
Gue langsung duduk di sampingnya dan menatap wajahnya yang sudah memerah seperti tomat. Tapi, tiba-tiba Marcel terbangun dan menatap gue sambil tersenyum bahagia.
*Dia beneran mabuk.* batin gue.
"Halo Nona gue...apa kabar, baby? gue kangen banget sama lu..." racaunya yang tiba-tiba memeluk gue.
Gue yang terkejut langsung mendorongnya dengan kuat, sampai Marcel terbaring di sofa.
"Hehehe..." tawanya sambil menatap gue.
"Baru kali ini gue ngeliat dia mabuk..." gumam gue.
Tiba-tiba saja, Marcel menarik baju gue sambil gue terjatuh tepat di atasnya. Ia yang tadinya menatap gue dengan ekspresi bahagia, tiba-tiba berubah menjadi ekspresi serius.
"Lu gila ya!!?" teriak gue.
"Hehehe...Nona kesayangan gue...mau jadi pacar gue, gak? gue bakal kasih S E G A L A nya, mau ya..." racaunya lagi.
"Orang mabuk memang gak jelas, buruan lepasin gue!!" geram gue yang berusah untuk bangun.
Tapi Marcel tiba-tiba memegang pinggang gue, dan sontak merubah posisi gue yang tadinya di atas menjadi dibawahnya.
"L-lu mau apa?" ucap gue takut.
Bukannya menjawab ucapan gue, dia malah tersenyum lebar dan sontak mendekatkan wajahnya ke wajah gue. Gue yang melihat itu, langsung menutup mata dan mulut gue dengan kuat.
Tapi anehnya, tidak ada tanda-tanda Marcel akan mencium gue. Gue langsung membuka mata gue perlahan, dan menatap Marcel yang ternyata tertidur di atas dada gue.
"Hah...hampir aja." gumam gue.
"Ta-tapi sesak, woi!! tolong!!!" teriak gue sambil berusaha untuk mendorong Marcel.
"Tolong!!! Siapapun yang di luar, tolong aku!!" teriak gue.
Gue berusaha untuk memanggil kedua Pria yang sedang berjaga di luar, tapi tidak ada satupun dari mereka yang mendengarnya.
"Oh, shit!!" geram gue sambil menengok kearah meja dan melihat botol-botol Alkohol yang sudah kosong.
"Ahah! gue punya ide." gumam gue.
Gue sontak mengulurkan tangan gue dan berusaha untuk meraih salah satu botol alkohol itu. Setelah mendapatkan botol itu, gue langsung memecahkan botol itu dengan memukul meja itu menggunakan botol itu dengan sangat keras.
Walaupun suaranya sangat keras, tapi kedua Pria itu tetap tidak mendengarnya. Gue sekali lagi mengambil botol itu, lalu gue lempar kan kebelakang sofa berharap bisa sampai didekat pintu agar kedua pria itu bisa mendengarnya
Tiba-tiba ada suara pintu terbuka, dan ada seseorang yang berkata. "Tuan, Nona. Anda dimana?"
__ADS_1
Mendengar itu gue langsung mengangkat tangan gue dan menyauti mereka. "Disini!! aku butuh bantuan, cepat!!"
Setelah menyauti mereka, gue bisa mendengar langkah kaki yang sedang berlari menuju kearah kami.
"No-nona?/Tu-tuan?" ucap kedua Pria itu bersamaan sambil menatap kami dengan terkejut.
"Ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Tuan kalian sedang tertidur karna mabuk, cepat angkat dia dan pindahkan keranjangnya!! Tubuhku sudah sangat sakit karnanya." perintah gue.
"Baik, Nona." jawab mereka, lalu mulai mengangkat Marcel dari tubuh gue dan memindahkannya keranjang.
"Hah... rasanya tubuh gue habis ketiban gajah." gumam gue sambil bangun dari posisi tidur gue, lalu berdiri dan berjalan kearah ranjang Marcel.
"Nona, apa saya boleh pertanya?" sahut salah satu dari Pria itu.
"Tanya saja." balas gue.
"Apa saat Tuan minum alkohol Ia mencampurkan dengan obat?" tanyanya.
"Hah? tidak tau, saat aku masuk di kamarnya. Ia sudah mabuk lebih dulu, dan tertidur dengan posisi duduk." jawab gue.
"Baiklah. Kalau begitu, kami izin undur diri. Saya akan memanggil pelayan untuk memeriksa kamar Tuan." ucapnya, lalu menuduk dan berjalan pergi keluar dari kamar ini.
*Obat? obat apa yang mereka maksud? masa obat yang pernah dijelaskan Jordan itu?* batin gue.
"Gak mungkin lah. Ini kan di Hotel bukan di markas, yakali dia mau ngelakuin itu disini? aneh-aneh aja." gumam gue.
Tapi tiba-tiba saja, tangan gue di pegang oleh Marcel dan Pria itu menatap gue dengan mata yang penuh dengan kebahagiaan.
"Hehehe..." tawanya.
"Lu gila ya, ketawa mulu. Heran!" gerutu gue.
"Hehehe...baby gue, kesayangan gue...hehehe..." racaunya yang semakin tidak jelas.
"Mending lu diam, tutup mata lu lagi. Gue takut ngeliat lu yang ketawa kayak gitu." ucap gue sambil menutup matanya dengan tangan gue.
Tiba-tiba saja, Marcel memegang leher belakang gue dan menarik gue mendekat ke wajahnya.
Cup!
Kecupan yang di berikan tepat di bibir gue. Marcel sontak mengangkat tangan gue dari wajahnya lalu menatap gue dengan tersenyum bahagia.
"Ih!!! Dasar orang mabuk!!" geram gue dan langsung turun dari ranjang, lalu berjalan keluar dari kamarnya meninggal Marcel sendirian.
"Awas aja lu kalau udah sadar, gue tabok pake sendal tuh bibir!" gerutu gue sambil berjalan masuk ke dalam kamar gue, dan menutup pintu dengan keras karna sangking kesalnya.
__ADS_1
Gue berjalan kearah ranjang, dan sontak melemparkan tubuh gue keatas ranjang. Tapi, bersama sama tubuh gue yang gue lempar, ponsel gue juga berdering dengan keras.
"Siapa, sih!?" ketus gue lalu turun dari ranjang dan berjalan kearah sofa.
Gue langsung mengambil ponsel itu, sambil duduk di sofa dan melihat siapa sang penelpon itu.
"Loh? Amel?" ucap gue terkejut, lalu mengangkat telpon itu.
"*Halo...kenapa, Mel?"
"Lu dimana, Jes? Gue mau kerumah lu nih, mau ngajak lu belanja. Mumpung Bokap gue baru transfer duit ke gue."
"Sekarang?"
"Yaiyalah, masa tahun depan."
"Tapi gue gak bisa."
"Loh? emang kenapa? lu ada masalah lagi dirumah?"
"Gak! gue lagi gak dirumah."
"Emang lu dimana? biar gue kesana."
"Gak bisa, Mel. Kita gak bisa ketemu hari ini."
"Tapi gue kan mau belanja sama lu, masa lu gak mau nemenin temen kesayangan lu ini?"
"Minggu depan aja gimana? sebagai gantinya gueyNg teraktir deh."
"Hm...yaudah deh. Mingu depan lu yang traktir, ya. Gue bakal belanja sepuas gue."
"Yaudah, gue matiin dulu ya. Mau jalan sama bebeb nih, Babay."
"I-iya*."
Telpon pun terputus. Gue memang berhasil menghindar dari masalah, tapi gue malah menggali kuburan gue sendiri.
"Kenapa lu ngomong gitu sih, bego!!? lu mau pakai duit siapa, hah!? tolol banget!!" ucap gue ke diri gue sendiri.
"Aduh...mampus gue, gimana dong?" keluh gue dan langsung membaringkan tubuh gue diatas sofa.
Gimana gak tolol? udah tau Amel tipe cewek yang kalau belanja bukan cuma satu atau dua brang aja, marah berpuluh-puluh barang dan harganya gak murah. Itu bisa menguras duit sampai berpuluh-puluh juta, bangkah beratus-ratus juga. dan gue malah mau neraktir dia?
"Dah lah, jual ginjal aja gue, capek!!" teriak gue.
__ADS_1
Bersambung