Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Hari Kematian


__ADS_3

Setelah sampai di tempat itu, gue membiarkan Zhero untuk masuk lebih dulu. Dan para bawahan gue melumpuhkan para penjaga agar gue bisa masuk dengan tenang dan bersembunyi tidak jauh dari tempat kedua Pria brengsek itu bersenang-senang.


Tak butuh waktu banyak untuk para bawahan gue mengapung rumah itu dan juga melumpuhkan para penjaga mereka. Setelah mendapatkan laporan dari Mark, gue langsung menyuruh mereka untuk memenggal salah satu dari penjaga itu.


Bukan untuk menakuti kedua Pria brengsek itu, gue malah menyuruh mereka untuk melemparkan kepala itu kehadapan kedua Pria itu, untuk memberikan sinyal kepada Zhero agar Ia menembakkan peluru ke dalam mulutnya.


Selagi menunggu suara tembakan terdengar, gue lebih memilih untuk memainkan ponsel gue untuk mengetahui kondisi Jessica dari Vernon.


"Tuan, apa saya boleh membunuh kedua Pria itu?" bisik Andre.


Mendengar itu, gue langsung mematikan ponsel gue dan menengok menatapnya.


"Kenapa? bukannya kamu tidak percaya bahwa Tuan Dermi yang melakukannya?" tanya gue.


"Percaya atau tidak, dia memang pantas untuk di bunuh." jawabnya.


Gue dibuat tertawa kecil olehnya, gue kembali menatap ke arah kedua Pria brengsek itu dan berkata. "Kamu sangat lucu, Andre~ Mereka milikku! dan hanya aku yang bisa membunuhnya!!"


"Apa anda yakin untuk membunuh Ketua Menteri? itu akan memengaruhi Negara ini jika tiba-tiba Ketua Menteri Negara mati dalam semalam." sambung Jordan.


"Apa dia sepenting itu? aku pikir dia hanya sebuah kotoran saja~ habisnya, aku sangat jijik saat mleihat wajahnya itu." ucap gue.


"Tuan, setidaknya beri waktu satu hari lagi, agar saya bisa mencarikan pengganti ketua Menteri untuk Negara ini." pintanya.


"Kenapa kamu takut jika Ia ma—"


Gue tiba-tiba menghentikan perkataan gue sendiri, karna ada seseorang yang tiba-tiba muncul dan berjalan dengan cepat menuju kearah Kedua Pria itu.


"Bryan!!?" sahut gue terkejut.


"Pa!! Dimana Jessica!!!?" teriak Bryan.


Karna dari awal percakapan kedua Pria itu tidak terdengar jelas sampai kentempat gue bersembunyi, gue langsung menarik kera baju Jordan dan mengambil ponselnya dari dalam saku jasnya.


"Tuan? apa yang akan anda lakukan dengan ponsel it?" tanya Jordan.


Gue tidak memperdulikannya, gue langsung menelpon ponsel Jordan dan membiarkan telpon itu tersambung. Lalu meleta ponsel itu ke lantai dan melemparkannya sampai ke kaki Zhero.


Karna ponsel itu menyentuh kakinya, Pria itu langsung menoleh ke bawah dan sontak menoleh kearah gue. Gue langsung memberikannya isyarat untuk menutupi ponsel itu dengan kakinya.


Untung saja Ia tidak sebodoh yang gue pikirkan, Ia langsung menggeser ponsel itu ke bawah kakinya sengaja Ia injak agar tidak terlihat oleh kedua Pria itu dan juga Bryan.


"Jordan, beritahu Mark untuk menunda melemparkan kepala itu." perintah gue sambil meletakkan ponsel itu ke telinga gue dan mulai mendengarkan perbincangan antara Orang tua dan Putranya.


"Pa!! aku tanya sekali lagi, dimana Jessica!!?"


"Kamu ngapain kesini? bukannya kamu pergi dengan teman-teman mu?"


"Itu gak penting sekarang!! jawab Bryan, dimana Papa menyembunyikan Jessica!?"


"Itu bukan urusan mu Bryann!! sekarang kembali ke Kamar atau pergi saja dengan teman-teman mu!! jangan disini, ini bukan urusan anak kecil seperti mu!!"


"Aku bukan ank kecil!!! aku sudah bilang sama Papa, jangan menyentuh gadis itu!! Papa juga sudah berjanji untuk tidak menyentuhnya, kalau aku menuruti perkataan Papa. Tapi sekarang, kenapa Papa malah berusaha buat nyakitin dia!!?"

__ADS_1


*Bodoh!* batin gue.


"*Papa tidak menyakitinya, Papa mengamankannya! dia sekarang berada di tempat yang sangat aman, dan Ia akan segera kemari. Papa akan memberikannya untuk mu."


"Tidak!! aku tidak ingin itu!! sekarang beritahu aku, dimana Papa menyekapnya!!?"


"Hei! kenapa kamu sangat keras kepala!? diam dan pergi saja!! aku dan Papa mu tidak berniat untuk melukai Gadis itu."


"Seharusnya anda yang pergi!! untuk apa anda disini dan selalu menawari banyak hal kepada orang tua ku!? apa anda Tuhan yang bisa memberikan segalanya!!?"


"Haha....Putra mu ini benar-benar pintar."


"Bryan, diam! jangan berkata seperti itu kepada Tuan Dermi! dia ini sahabat dari Tuan Anggara, dia memiliki pengaruh besar di Negara ini."


*Pengaruh besar!? menjijikan!! dia hanya sampah yang tidak bisa di daur ulang lagi*!* batin gue.


"Pengaruh besar? cih!! Pria seperti ini hanya sebuah sampah!" ucap Bryan yang membuat gue sontak tersenyum kecil.


*Gue kira dia cuma preman disekolah saja, ternyata mulutnya itu sangat pedas.* batin gue.


"*Bryan!! jaga mulut mu itu!!"


"Kenapa Papa membelanya? Papa menyembunyikan 2 wanita, bukan hanya Jessica. Ibu pun tidak ada di rumah ini, dimana Papa menyembunyikan Ibu!!?"


"Ibu mu sedang beristirahat di Hotel, dia sangat aman sekarang."


"Ibu memang aman, tapi tidak dengan kita."


"Apa maksud mu!!?"


"Haah...kita ketahuan." gumam gue.


"Jordan! perintahkan Mark untuk melemparkan kepala itu sekarang!" perintah gue.


"Baik, Tuan." jawabnya.


Tak butuh waktu lama untuk perintah gue di jalankan, Mark langsung melemparkan satu kepala Pria tepat di tengah-tengah mereka berempat.


Zhero yang melihat kepala itu menggelinding kearahnya, Ia langsung mengeluarkan pistol yang gue berikan dan memasukkannya kedalam mulutnya.


"APA YANG INGIN KAMU LAKUKAN DENGAN SENJATA ITU!!?" teriak Kepala keluarga Erland yang langsung melangkah mundur dengan wajah yang ketakutan.


Dan tiba-tiba saja...


DOORRR!!!


Suara tembakan yang menembus kepala bagian belakang Zhero. Tubuh Pria itu sontak terjatuh ke lantai dengan suara yang sangat keras.


"Sudah waktunya kita keluar." ucap gue sambil berdiri, dan melangkah keluar dari tempat persembunyian.


Saat keluar dari tempat persembunyian, Gue bisa melihat Ekspresi terkejut di wajah kedua Pria itu. Gue melangkah melewati mayat Zhero dan berdiri tepat di hadapan kedua Pria itu.


"Andre! tahan Putranya." perintah gue.

__ADS_1


"Baik, Tuan." jawab Andre dan langsung menarik Bryan yang tadinya berdiri di samping bokapnya, menjadi berdiri di belakang gue.


Tiba-tiba saja Dermi mengeluarkan senjatanya dan menyodorkannya kearah gue dengan tangan yang sedikit gemetaran.


"Kamu sudah tau, sangat mustahil untuk membunuh ku. Tapi...kamu masih saja bekerja keras untuk membunuh ku. Bagaimana Jika Ayah ku melihat perilaku mu sekarang, pasti dia sangat kecewa dengan mu." oceh gue sambil mengeluarkan pistol gue dari dalam saku jas dan hanya memainkan senjata itu saja.


"Ayah? Cih!! kamu hanya seorang anak angkat yang tidak memiliki darah keluarga Anggara!!" hinanya.


Mendengar itu, bukannya marah, gue malah menyeringai sambil menatap psitol gue dan memain-mainkan senjata itu.


"Kenapa Diam!? tidak bisa mengelak fakta itu?"


"Untuk apa aku menyelak? aku malah berterimakasih karna telah mengingatkan fakta itu." jawab gue dan langsung beralih menatap sambil tersenyum.


"Karna fakta itu, aku jadi tidak merasa bersalah jika membunuh teman dari Ayah Angkat ku." lanjut gue dan sontak menarik paksa pistol yang ada di tangan Pria itu, dan tangan kanan gue menyodorkan pistol itu tepat ke kepalanya.


"Dengarkan aku baik-baik! aku sama sekali tidak takut dengan dendam dari keluarga mu, walaupun keluarga mu mengutuk ku. Aku tidak akan pernah takut! aku malah jijik dengan wajah mu ini..." tegas gue.


"Tuhan saja sampai bingung yang mana wajah asli mu, kenapa kamu menggunakan 2 wajah dalam satu kepala? dan 2 sifat dalam satu tubuh. Malaikat dan Iblis saja sampai iri karna diri mu memiliki kedua sifat itu." ucap gue.


"Jadi...akan lebih baik kalau kamu mati, agar kamu tidak merepotkan Tuhan dan para Malaikat dan Iblis." lanjut gue sambil menyeringai dan langsung menembakkan 1 peluru ke kepalanya.


Gue pikir itu peluru beracun, tapi ternyata itu adalah peluru peledak. Saat peluncuran itu berhasil mengenai kepala Pria itu, kepala itu langsung meledak dan membuat Pria yang di sampingnya terkena cipratan darah, begitupun dengan gue dan yang lainnya.


"Wow! aku pikir, aku akan menghabiskan banyak peluru untuk membunuhnya, tapi satu saja sudah cukup." gumam gue.


"Wajah ku sampai terkena darah kotornya, ini benar-benar menjijikan!!" gerutu gue.


Tiba-tiba saja, Pria yang tadinya sempat tertawa sangat keras dan terlihat sangat bahagia. Ia sontak berlutut di hadapan gue dengan tubuh yang gemetar dengan hebatnya dan wajah yang sangat pucat karna ketakutan.


"Jangan tiba-tiba berlutut dong! aku kira kamu terkena serangan jangan, membuat ku takut saja." keluh gue sambil menyisir rambut gue kebelakang.


Gue langsung menengok ke belakang dan menatap Bryan yang sama takutnya dengan Pria itu.


"Hei...kita bertemu lagi, ya~" sapa gue sambil tersenyum lebar, dengan wajah yang terkena cipratan darah.


"Tuan, wajah anda sangat kotor." sambung Andre.


"Benar juga, berikan sapu tangan mu." ucap gue sambil membalikkan tubuh gue.


Andre pun langsung melemparkan sapu tangannya ke gue, dan gue mulai menyeka wajah gue dengan sapu tangan berwarna putih itu.


"Hei!! jangan bergerak dong, aku sedang sibuk tau!!" sahut gue sambil menyodorkan senjata gue ke arah Bokap Bryan, karna gue yang tiba-tiba merasa pergerakan dari seseorang.


"Ma-maaf..." jawabnya.


"Haah...Ayah dan Anak sama saja!" kesal gue.


"Aku ingin menyelesaikan masalah ini dengan cepat, tapi aku sedikit kasihan dengan Putra mu ini. Bagaimana jika dia menjadi bahan ejekan karna tidak memiliki ayah dan tidak akan ada lagi yang memberikannya uang jajan setiap harinya." sambung gue.


"Ta~pi, hari ini adalah hari kematian mu. Entah jenis peluru apa yang akan mengenai tubuh mu ini, tapi aku berharap tubuhmu masih utuh setelah ini." lanjut gue.


Saat gue bersiap untuk menembakkan peluru ke tubuh Pria itu, tiba-tiba saja ponsel gue berdering dengan sangat keras.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2