini lu!!" ucapnya.
Gue langsung melangkah menghampirinya, sambil memegang kedua tali tas yang ada di depan pundak gue.
"Ke-kenapa?" tanya gue setelah berdiri didepannya.
"Gue denger, perusahaan bokap lu bakal bangkrut, ya?" tanyanya.
"Eng-engak!" jawab gue.
"Gak usah bohong, deh!! kita udah denger kali, malah satu sekolah ini udah denger." sambung teman Bryan.
*Apa urusannya sama kalian? perusahaan kecil aja masih kalian peduliin, dasar orang gabut!* batin gue.
"Mau gue bantu, gak? gue bisa ngasih uang sebanyak yang lu mau." tawar Bryan.
"Gak usah, bokap gue udah dapat bantuan." tolak gue.
"Lu nolak bantu gue!!?" geramnya.
"Padahal, gue udah baik-baik nawarin lu. Tapi malah di tolak, rasanya harga diri gue habis di injak-injak, nih!" lanjutnya.
*Bocah kayak lu, bisa ngasih berapa sih? paling juga cuma puluhan juta.* batin gue.
"Kenapa lu diam aja, sih!!!?" teriak orang yang berdiri di samping gue.
"Ma-maaf." jawab gue.
"Sudah-sudah, jangan di marahin dong. Kan kasian, keluarganya lagi kesusahan." sambung Bryan.
*Gue gak butuh belas kasian lu, tai!!!* batin gue.
Tiba-tiba bel masuk pun berbunyi. Gue berasa sedikit beruntung karna sebentar lagi guru pasti akan masuk ke kelas.
"Lu boleh pergi!" ucap Bryan.
"I-iya." jawab gue, lalu berbalik dan langsung berjalan menuju meja gue.
Tak lama kemudian, guru pun datang dan langsung memulai pelajaran. Gue mengikut pelajaran dengan baik, tanpa memikirkan masalah keluarga gue.
Walaupun gue tau, sekarang orang tua gue mungkin lagi bertengkar dirumah atau bisa aja lagi sibuk buat cari investor kesana kemari.
Tapi, karna gue udah ngasih perintah ke Jordan. Gue bisa bebas dari masalah itu, tanpa memikirkan apapun.
Bersambung
__ADS_1