
Saat gue menatap Ibu gue, tiba-tiba Ia juga menatap gue dan mata kami saling bertemu. Gue yang terkejut, sontak mengalihkan pandangan gue kearah lain dan berusah untuk tidak melihatnya lagi.
"Ada apa, Bu? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Hendra.
"Itu...Dok. Putra saya merasakan sakit di bekas peluru itu." jawabnya yang membuat gue terkejut dan langung kembali menatap wajahnya.
"Kenapa, Ibu tidak memanggil Dokter lainnya?! Ada banyak Dokter disini! hal itu harus cepat diperiksa, Bu!" geram Hendra dan sontak berlari entah kemana.
Ibu gue langsung meenyusul Hendra dengan cepat. Karna gue khawatir plus penasaran, gue akhirnya mengikuti mereka dari belakang.
Akhirnya gue sampai di depan ruangan yang cukup berbeda dengan ruangan lainnya, gue ada sedikit rasa lega karna rumah sakit ini menyiapkan Ruangan yang sangat baik untuk keluarga gue.
Tapi, saat gue mengintip kedalam ruangan itu. Hendra sudah sibuk memeriksa Rizky yang sedang meringis kesakitan. dan yang lebih buat gue sakit adalah, Ibu yang yang menangis tepat di depan mata gue.
Hati gue benar-benar sangat sakit, gue gak tega ngeliat keluarga gue menderita karna gue yang gak becus menjag mereka.
Rasa kecewa, sedih, marah bercampur menjadi satu dalam diri gue. Gue yang sudah tidak tahan, langsung berbalik dan berlari kembali ke ruangan gue.
Saat sampai di ruangan gue, gue langsung mencari ponsel gue dan menelpon Jordan dengan cepat.
"Selamat malam, Tuan. Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Beri perintah kepada mereka yang sedang menghukum paman ku, untuk membunuh Pria itu dan kirimkan mayatnya ke rumah keluarganya. Jangan lupa untuk tuliskan surat bahwa dia mencoba untuk membunuh keluarga ku, segera!!"
"Baik, Tuan. Akan segera saya beri perintah."
Tanpa menjawab apapun, gue langsung mematikan telponnya dan sontak duduk di sofa lalu meletakkan ponsel gue di atas meja yang ada di depan gue.
"Hah..." hela nafas gue lalu menopang kepala gue dengan kedua tangan gue.
Gue gak tau apa yang harus gue lakuin untuk keluarga gue. Disisi lain gue ingin memberitahu tentang identitas asli keluarga gue, agar mereka aman dan tidak ada yang berani untuk menyentuh mereka. Tapi, disisi lain juga gue takut, gue takut kalau gue ngasih tau semua orang tentang identitas keluarga gue. Para musuh akan mengincar nyawa mereka, agar bisa mengalahkan gue.
Sudah cukup Jessica yang sekarang menjadi incaran para musuh, gue gak mau menambah korban lagi. Apalagi korbannya orang yang gue sayang. Gue paling benci itu.
"Hah...mungkin ini yang di maksud Tuan Anggara." gumam gue.
"Kamu memang akan menjadi hebat dan sangat di takuti oleh semua orang. Tapi, kehebatan mu itu tidak akan ada gunanya jika keluarga mu yang sedang dalam bahaya. Yang bisa kamu lakukan, hanya diam dan merelakan mereka terbunuh. Hanya itu, tapi pada akhirnya kamu akan membunuh sang pembunuh Keluarga mu itu dan menyesali hidup mu karna tidak bisa menyelamatkan mereka."
Ucapan itu lah yang terbayang di pikiran gue sekarang, dan anehnya hal itu sudah setengahnya terjadi. Tapi gue gak mau keluarga gue terbunuh dengan tragis. Gue tau kematian pasti akan menghampiri mereka, tapi bukan dengan cara di bunuh yang gue inginkan.
"Gue tau!! gue tau Tuan Anggara juga merelakan orang tuanya dan Istrinya. Tapi, apa gue gak bisa!!? apa gue gak bisa nyelamatin nyawa mereka? apa gue gak bisa!!?" geram gue kepada diri gue sendiri.
Disaat gue lagi sedih, tiba-tiba ponsel gue berdiring. Awalnya gue menolak telpon itu, tapi sekali lagi Ia menelpon gue. Gue akhirnya megambil ponsel gue dan langsung mengangkat telpon itu tanpa melihat siapa sang penelpon itu.
"Ada masalah apa? kamu sangat menggangu ku!!"
__ADS_1
"Reyhan? ini Ibu."
"Ibu!?"
Gue langsung menegakkan tubuh gue, dan memasang ekspresi terkejut.
"Iya, Rey. Sekarang kamu dimana, Nak?"
"Masih dirumah teman, Bu. Kenapa ya, Bu? tumben Ibu nelpon."
"Itu, apa besok kamu bisa nginap di rumah teman kamu lagi?"
"Loh? kenapa, Bu? Ada masalah apa?"
"Nanti Ibu ceritain, ya. Intinya, sementara ini kamu harus tinggal di rumah teman kamu dulu. Kalau udah aman nanti Ibu suruh pulang lagi."
"Hm...yaudah, Bu. Aku bakal nginap di rumah teman lagi."
"Yaudah, kamu yang sabar dulu ya. Semangat belajarnya, Ibu matiin dulu telponnya. Selamat malam, sayang."
"Bu! jangan di matiin dulu."
"Eh? kenapa? apa ada masalah?"
"Oh...belum, Nak. Ibu gak selera makan."
"Walaupun Ibu gak selera makan, setidaknya makan kue atau apa kek. Yang penting perut Ibu gak kosong, kalau kosong Ibu bisa sakit loh."
"Haha...iya,iya. Nanti Ibu makan, kamu udah makan kan?"
"Udah, Bu. Ibu gak usah khawatirin Reyhan, Reyhan pasti makan dengan teratur."
"Haha...kamu memang selalu ingat kalau soal makanan. Yaudah, Ibu matiin dulu ya."
"Iya, Bu."
Telpon pun terputus secara sepihak. Gue langsung berdiri dan melangkah keluar dari rungan gue, karna mendengar Ibu gue yang belum makan malam sampai sekarang.
*Gimana sih pelayanan di sini!? kok gak ada makan malam buat orang tua gue!? apa mereka mau mati?* batin gue sambil berjalan mencari Hendra.
Dan akhirnya gue menemukan Hendra, tapi Ia sedang berbicara dengan seorang wanita, dan wanita itu adalah Ibu gue sendiri. Gue pun menghampiri mereka dengan memang ekspresi datar, berusaha untuk mengendaikan amarah gue di depan Ibu gue.
"Hendra!" panggil gue, dan membuat mereka sontak menoleh menatap gue.
"Ada apa, Tuan?" sahutnya.
__ADS_1
"Eh...ini Tuan yang tadi berbicara bersama anda ya, Dok?" tanya Ibu gue.
"Ibu, Bu. Ini Tuan saya, sekaligus pemimpin Mafia." jawab Hendra.
"Ha-halo, Tuan. Selamat malam." sapanya sambil menunduk sekilas ke gue.
*Ayolah! jangan nunduk kayak gitu!* batin gue.
"Malam." balas gue.
"Hendra, apa kita bisa bicara sebentar?" sambung gue.
"Tentu saja, Tuan." jawab Pria itu.
"Kalau begitu, saya pami dulu Dok. Silahkan anda berbicara, selamat malam." ucap Ibu gue dan sekali lagi menundukan kepalanya, lalu melangkah pergi dari hadapan gue.
"Hah..." hela nafas gue.
"Apa ada masalah, Tuan?" tanya Hendra.
"Aku yng seharusnya bertanya kepada mu!! ada masalah apa dengan rumah sakit ini!? kenapa tidak ada yang memberikan makan malam untuk orang tua ku!!?" geram gue.
"Hah? apa yang anda maksud, Tuan? Rumah sakit ini sudah mempunyai jadwal untuk para pasien dan Orang tua anda juga pasti mendapatkan jatah makan malam itu. Dan anda juga tau, jika rumah sakit ini memiliki kantin yang terbuka selama dua puluh empat jam. Mana mungkin kami tidak memberikan makan malam kepada Orang Tua anda, kami juga masih menyayangi nyawa kami." jelasnya.
"Tapi, kenapa Ibu ku bilang kalau dia belum makan malam." tanya gue.
"Oh...saat saya ke ruangan keluarga anda tadi, saya memang sempat melihat nampan makanan di atas meja yang masih terisi penuh dengan makanan. Tampaknya, Ibu anda tidak memakan makan malamnya sendiri." jawabnya.
"Hah...suruh suster yang menjaga ruangan keluarga ku, untuk menyuruh Ibu ku makan malam. Paksa saja, setidaknya perutnya tidak kosong. Aku tidak ingin melihatnya sakit." perintah gue.
"Baik, Tuan. Tapi, bagaimana dengan anda? Apa anda ingin makan malam?" tawarnya.
"Tidak, aku hanya butuh alkohol." tolak gue.
"Maaf, Tuan. Saya melarang anda untuk minum alkohol selama seminggu."
"Apa!? seminggu!!?" teriak gue terkejut.
"Apa kamu gila? bagaimana bisa aku tidak meminum alkohol selama seminggu?"
"Ini demi kebaikan anda, Tuan. Saya sudah memberi anda keringanan untuk kali ini, jika anda melanggarnya lagi. Mungkin anda tidak akan bisa meminum alkohol selamanya."
"Hah...kamu benar-benar membuatku gila!" kesal gue, lalu berbalik dan melangkah pergi dari hadapan Hendra menuju kembali ke ruangan gue.
Bersambung
__ADS_1