
Sebelum jarum itu terlepas dari lengan Carmelia, Wanita itu lebih dulu mendorong Vernon dengan kuat dan menjauh dari Pria itu. Carmelia menatap Vernon dengan tatapan kesal, Ia perlahan memegang suntikan itu dan menarik jarum itu dengan cepat, dan membuat lengannya berdarah.
"Apa yang kau suntikkan kepada ku!!?" geram Carmelia sambil melempar suntikan itu ke lantai.
"Maaf, Nyonya. Saya melakukan ini agar anda bisa sedikit tenang, maaf atas ketidak sopanan saya, Nyonya," sesal Vernon.
Penglihatan Carmelia mulai pudar, dan tubuhnya sudah tak bisa berdiri tegak lagi. Agnella dan Hendra yang melihat Carmelia ingin jatuh, dengan cepat mereka berlari kearah wanita itu dan menolongnya agar tidak jatuh ke lantai.
"A-aku tak aka...n memaafkan kalian," ucap Carmelia dan tubuhnya pun terjatuh lemas, dan matanya tertutup dengan rapat. Untungnya saja ada Hendra dan Agnella yang memegangi tubuhnya, setelah itu Hendra langsung menggendong Carmelia ala bridal.
Vernon melangkah mendekati mereka dan bertanya. "Apa yang di katakan Nyonya tadi?"
"Aku tidak akan memaafkan kalian, itu yang di katakan, Nyonya," jawab Agnella.
"Haah... aku seharusnya tidak menyuntikkan obat tidur kepada Nyonya. Tapi, aku takut Nyonya akan melakukan hal yang membuatnya dan calon bayinya terluka."
"Apa!!? kau memberikan obat tidur? bukan obat bius!?" cetus Hendra.
"Ya, aku memberikan Nyonya obat tidur. Aku tidk mendapatkan obat bius di tempat obat yang ada di dapur, jadi hanya itu yang aku berikan."
"Bodoh!! bagaimana jika yang kau berikan itu dosis yang sama dengan dosis yang kita pakai untuk Tuan Marcel dulu!!? apa kau akan bertanggungjawab!?" geram Hendra.
"Hei!! seharusnya kau bersyukur karna aku membantu kalian!! bagaimana jika sampai Nyonya melukai dirinya sendiri!!? apa kau akan bertanggungjawab!!?" balas Vernon.
Agnella yang kesal dengan perdebatan mereka, Ia langsung memukul kepala kedua Pria itu dengan sangat keras, lalu berkata. "Bisa diam tidak!? kita harus membawa Nyonya ke kamar terlebih dulu, baru kalian bisa berdebat sesuka hati kalian."
"Haah... seharusnya dia yang di pukul, bukan aku!" gerutu Hendra.
"Cih! kau juga salah, bodoh!" balas Vernon.
*Bisa-bisanya aku di tinggal bersama dua manusia bodoh ini!* batin Agnella.
__ADS_1
"Sudah lah! kita harus cepat membawa Nyonya ke kamar," ucap Agnella sambil mendorong kedua Pria itu.
Setelah sampai di kamar Carmelia, Hendra dengan perlahan meletakkan wanita itu di atas ranjangnya dan tak lupa menyelimutinya. "Maaf, Nyonya. Seharusnya kami tidak membohongi anda, dan tidak melakukan hal bodoh ini kepada anda. Sekali lagi, saya mohon maaf kepada anda, Nyonya."
Mendengar perkataan Hendra, Agnella langsung menepuk pundak kiri Hendra dan berkata. "Sudah lah, lebih baik kita duduk di sofa dulu, sampai Nyonya sadar. Setelah itu, baru kita akan menjelaskan semuanya kepada Nyonya, dan memohon ampun kepada-nya."
Hendra hanya mengangguk pelan, dan mengikuti Agnella yang melangkah ke arah sofa, dimana Vernon sudah lebih duduk di sana sambil memegang sebuah ponsel.
"Hei! siapa yang ingin kau hubungi!" tegur Agnella.
"Tuan Marcel. Tuan harus tau keadaan Nyonya, dan menyuruhnya untuk cepat kembali ke Itali." Mendengar jawaban Vernon, dengan cepat Agnella langsung mengambil ponsel Pria itu.
"Dasar bodoh!! mereka mungkin baru sampai di sana, mana mungkin Tuan kembali ke Itali di saat Ia baru saja sampai di Amerika. Kasian Jordan yang masih terkurung di sana, setidaknnya izinkan Tuan untuk menyelesaikan masalah ini."
"Tapi, jika Tuan tidak tau. Kita bisa habis nantinya, dan bisa saja kepala kita di penggal dan di gantung disetiap pohon yang ada di luar kastil."
"Benar kata Vernon, lebih baik kita beritahu Tuan saja. Aku sudah berjanji kepada Tuan untuk menjaga Nyonya dan memberikan informasi apa saja tentang Nyonya," timpal Hendra.
Saat Vernon menangkap ponsel itu, tiba-tiba saja ponsel miliknya berdering dengan keras dan membuat mereka bertiga terkejut dan langsung menatap ke arah ponsel itu.
"Siapa?" tanya Hendra.
Dengan perlahan, Vernon melihat layar ponsel miliknya dan melihat nama yang tertera di dalam sana. Setelah melihat siapa sang penelpon itu, Vernon langsung menatap kedua orang itu dengan wajah raut wajah yang ketakutan. Vernon memang tidak mengatakan apapun, tapi Agnella dan Hendra tau siapa yang sedang menelpon ke ponsel Vernon.
"Angkat, bodoh!! jangan diam saja!" cetus Agnella.
"Kau saja yang angkat," balas Vernon sambil melempar ponselnya ke Agnella.
Agnella menangkap ponsel itu dengan baik, dan melihat jelas nama sang penelpon itu. " Kenapa harus aku!? kan kau yang di telpon, bukan aku!!" Ia sekali lagi melemparkan ponsel itu ke pemiliknya. Tapi karna tidak ingin mengangkat telpon itu, Ia malah melemparkan ponselnya ke Hendra, yang mulai tadi hanya memperhatikan mereka berdua.
Hendra yang memegang ponsel itu merasa bingung sekaligus takut. "Ke-kenapa aku?"
__ADS_1
Dengan serentak Agnella dan Vernon menjawab, " Karna kau dokter Nyonya!"
"Ta-tapi— ah! sudahlah! angkat saja!" ucap Hendra, lalu mengangkat telpon itu dan meletakkannya di tengah-tengah meja dengan memakai speaker ponselnya dan volume yang penuh.
"*Hei!! kenapa lama sekali, sih!!?"
"Ma-maaf, Tuan." - Hendra.
"Loh? Hendra? bukannya aku menelpon Verno?"
"Ah! Iya, Tuan. Saya sedang bersama Hendra." -Vernon.
"Oh... yasudah. Kalian dimana? apa disana sudah waktunya makan malam? apa Carmelia makan dengan baik?"
"Su-sudah, Tuan. Ta-tapi, ada masalah saat makan malam tadi." -Vernon
"Masalah? masalah apa?"
"Bukan masalah besar, Tuan. Ini hanya masalah kecil saja." -Agnella.
"Loh? Nella? kau juga sedang bersama mereka?"
"I-iya, Tuan." -Nella.
"Hm... lalu, masalah apa yang kalian maksud? apa masalah tentang Carmelia? atau masalah yang lain*?"
Ketiga orang itu sontak saling menatap satu sama lain, mereka tampak ragu untuk menjawab pertanyaan Marcel. Disisi lain, mereka takut akan di penggal, dan disisi lainnya. Mereka juga takut jika Marcel tidak mengetahui masalah mengenai Istrinya.
"Hei!! kenapa kalian diam? apa itu masalah besar, sampai-sampai kalian tidak berani bicara?"
BERSAMBUNG
__ADS_1