
Karna Jessica sudah tertidur dan gue tidak bisa berteriak untuk menyauti ketukan itu, sebab Jessica yang akan terbangun. Gue akhirnya memilih untuk melepaskan pelukannya dan bangun dari posisi tidur gue, lalu turun dari ranjang dan berjalan kearah pintu dengan perlahan.
Seperti yang gue dengar, benar ada lebih dari 2 orang yang sedang berdiri di depan pintu ini. Jordan, Hendra, dan Vernon lah yang mengetuk pintu itu. Anehnya, tidak ada Andre dia samping mereka.
"Ada masalah apa?" tanya gue santai dengan baju handuk yang sedikit berantakan.
"Maaf mengganggu waktu anda, Tuan. Tapi ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda." ucap Jordan.
"Bukan seseorang, melainkan ada 3 orang yang tiba-tiba datang berkunjung di waktu yang sama." sambung Hendra.
"Apa maksud kalian? dan siapa yang kalian maksud itu?" tanya gue bingung.
"Presiden Itali, Pemimpin Mafia Amerika, dan Komandan Milo ingin menemui anda. Sekarang merek sedang bersama dengan Andre." jawab Vernon.
"Pemimpin Amerika? Komandan Milo? Untuk apa mereka kemari? bukannya aku tidak memiliki jadwal pertemuan dengan mereka berdua?" sahut gue.
"Kami juga tidak tau alasan mereka kemari karna apa, tapi yang pasti mereka sekarang sedang duduk bersama di satu ruangan yang sama." jawab Jordan.
"Haah...mereka selalu membuat ku repot!" gerutu gue, lalu menutup pintu kamar Jessica.
"Vernon ikut dengan ku, aku akan mengganti pakaian lebih dulu. Kalian berdua, temani Andre disana." ucap gue.
"Baik, Tuan." jawab Jordan dan Hendra bersama sambil menunduk, lalu melangkah pergi dari hadapan gue.
Gue pun melangkah pergi bersama dengan Vernon menuju ke ruang ganti gue. Walaupun yang menunggu gue sekarang seseorang yang memiliki jabatan tinggi, tapi gue tetap sangat santai dan tidak memerdulikan apa mereka akan menunggu lama atau tidak.
Tapi jujur saja, ketiga orang itu memiliki hubungan yang cukup buruk. Komandan Milo atau bisa di sebut Tuan Milo yang memiliki posisi tertinggi dalam pangkatan tentara di Italia, Presiden Itali Tuan Emiliano, dan juga Pemimpin Mafia dari Amerika Tuan Henry.
Mereka bertiga tidak memiliki dendam sama sekali, tapi entah sejak kapan hubungan mereka tiba-tiba menjadi sangat buruk. Mereka selalu menghindar satu sama lain dan selalu beradu argumen setiap ada pertemuan khusus yang di jadwalkan Jordan. Dan anehnya, sekarang mereka tiba-tiba datang di waktu yang sama.
Setelah 20 menit gue habiskan di ruang ganti, gue dan Vernon pun berjalan menuju ruang pertemuan yang berada di lantai dasar.
Saat sampai di lantai dasar, gue langsung disuguhkan pemandangan yang membuat gue muak. Ada banyak sekali bodyguard dan tentara yang sedang berjaga di lantai itu.
__ADS_1
"Apa mereka meragukan keaman kastil ini?! Apa bawahan ku masih kurang?" gerutu gue.
"Presiden dan komandan mereka berada disini, wajar jika mereka memperketat keamanan." ucap Vernon.
Gue tiba-tiba menghentikan langkah gue dan berteriak memanggil kedelapan bawahan Pribadi gue. Tak butuh waktu lama, mereka sudah berdiri di hadapan gue.
"Aku akan langsung keintinya saja. Suruh mereka untuk menunggu di halaman kastil saja, jika ada salah satu dari mereka yang berkeliaran di dalam kasil. Potong saja kakinya!" perintah gue.
"Baik, Tuan." jawab mereka bersama.
Gue pun melanjutkan langkah gue menuju ruangan yang sudah cukup dekat itu. Saat Vernon membukakan pintu, gue sudah bisa merasakan kecanggungan dan juga perasaan yang ingin menyingkirkan satu sama lain.
Tanpa basa-basi lagi, gue pun melangkahkan kaki gue kedalam ruanga itu, dan diikuti Vernon di belakang gue.
"Ada apa ini?" sahut gue dan membuat mereka berenam sontak menengok dan menatap gue.
Melihat gue yang datang, mereka langsung berdiri dan sedikit menundukan kepala mereka. Gue pun melangkah kearah kursi milik gue dan duduk di kursi itu dengan santai.
"Duduk!" ucap gue.
"Ada masalah apa, sampai membawa kalian bertiga kemari dan tidak menghubungi sekretaris ku lebih dulu?" tanya gue.
"Maaf atas ketidak sopanan ini, saya kesini hanya untuk memastikan apa benar anda yang membunuh ketua Menteri?" tanya Emeliano.
"Kamu sudah tau jawabannya, untuk apa memastikannya lagi? Bukannya Presiden seperti mu sangat sibuk? dan lagi untuk apa mengurusi kematian seseorang yang berniat membunuh mu?" sindir gue.
"Benar! buang-buang waktu saja!" sambung Milo.
"Sama seperti anda, Tuan Milo. Komandan Tentara kenapa tiba-tiba ada di kastil ku? Apa ada masalah dengan persenjataan kalian? bukannya aku sudah menyuruh mu untuk menghubungi bawahan pribadi ku jika berkaitan dengan persenjataan kalian?" sindir gue lagi dan membuat Milo tersentak.
"Pfft." tawa kecil Henry.
"Dan anda, Tuan Hendra pemimpin Mafia Amerika. Untuk apa kemari? Bukannya urusan kita sudah diselesaikan oleh Pengacara saya?" lanjut gue.
__ADS_1
"Ehem...ehem...saya kesini untuk memberikan ini." ucapnya sambil menyodorkan gue sebuah amplop berwarna pink.
"Apa ini?" tanya gue setelah mengambil amplop itu.
"Cih! Amplop pink seperti seorang wanita." sindir Milo dengan bahasa Itali.
"Apa kamu kira aku tidak mengerti apa yang kamu katakan!!?" geram Henry.
"Diam!!" sahut gue, lalu membuka amplop itu dan mengeluarkan sepucuk surat dari dalam amplop itu.
Setelah membaca surat itu, gue langsung meletakkan surat itu atas meja sambil menatap Henry dengan tajam.
"Haah...saya benar-benar tidak paham dengan anda." keluh gue.
"Memang apa isi surat itu? Apa itu surat pernyataan cinta?" tanya Milo.
"Jangan bercanda!!" kesal gue.
"Usia Putri anda masih 17 tahun, dan anda bilang bahwa saya akan menikahinya? Apa anda sedang bercanda Tuan Henry?" sambung gue.
"Apa!? Menikah!!?" sahut Milo dan Emiliano bersama dengan wajah yang terkejut.
"Anda sangat curang!! kita sudah sepakat untuk melakukan perlombaan untuk Pemimpin Wanita nanti! Kenapa anda malah berkata seperti itu kepada Putri anda!?" oceh Emiliano.
"Benar! Bagaimana dengan Tuan lainnya? mereka akan sangat marah jika mendengar ini." sambung Milo.
"Curang ataupun tidak, itu bukan urusan kalian! Hanya Putri ku yang pantas dengan Tuan Anggara." balas Henry.
"Hei! Hei!! kenapa kalian berkelahi!? apa lagi maksud kalian ini!? Perlombaan? Tuan yang lainnya? Aku tidak paham!" celetuk gue
"Sepertinya maksud mereka adalah pemilihan calon istri anda." bisik Andre.
"APA!!?" teriak gue terkejut.
__ADS_1
Bersambung