Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Hari Yang Sial


__ADS_3

MARCEL POV*


Gue yang baru bangun, dengan kondisi kepala yang sangat sakit.


"Uukkhh!"


Gue bangun dari posisi tidur gue sambil memegang kepala gue. Mungkin karna sudah lama tidak pernah mabuk, rasanya tubuh gue terasa panas dan kepala yang rasanya hampir pecah.


Tiba-tiba gue teringat dengan apa yang terjadi saat gue mabuk. Mengingat itu, gue sontak terdiam tanpa kata karna telah mengucapkan hal yang tidak pernah gue ucapkan.


"Argh!!! gila!!! kenapa gue mabuk, sih!!?" geram gue.


"ARGH!! DASAR BEGO!!!" teriak gue.


Tiba-tiba saja ada yang menerobos masuk ke dalam kamar gue, gue sontak menengok dan menatap seseorang itu.


"Jordan?" sahut gue.


Jordan melangkah kearah gue, dan berdiri tepat di samping ranjang gue lalu membungkuk sebentar.


"Selamat malam, Tuan. Bagaimana kabar anda seharian ini? apa anda baik-baik saja? kenapa anda berteriak?" tanyanya.


"Hah...aku hampir gila karna tidak ada kamu di samping ku." keluh gue.


"Oh ya, bagaimana dengan keluarga ku? apa mereka baik-baik saja?" tanya gue.


"Orang tua anda sekarang beristirahat di rumah sakit bersama dengan saudara anda, mereka berada di ruang VVIP dengan tambahan bangsal untuk orang tua anda." jelasnya.


"Rumah sakit mana? apa rumah sakit milik Hendra?" tanya gue.


"Tentu saja, Tuan. Hanya rumah sakit itu yang sangat aman untuk keluarga anda." jawabnya.


"Hah...baiklah. Lalu, bagaimana dengan pembunuh itu dan paman ku?" sambung gue.


"Pembunuh itu telah di bunuh, Tuan. Sedangkan Paman anda sekarang sedang di sekap oleh beberapa bawahan anda, sekarang mereka sedang memberikan hukuman ringan kepada Paman anda." jelasnya.


"Saya juga sudah berbincang dengan orang tua anda." timpalnya.

__ADS_1


"Berbincang? apa?" tanya gue.


"Karna saya sudah menolong Putranya, dan orang tua anda tak henti-hentinya untuk berterimakasih. Jadi, saya memutuskan untuk berpura-pura bahwa orang tua anda harus menjadi penanggung jawab perusahaan yang sudah saya buang itu. dan orang tua anda menerima hal itu dengan sangat baik, Ia juga berjanji akan menjadikan perusahaan menjadi perusahaan yang sangat terkenal. jelasnya lagi.


"Kamu memang tidak pernah membuat ku kecewa, Jordan." puji gue.


"Saya hanya menjalankan tugas saya,Tuan." jawabnya sambil menunduk.


"Baiklah, apa sekarang kita bisa kembali ke Markas? Aku sangat lelah berada di Hotel ini."


"Tentu saja bisa, Tuan. Markas sudah kembali seperti semula. Bukan hanya itu, saya juga sudah memasang beberapa alat untuk memastikan apa ada penyusup atau tidak dan juga beberapa senjata yang siap menembakkan peluru jika musuh mulai menyerang."


"Apa alat itu akan tepat sasaran untuk menembak musuh? bagaimana jika alat itu salah sasaran dan malah menembak tim kita? apa kamu bisa mempertanggungjawabkan itu, Jordan?"


"Tentu saja, Tuan. Mereka sudah di rancang khusus untuk anda, kapan pun anda memberi perintah. Mereka akan mulai menembakkan peluru mereka, dan para bawahan anda akan tetap aman karna ada identitas mereka didalam alat itu yang sudah saya stel."


"Hm...baiklah, siapkan mobil. Kita akan kembali ke markas sekarang!" perintah gue, lalu turun dari ranjang.


Tapi saat gue ingin berdiri, tiba-tiba saja tubuh gue terasa sangat lemas dan hampir terjatuh kelantai.


"Tu-tuan!!?"" teriak Jordan dan sontak menangkap gue.


"Whiskey apa yang anda minum, Tuan? kenapa bisa sampai mengganggu tubuh anda? apa anda mencampurkan sesuatu kedalam whiskey itu?" sahutnya.


"Tidak tau, aku tidak mencampurkan apapun kedalam minuman ku. Aku juga merasa heran, baru kali ini aku mabuk saat meminum 7 botol alkohol saja. Ini benar-benar gila." ucap gue.


"Sekarang kita harus kerumah sakit, Tuan. Tubuh ada tidak boleh di biarkan seperti ini saja." sambungnya, dan sontak menggendong gue.


"Apa yang kamu lakukan!!?" teriak gue.


"Maaf atas kelancangan saya, Tuan. Ini demi kebaikan anda." ucapnya dan langsung berlari keluar dari kamar gue.


Saat berada di luar kamar, gue di buat terkejut dengan para bawahan yang ternyata sudah hampir semuanya sedang berkumpul di depan kamar gue.


"Anda ingin kemana, Tuan?" tanya salah satu bawahan gue.


"Jaga Nona, saya akan membawa Tuan ke rumah sakit." ucap Jordan, dan mulai melangkah dengan cepat.

__ADS_1


Jujur saja, gue benar-benar malu dengan keadaan gue sekarang. Gue yang baru sadar dari mabuk berat, pakaian yang cukup berantakan, dan parahnya gue di gendong oleh seorang Pria.


Tentu saja itu menarik perhatian para tamu dan staf Hotel lainnya, dan yang bisa gu lakuin? gue hanya bisa menutup mata gue dan berpura-pura pingsan.


*Cepat sampai mobil, dong! malu banget, sumpah!!* batin gue.


dan akhirnya Gue berada di dalam mobil Jordan, tepatnya di kursi belakang.


"Hah...kelakuan mu benar-benar membuat ku hampir gila, Jordan." protes gue kepadanya.


"Maaf, Tuan. Jika anda ingin menghukum saya, hukum saja nanti. Sekarang yang lebih penting adalah kesehatan anda." ucapnya, dan langsung menancapkan gas dengan kecepatan penuh.


Selama di perjalanan, gue berusaha untuk menggerakkan tubuh gue. Memang bisa bergerak, tapi sedikit sulit bagi gue. Rasanya, tubuh gue hampir lumpuh dan itu entah karna apa.


"Hah...apa aku salah karna minum alkohol setelah disuntik bius?" gumam gue sambil menyandarkan punggung gue ke sandaran kursi mobil.


Hari ini rasanya sangat sial bagi gue. Keluarga gue yang menjadi target pembunuhan, Jessica yang hmpir terluka, luka gue yang di jahit, mabuk dan melakukan hal di luar keinginan gue, dan sekarang? gue malah hampir lumpuh.


Belum lagi mengurus Jessica yang sepertinya akan mencari gue lagi dan lagi. Tidak mungkin jika wanita itu tidak bosan berada di kamar saja, pasti dia ingin berjalan-jalan keluar. Tapi, itu cukup berbahaya saat ini.


"Hah..." hela nafas gue.


"Ada apa, Tuan? apa anda membutuhkan sesuatu?" sahut Jordan.


"Apa kondisi sekarang sudah aman?" tanya gue.


"Sudah, Tuan. Musuh yang tadinya menyerah Nona sudah tewas, dan musuh lainnya tidak akan berani untuk menyerang lagi di hari yang sama. Mungkin mereka akan menyerang jika mereka sudah memiliki rencana baru lagi, dan itu di perkirakan akan memakan waktu cukup lama. Karna saya dan beberapa bawahan Pribadi anda sudah berhasil membunuh musuh yang paling mengancam keselamatan anda." jelasnya yang membuat gue terkejut dan sontak menengok tubuh gue.


"Kapan? kapan kalian membunuhnya? bukannya dia selalu bersembunyi? dan dia selalu menyuruh bawahannya untuk turun tangan." sahut gue.


"Sekitar 2 jam yag lalu, Tuan. Kami berhasil memenggal kepalanya, dan membunuh kaki tangannya." jawabnya dengan sangat santai.


"Aku cukup takjub dengan kalian, berani bertindak sebelum ada perintah." sindir gue dan kembali bersandar.


"Maaf, Tuan. Ini demi keamanan anda dan Nona, kami tidak ingin kehilangan kalian yang memiliki peran penting di Dunia ini." ucapnya


"Hah...sudah lah, aku ingin beristirahat." sambung gue, lalu memejamkan mata gue.

__ADS_1


Gue memang cukup mengantuk, dan tanpa sadar malah tertidur di mobil.


Bersambung


__ADS_2