
MARCEL POV*
Sudah berapa hari ini aku tidak kembali ke Kastil, aku terlalu sibuk dengan pekerjaan yang harus aku selesaikan secepat mungkin.
Mulai dari pertemuan dengan 3 pemimpin mafia tertinggi, melakukan pengecekan keseluruh perusahaan dan hotel milik ku, dan tentu saja mengurus persiapan pernikahan ku dengan Carmelia.
Belum lagi aku harus menemui kedua orang tua Wanita itu, dan menawarkan banyak hal agar Ia memberikan Putrinya seutuhnya. Sebenarnya ada cara yang lebih mudah agar aku tidak perlu bernegosiasi dengan siapapun, tapi cara itu cukup berbahaya dan bisa saja membuat Carmelia menolak untuk menikah dengan ku.
dan akhirnya aku memberikan satu apartemen dan sebuah perusahaan yang berada di Jerman untuk kedua orang tua itu, bukan hanya itu. Aku juga memberikan sejumlah Uang yang cukup besar untuk hidup mereka di Jerman nanti.
Setelah menyelesaikan semua urusan ku, aku pun memutuskan untuk kembali ke kastil bersama dengan Jordan dan Vernon.
"Jordan," panggil ku kepada Pri yang sedang duduk di tepat di hadapan ku dengan dokumen yang sedang Ia amati.
"Ada apa, Tuan?" tanyanya sembari menutup dokumennya.
"Bagaimana kabar Andre? apa dia sudah menyelesaikan tugasnya?"
"Ia sudah menyelesaikan tugasnya semalam, Tuan. Sekarang, mungkin Ia sedang beristirahat panjang di kamarnya."
__ADS_1
"Lalu, Nella bagaimana?"
"Saya belum mendapatkan kabar dari Wanita itu, Ia sepertinya masih mengerjakan pekerjaannya sekarang."
"Haah...aku mulai mengkhawatirkan wanita itu."
"Tenang saja, Tuan. Agnella akan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, dan akan kembali berkumpul deng kita lagi." sambung Vernon yang duduk di samping Jordan.
"Dari pada anda mengkhawatirkan Wanita itu, lebih baik anda mengkhawatirkan kesehatan anda sendiri. Gara-gara terlalu sibuk bekerja, hidung anda sampe mengeluarkan darah kemarin." sahut Jordan.
"Aku tak apa, itu hanya efek dari kelelahan saja."
"Saya sudah memberitahu Hendra, mungkin sekarang Ia sedang menunggu anda di kastil." ucap Jordan.
Tak terasa kami pun sampai di kastil, sambil melangkah keluar dari mobil, aku berkata. "Aku ingin bertemu dengan Carmelia dulu." kepada Jordan yang sedang memegang pintu mobil.
"Biar saya antar." ucapnya.
"Tidak perlu, tunggu aku di ruang kerja ku saja bersama Hendra. Jangan lupa memanggil Andre juga."
__ADS_1
"Baik, Tuan," jawabnya dan aku pun melangkah masuk ke dalam kastil menuju ke kamar Carmelia.
Saat sampai di depan kamar gadis itu, aku mendengar suara teriakan dari dalam kamar. Bukan sebuah jeritan ketakutan, tapi teriakan seolah-olah sedang marah dengan seseorang.
*Dengan siapa dia?* batin ku mulai bertanya-tanya.
Dari pada penasaran, aku pun membuka pintu kamar Wanita itu. Dan benar saja Wanita itu sedang berdiri di hadapan seorang Pria dengan keadaan kamar yang cukup berantakan.
Tapi anehnya, Pria yang ada di hadapannya itu adalah Dika. Pria yang kusuruh untuk menjaga Wanita itu dan menjadikannya bawahan Pribadinya.
Saat aku melangkah masuk kedalam kamar itu, aku bisa melihat sepasang bola mata yang sedang menatap ku dengan tatapan terkejutnya.
"Maaf menggangu perbincangan kalian, tapi ada yang ingin aku bicarakan sekarang." ucap ku sambi melangkah kearahnya.
"Dika, apa kamu bisa keluar? aku butuh Waktu dengan atasan mu." lanjut ku.
Dika hanya membalas dengan menundukkan kepalanya saja, lalu melangkah keluar dari kamar ini.
Aku pun berdiri tepat di depan Wanita itu, Ia dengan cepat merubah ekpresi terkejutnya itu menjadi ekpresi bahagia.
__ADS_1
Sebelum aku mengatakan sepatah katapun kepadanya, Ia sontak memeluk ku dengan erat dan berkata. "Akhirnya kamu pulang juga."
BERSAMBUNG