Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Kematian


__ADS_3

Tak terasa, pagi hari pun telah tiba. Gue yang baru terbangun dengan mata yang sembab, langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi dan dengan cepat mengompres mata gue.


Berdiri di depan sebuah cermin lingkaran, sambil memegang kompres yang bersihkan es batu di tangan kanan gue. Menatap diri sendiri dengan mata yang sangat sembab karna menangis, benar-benar sangat menyedihkan bagi gue.


Mungkin itu pertama kalinya gue menangis sebanyak ini, setelah bertahun-tahun lamanya. Terakhir kali gue menangis, saat gue bertemu dengan Ayah untuk pertama kalinya.


"Haah...kelihatan seperti bocah itu." gumam gue yang menatap diri gue di dalam cermin.


Gue yang masih sibuk mengompres mata gue, tiba-tiba saja ada seseorang yang mengetuk pintu kamar mandi gue.


"Ya!? kenapa? Reyhan baru mau mandi." sahut gue.


"Gak usah mandi, cuci muka aja dulu. Dipanggil Ibu sarapan, cepat keluar!" balas Rizky.


"Ih ******! masa gue keluar dengan kondisi mata yang seperti ini? gila aja!" gerutu gue.


"Woi!! buruan!! udah di tungguin juga dari tadi!!" teriak Rizky sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi gue.


"Astaga, Ki!! Iya-iya gue keluar nih!!" balas gue, lalu meletakkan kompres itu di atas wastafel, dan berjalan kearah pintu.


"Sabar dikit kek, bisa rusak pintu kamar mandi gue gara-gara lu!" kesal gue sambil melangkah keluar dari kamar mandi.


"Serah gue lah!" jawabnya.


"Bodo lah!" ketus gue dan melangkah pergi meninggalkannya.


Setelah sampai di meja makan, gue langsung menyapa kedua orang tua gue lalu duduk di kursi gue.


"Gimana nanti, jadi?" tanya Bokap gue.


"Jadi, kan cuma mau liat-liat doang. Reyhan masih bingung mau masuk Universitas mana." jawab gue santai.


"Lu dikasih tawaran malah di tolak, bego banget sih!" celetuk Rizky.


"Rizky~ gak bokeh kayak gitu ke adik mu." ucap Nyokap gue.


"Tapi, Rey. Mata kamu kenapa sembab?" lanjutnya.


"Paling juga habis di putusin pacarnya." sahut Rizky.

__ADS_1


"Sok tau! gue gak punya pacar, tuh!" jawab gue.


*Yang ada calon Istri.* batin gue.


"Gak papa kok, Bu. Semalam kayaknya Reyhan mimpi buruk, makanya sampai nangis gini."


"Ada-ada saja! oh ya, Papa punya hadia buat mu." sambung Bokap gue sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya, dan memberikan benda itu ke gue.


"Loh? kunci mobil? untuk apa?" tanya gue heran, saat melihat benda apa yang ada tangan gue.


"Karna kamu sudah membuat orang tua mu bangga, jadi Papa mau ngasih sesuatu buat kamu. Walaupun mobilnya gak semahal mobil teman-teman kamu, yang penting bisa di gunain." jawabnya.


*Tapi untuk apa? gue juga gak bakal pakai mobil ini. Yang ada nih kunci mobil malah ikut masuk kedalam peti gue.* batin gue.


"Sebelumnya Reyhan berterimakasih banget sama Papa, tapi Reyhan lebih nyaman pakai sepeda dari pada mobil. Dan lagi Reyhan kan gak pernah belajar mengemudi. Jadi...lebih baik mobil ini buat Abang aja, kasian kulitnya gosong gara-gara naik motor mulu." ucap gue, dan memberikan kembali kunci mobil itu ke bokap gue.


"Lah? gue jadi gue yang kena? gue juga punya mobil, kali! gue lebih nyaman pakai motor aja, terlihat lebih keren."


"Tapi, kamu kan udah mau kuliah. Masa masih pakai sepeda? lebih baik terima aja, nak. Masalah di pakainya kapan itu terserah kamu, nanti kamu bisa minta tolong sama Abang mu buat belajar mengemudi." sambung Nyokap gue.


"Yasudah, Reyhan terima. Tapi Reyhan nitip sama Ibu dulu, ya. Kalau Reyhan mau pakai mobil, nanti Reyhan minta kuncinya sama Ibu."


***


Sudah waktunya untuk memulai misi itu. Karna tidak satupun orang yang berada dirumah selain gue, mungkin misi ini akan berjalan dengan sangat baik.


Gue yang sudah mengganti pakaian, langsung melangkah kearah pintu rahasia dan keluar melalui pintu itu. Tentu saja sudah ada Jordan dan satu orang Pria yang akan menggantikan gue dalam misi kali ini.


"Selamat Pagi, Tuan." sapa Jordan.


"Pagi, apa ini orangnya?" tanya gue.


"Ya, Tuan. Dia yang akan menggantikan anda." jawab Jordan.


"Ambil ini dan ganti pakaian mu di dalam." ucap gue sambil memberikannya sekantung pakaian.


"Kami akan selalu mengawasi mu, bersikaplah seperti apa yang sudah di rencanakan." lanjut gue.


"Ba-baik, Tuan." jawabnya, lalu melangkah masuk ke dalam kamar gue.

__ADS_1


Gue pun melangkah masuk ke dalam mobil yang berisikan monitor dimana semua tempat yang akan dilewati oleh Pria itu di rekam.


"Jalan!" perintah gue, dan mobil pun mulai bergerak.


Mengawasi Pria yang fisiknya sama persis dengan gue, dan wajah yang sengaja di buat semirip mungkin dengan gue, rasanya seperti mengawasi diri sendiri.


Cara gue mati cukup aneh. Gue mati karna terkena dampak bom bunuh diri, dan yang memakai bom bunuh diri itu juga termaksud orang bayaran Andre.


Awalnya kematian gue di pilih dengan cara tabrak lari, tapi hanya 50% keyakinan kalau Pria itu akan langsung mati. Dan pada akhirnya Andre memberikan Ide itu, dengan mempersiapkan beberapa orang yang juga akan ikut mati bersama Pria itu.


Dan sekarang jam sudah menunjukkan pukul 10.08, hanya tinggal 2 menit lagi untuk kejadian yang sangat gila di pusat kota.


"Berapa orang yang akan mati?" tanya gue ke Jordan.


"Delapan orang, sudah termaksud dengan Pria yang menggantikan anda dan yang membawa bom itu."


"Hm..." dehem gue yang fokus dengan layar monitor yang ada di hadapan gue.


*Tinggal hitungan detik.* batin gue saat melihat jam di tangan gue.


"10...9...8...7...6...5...4...3...2...1"


Suara bom yang sangat keras pun terdengar, di campur dengan suara teriakan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu.


Gue bisa melihat jelas isi perut dari Pria yang membawa bom itu, dan Pria yang menggantikan gue terlempar cukup jauh dan mengisahkan luka bakar di tubuhnya.


"Wow...kenapa polisi cepat sekali datangnya?" sahut gue heran saat melihat beberapa mobil polisi yang sedang menuju kearah tempat kejadian itu.


"Itu polisi yang ikut dalam misi ini, yang menjadi kekhawatiran sekarang adalah para reporter. Jika mereka sudah mulai menyiarkan kabar ini, keluarga anda akan langsung menghampiri tempat itu." ucap Jordan.


"Butuh berapa lama untuk memastikan mayat itu adalah mayat ku?"


"Paling lambat pukul 2 siang, Tuan. Mungkin sore hari baru anda bisa mengunjungi keluarga anda."


"Baiklah, kita ke kastil sekarang." perintah gue sambil menyandarkan punggung gue.


*Ini baru awalnya saja, belum lagi saat melihat Rizky yang tidak percaya kalau itu mayat adiknya. Mungkin akan banyak drama nantinya.* batin gue.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2