Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Di Antar Oleh Jordan


__ADS_3

Setelah tidur sepanjang malam, akhirnya gue bangun telat pukul 5 pagi. Gue kembali ke markas bersama Jordan, karna gue harus pergi ke sekolah.


Seragam dan barang-barang yang gue biasa bawa ke sekolah, di siapkan oleh Jordan semalam. Gue wmenyuruhnya untuk pergi ke kamar gue dan mengambil beberapa buku, alat tulis, tas, dan seragam gue.


Saat sampai di Basment, gue pun keluar dari mobil dan berjalan masuk kedalam markas bersama Jordan. Tapi, gue malah tidak sengaja bertemu dengan Jessica yang berjalan bersam dengan Pria pengganti Dika untuk mengantarkan Jessica pulang.


"Loh? kok lu kesini? bukannya lu udah pulang kerumah?" tegurnya.


"Suka-suka gue, lah. Markas-markas gue, kok lu yang ribet." balas gue, lalu melewatinya dan melanjutkan langkah gue menuju ruangan gue.


Saat sampai di ruangan, gue langsung berjalan masuk kedalam kamar mandi untuk mandi, lalu bersiap untuk pergi kesekolah.


Karna jarak sekolah sangat jauh dari Markas, dan sepeda gue ada di rumah. Jadi, Jordan mengantarkan gue sampai di depan sekolah.


Tentu saja saat sampai disekolah, gue menjadi pusat perhatian, karna ini pertama kalinya gue kesekolah naik mobil dan lagi mobil yang di pakai Jordan untuk mengantar gue adalah mobil BMW keluaran terbaru.


Awalnya gue udah nolak, tapi Jordan memaksa dengan alasan gue masih sakit dan Hendra menyuruhnya untuk menjaga gue 24 jam.


Gue yang melangkah masuk kedalam sekolah menuju ke kelas, para murid tak henti-hentinya menatap gue dan ada juga yang berbisik kepada murid lainnya. Dan yang bisa gue lakuin hanya menundukkan kepala saja.


Baru selangkah gue masuk kedalam kelas, tiba-tiba ada yang menarik tas gue dengan kuat lalu mendorong gue sampai terlempar ke dinding.


"Jadi ini yang ke sekolah pakai mobil mahal? sampai buat status gue melosot ke bawah, karna ada yang lebih kaya dari gue." ucap Bryan yang melangkah ke depan gue.


"Ma-maaf, ta-tapi itu bukan mobil gue." sambung gue.


"Oh ya? terus mobil siapa dong? bokap lu yang miskin itu?" tanyanya.


"Bu-bukan, ta-tadi gue ketemu sama orang asing. Di-dia nawarin gue ikut sama di-dia, ja-jadi gue ikut sama dia sampai sini." jelas gue berpura-pura ketakutan sampai tubuh gue bergetar.

__ADS_1


"Hah? lu becanda, ya!!? siapa coba yang mau nawarin nganterin cowok kayak lu? beduit kagak, muka pas-pasan, cuma otak aja yang bisa di banggain." ocehnya.


*Dari pada, lu? otak kok kayak otak udang!* batin gue.


"Woi!! diam-diam Bae lu!!" teriak Bryan tepat di depan wajah gue.


"Ma-maaf." jawab gue.


"Lu tuh ya. Gak usah sok berani bentang-bentang Jessica deketin lu, paling juga tuh cewek cuma mau mainin lu doang. Lu nya aja terlalu bego!" sambung Bryan ambil menunjuk-nunjuk dahi gue dengan keras.


"Gak ada sesuatu yang harus dia banggain dari lu, lu tuh cuma kutu buku buruk rupa! sangking buruk rupanya, gak ada satupun cewe yang mau sama lu!" lanjutnya.


"Hah...sudah lah, ngomong sama lu tuh bikin naik darah. Dasar cupu!!" ucapnya sambil menampar pipi gue pelan, lalu berjalan pergi dari hadapan gue.


Gue pun mengambil tas gue kembali yang sempat terjatuh di lantai, lalu berjalan ke meja gue dan duduk di kursi gue.


Gue udah kesal karna gue yang gak bisa menjaga keluarga gue, dan sekarang gu kesal karna gue yang gak bisa menaikkan derajat keuarga gue sendiri. Padahal kekuasaan dan harta sangat mudah gue dapatkan, dan bisa saja gue meberikan setengah harta yang gue punya kepada orang tua gue. Tapi, gue gak punya alasan yang pasti untuk hal itu. Dan bisa saja kalau gue melakukan hal itu, itu akan mengundang para musuh untuk mengincar mereka.


Pelajaran pun dimulai, gue menjalankan pelajaran dengan cukup baik. Walaupun sesekali pikiran gue teralihkan ke keluarga gue, yang masih berada di rumah sakit. Pertanyaan yang tak henti-hentinya muncul di benakku.


Apa Nyokap gue makan dengan baik? bagaimana dengan Bokap gue? apa dia masih memikirkan masalah Kakaknya yang berniat membunuh keponakannya sendiri? Dan, bagaimana dengan Rizky? apa dia baik-baik saja? apa lukanya masih terasa sakit? bagaimana dengan Kuliahnya? Itu lah yang ada di pikiran gue mulai tadi.


Sampai pada jam istirahat, gue masih terdiam di kursi dengan tatapan kosong. Tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangan kanan gue dan berkata. "Kenapa diam aja, sih!?"


Gue yang mendengar itu, sontak menolah dan menatapnya.


"Jessica?" sahut gue.


"Iya, ini gue. Buruan ikut gu!." ucapnya dan langsung menarik gue keluar dari kelas menuju ke atap sekolah.

__ADS_1


Saat sampai di atap sekolah, dan pintu sudah di kunci. Jessica langsung menarik gue duduk di kursi yang biasa kami tempati untuk berbincang.


"Lu kenapa, sih? Dari tadi diam mulu, lu ada masalah?" sahut Jessica yang menatap gue serius.


"Gak ada, cuma gak mood aja." jawab gue santai.


"Oh iya, hari ini lu bawa apa? roti lapis lagi?" tanya gue mengalihkan topik pembicaraan.


"Gak, kali ini gue bawa salad buah. Gue denger lu malas makan buah, jadi gue buatin salad buat spesial buat lu." jawabnya dan langsung memberikan gue kotak bekal miliknya.


"Minumnya?" sambung gue sambil menatap kotak bekal itu.


"Ah! lain kali inisiatif bawa minum, dong. Gue kan cape bawa tas yang berat karna bekal sama minum buat lu." protesnya sambil memberikan gue sebotol susu dingin.


"Thanks." ucap gue, lalu membuka kotak bekal itu dan mulai memakan salad buatan Jessica.


"Lu kenapa, sih!? makan aja melamun, lu ada masalah apa? Cerita sama gue. Walaupun gue gak bisa bantu, setidaknya gue bisa jadi tempat lu mengadu tentang masalah lu." sahut Jessica.


"Gue gak ada masalah, gue cuma gak mood aja. Mending lu diam, gue gak konsen makannya." elak gue.


"Hah...terserah lu, dah. Intinya kalau lu butuh tempat buat cerita, gue siap buat mendegarkan cerita lu itu." ucapnya serius.


*Kayaknya gak bakal, deh.* batin gue sambil mengunyah.


Akhirnya Istirahat gue di habiskan hanya untuk makan salad yang di buat oleh Jessica dan juga hanya berdiam diri tanpa berbicara lagi dengan gadis itu.


Gue pun kembali ke kelas, begitupun Jessica. Menghadiri kelas dengan pikiran yang masih di penuhi dengan banyak pertanyaan. Entah apa yang di pikiran Jessica tentang gue, gue hanya berharap dia tidak mengetahui masalah gue. Hanya itu...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2