
Setelah gue mendapatkan alat yang di beli oleh Jordan, gue langsung membuka kotaknya lalu mengeluarkan alat itu.
"Gimana cara pakainya?" tanya gue bingung.
"Lu tuh bego atau gimana, sih?!! Dibaca dong instruksinya!!" sahut Jessica.
"Marah-marah mulu, lu. Gue kan gak ngerti apa-apa, jadi wajar kalau kagak tau." protes gue.
"Serah lu!!" jawabnya.
"Hah..." gue hanya bisa menghela nafas saja lalu membaca kertas yang berisi cara pemakaiannya alat itu.
Setelah tau cara pemakaiannya, gue langsung mengisi air kedalam alat itu dan menchargernya agar air yang ada di dalam alat itu memanas.
Sambil menunggu, gue hanya duduk di ranjang gadis itu sambil menatap Jessica yang masih sibuk memegang perutnya.
"Perut lu masih sakit, ya?" tanya gue baik-baik.
"Udah tau masih aja nanya!!!" jawabnya ngegas.
"Gue nanya baik-baik, lu malah ngegas. Lu tau gak—?"
"Gak mau tau!!!" teriaknya.
*Sabar, sabar!! dia lagi sakit! sabar!* batin gue yang sudah tidak tahan untuk memarahi gadis itu.
"Kenapa lama banget, sih?!!" teriaknya lagi.
"Sabar, bego!!!" teriak gue.
"Lu dari tadi kenapa, sih?!! marah-marah mulu, gue dari tadi udah nahan buat gak marah, lu malah teriak-teriak. Gak lama tuh perut gue robek!! Heran!!" oceh gue.
Bukannya balik marah ke gue, Jessica malah menatap gue dengan mata yang berkaca-kaca.
"Perut gue sakit..." lirihnya dan tiba-tiba saja air matanya menetes.
"Lu nangis?" tanya gue heran.
"Sakit..." lirihnya lagi.
"Lu lagi latihan drama, ya? tadi marah-marah, sekarang nangis. Lu mau bikin gue gila, hah?!!" kesal gue.
Jessica hanya menatap gue dengan mata yang tak henti-hentinya mengeluarkan air mata dan juga bibir yang cemberut.
"Aarrghh!!!" teriak gue sambil mengacak-acak rambut gue sendiri.
"Gue harus apa? gue gak ngerti tentang cewek." ucap gue.
"Oh iya..." gumam gue yang baru teringat seseorang yang cukup paham tentang cewek.
"Jordan!!!" teriak gue.
"Ada apa, Tuan?" tanyanya yang baru masuk kedalam kamar ini.
"Cepat panggikan supir itu kemari!!" perintah gue.
"Baik, Tuan." jawabnya dan langsung pergi.
__ADS_1
"Reyhan...sakit..." lirihnya.
"Nama gue Marcel, woi!!" protes gue.
"Maaf..." ucapnya.
"Aaargh!!! serah lu dah, serah, serah!!" jawab gue yang sudah tidak tahan dengan gadis itu.
Tak lama kemudian, ada yang mengetuk pintu kamar gadis itu.
"Masuk!" sahut gue.
"Apa anda memanggil saya, Tuan?" tanya supir itu.
Gue yang melihatnya, langsung turun dari ranjang lalu menghampiri Pria itu dengan cepat.
"Beri tau aku, kenapa gadis itu menangis? Padahal, sebelumnya dia marah-marah. Tapi, kenapa tiba-tiba nangis?" tanya gue pelan.
"Oh...itu sudah biasa terjadi, Tuan. Mood para gadis sangat gampang berubah, apalagi saat datang bulan seperti ini." jawabnya.
"Lalu? apa yang harus aku lakukan?" sambung gue.
"Seperti pengalaman saya, saya selalu menidurkan pacar saya di pangkuan saya lalu mengelus rambutnya dengan lembut. Atau, anda bisa memeluknya, agar Ia bisa tenang." jelasnya.
Gue yang mendengar itu, sontak menengok ke Jessica, lalu kembali menatap Pria itu dengan mata yang membulat besar.
"Kamu becanda? mana mungkin hal sederhana seperti itu bisa membuat singa itu tenang, bisa-bisa aku yang di lahapnya." ucap gue.
"Terkadang, para gadis lebih menyukai hal sederhana dari pada hal luar biasa yang sama sekali tidak diinginkannya." sambungnya.
"Kalau begitu, saya izin undur diri lebih dulu. Permisi, Tuan." ucapnya sambil menunduk lalu pergi.
"Masih sakit?" tanya gue.
Ia hanya menganggukkan kepalanya saja. Tapi, untuknya Ia sudah berhenti menangis.
"Hm...lu ngantuk, gak?" tanya gue lagi.
Dia menjawab dengan gelengan kepala, tapi tiba-tiba berubah menjadi anggukkan.
*Dasar cewek plin plan!* batin gue.
Gue pun duduk di samping kepala gadis itu, lalu mengangkat kepalanya dan gue letakkan di atas paha gue.
*Tahan, tahan! Dari pada singa nya ngamuk, mending gue berkorban aja.* batin gue.
Gue pun mulai mengelus lembut rambut gadis itu. Tapi anehnya, gue gak berani buat natap ke gadis itu, gue hanya bisa mengalihkan pandangan gue ke arah pintu.
Entah sudah berapa menit gue mengelus rambutnya, tapi sepertinya sudah cukup lama.
Gue langsung melirik kebawah, dan menatap gadis itu yang ternyata sudah tertidur di pangkuan gue.
"Kalau udah tidur bilang, dong! gue kan capek ngelus lu mulu, udah kayak singa beneran dah." keluh gue.
Gue pun mengangkat pelan kepala gadis itu, dan langsung gue pindahkan ke atas bantal yang ada di samping gue.
"Astaga!! kompresnys!!" ucap gue dan langsung mengambil kompres yang ada di atas meja rias.
__ADS_1
Gue langsung melepas charger alat itu, lalu kembali ke ranjang Jessica dengan membawa kompres itu.
"Gue harus taruh di atas perutnya, kan?" gumam gue, lalu meletakkan kompres itu di atas perut Jessica dengan perlahan agar Ia tidak terbangun.
Saat gue menatap wajah gadis itu, gue malah ngeliat pemandangan yang tidak biasa.
Jessica tersenyum dalam tidurnya, walaupun hanya senyuman kecil saja. Itu tampak cukup jelas di mata gue.
*Cantik.* pikir gue.
Plak!!!
Gue menampar diri gue sendiri, lalu berkata. "Bego!! singa gini di bilang cantik? mata gue udah gak sehat, sumpah!!"
Gue pun langsung berdiri, dan melangkah keluar dari kamar gadis itu.
"Apa ada yang anda butuhkan lagi, Tuan?" tanya Jordan saat melihat gue keluar dari kamar.
"Apa malam ini benar-benar tidak ada jadwal?" tanya gue.
"Iya, Tuan. Malam ini anda tidak memiliki satu pun jadwal." jawabnya.
"Hah...aku sangat bosan." keluh gue.
"Apa anda ingin melakukan pesta, Tuan?" sambungnya.
"Tidak!" tolak gue.
"Aku akan kekamar ku saja, dan bawakan seorang gadis ke kamar ku!!" printah gue.
"Oh ya, bawakan juga 5 botol wiskey." lanjut gue.
"Baik, Tuan." jawabnya sambil menunduk.
Gue pun langsung berjalan masuk ke kamar gue. Lalu melepas jas gue, dan gue letakkan di atas meja.
"Hah..." hela nafas gue sambil duduk di sofa, lalu melepas 2 kancing atas kemeja gue.
Baru saja gue ingin memejamkan mata gue, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruang gue.
"Masuk!" sahut gue dan langsung melirik ke arah pintu.
Jordan yang membawa 5 botol wiskey dan juga 1 gelas, Ia langsung meletakkannya di atas meja.
"Siapa gadis itu?" tanya gue sambil menatap gadis yang ada di samping Jordan.
"Namanya Lina, Tuan. Ia gadis yang pernah menemani anda sebelumnya. jawab Jordan.
"Oh ya? Kemari lah!!" perintah gue.
Gadis itu pun langsung melangkah ke arah gue, lalu duduk di samping gue.
"Kamu boleh keluar, Jordan." ucap gue.
"Baik, Tuan." jawabnya sambil menunduk lalu keluar dari ruangan gue.
Bersambung
__ADS_1