
Akhirnya kami pun sampai di tempat tujuan, para bawahan ku pun mulai turun dari kendaraan mereka masing-masing dan disusul keempat anggota penting ku.
Pintu mobil sudah di bukakan untukku oleh pria yang sedang memegang sebuah tablet kesayangannya. Rasa ragu yang melanda diri ku membuat ku tidak bisa melangkah keluar dari mobil, padahal mereka sudah menungguku ku.
"Tuan, jika anda tidak bisa melakukannya, jangan lakukan. Kami berlima bisa mengurus segalanya untuk anda." ucap Jordan.
"Tidak, aku ingin menemui mereka untuk terakhir kalinya." jawab ku, lalu mengeluarkan kaki kanan dan kiri ku, dan disusul seluruh anggota tubuh ku.
Tiba-tiba Nella berdiri di hadapan ku dan merapikan jas ku, dan sontak menatap ku lalu berkata. "Sekarang anda bukan Reyhan, ingat itu!"
Hanya satu kalimat dengan suara yang cukup kecil, tapi bisa membuatku tersentak dan terdiam karna perkataan Wanita itu.
"Mari masuk, Tuan." ajak Andre.
"Huh..." aku pun mulai melangkahkan kaki ku dan diikut oleh keempat orang itu di belakang ku, sedangkan bawahan ku yang lain tetap berada di luar untuk menjaga kondisi rumah ini tetap aman.
Saat di dalam, kami sudah di suguhkan oleh para tamu yang sedang membicarakan masalah hari ini. Tentu saja nama ku juga di sebut dalam pembicaraan mereka.
*Padahal aku hanya ingin mati dengan tenang.* batin ku.
__ADS_1
Kaki yang terus melangkah untuk mencari keberadaan ketiga orang penting dalam hidup ku, dan akhirnya aku pun menemukan kedua orang tua ku yang sedang berdiri di dekat peti mati ku. Tapi, dari banyaknya orang di rumah ini, tidak sekalipun aku melihat Pria yang juga seharusnya aku temui.
"Ada apa, Tuan?" tanya Andre saat aku menghentikan langkahku.
"Dimana Hendra?"
"Ia sedang menuju kemari, Tuan. Ia sedikit terlambat karna harus menyelesaikan tugas yang anda berikan tadi." jawab Jordan.
"Beritahu dia, langsung berikan bukti-bukti itu kepada saudara ku." aku pun melanjutkan langkah ku yang sempat terhenti tadi, dan mendekati kedua orang tua ku itu.
"Selamat sore, Tuan dan Nyonya." sapa Jordan.
*Penampilan mereka sangat parah.* batin ku.
"Tu-tuan Jordan? a-apa yang membawa anda kemari? apa ada masalah dalam laporan yang saya berikan kepada anda?" tanya Pria itu yang terlihat sangat ketakutan.
"Tenang, Tuan. Saya kesini karna mendengar kabar bahwa Putra bungsu anda telah tewas. Saya turut berduka cita atas kematian Putra anda." ucap Jordan.
"Nyonya, apa anda mengingat saya?" sahut ku.
__ADS_1
Wanita itu hanya menatap ku dalam diam, Ia seperti mencoba mengingat. Akhirnya Ia mengeluarkan suaranya dan berkata. "A-anda Pria yang bersama Dokter Hendra?"
"Ya...itu saya, anda bisa memanggil saya Marcel." jawab ku
"Saya turut berduka cita dengan apa yang telah menimpah Putra anda, Ia pasti sangat menyayangi anda. Tapi, pasti sekarang Ia sangat sedih karna melihat Ibunya yang tak berhenti menangis sampai membuat matanya membengkak." lanjut ku.
"Ta-tapi, dia masih terlalu muda untuk mengalam hal ini. Baru beberapa hari yang lalu Ia terlihat sangat bahagia karna bisa membuat kami bangga dengan nilainya, tapi sekarang... Pria gila itu merenggut nyawa Putra ku!" balas Ibu ku.
"Apa anda percaya dengan takdir?" tanya ku.
"Y-ya?" sahutnya bingung.
"Tuhan sudah memberikan takdir kepada seluruh umatnya, kematian pun adalah takdir. Anda tidak boleh egois dan menyalahkan orang lain karna kematian Putra anda, dan lagi Pria itu juga sudah mendapatkan hukuman yang setimpal dengan apa yang Ia lakukan." jelas ku.
"Jadi...terima kematian Putra an—"
Tiba-tiba saja ada seseorang yang memotong ucapan ku, dengan berteriak. "Reyhan!!"
BERSAMBUNG
__ADS_1