
MARCEL POV*
Disaat gue lagi asik mendengarkan perbincangan antara Jessica dan Bryan, tiba-tiba gue di buat terkejut karna Bryan yang mengajak Jessica ke ruangan.
Setelah itu, gue sudah tidak bisa mendengar apapun dari perbincangan mereka berdua.
"Dika! Ikuti mereka!!" perintah gue.
"Baik, Tuan." jawabnya.
Gue benae-benar gelisah karna takut Bryan akan melakukan sesuatu terhadap gadis itu.
"Tuan, Nona dan Pria itu masuk ke ruangan nomor 333. Dan pintunya di kunci oleh Pria itu, saya tidak bisa masuk Tuan." sahut Dika.
Mendengar itu, Gue sontak berdiri dengan ekspresi yang terkejut.
"Tuan, apa kita menyusul Nona sekarang?" sambung Jordan.
"Kita tunggu sebentar lagi, jika ada suara teriakan. Kita akan langsung kesana." ucap gue, lalu kembali duduk berusaha untuk menenangkan diri gu sendiri.
"Dika, suruh semuanya berkumpul di depan ruangan itu." perintah gue ke dia.
"Baik, Tuan." jawabnya.
"Tapi, Tuan. Itu bisa menarik perhatian para tamu." sambung Jordan.
"Biarkan saja." balas gue.
Setelah beberapa menit menunggu kabar dari Dika dan fokus mendegarkan suara yang terdengar di telinga gue.
Tiba-tiba saja gue mendengar suara gedoran pintu.
"Tuan! Nona berteriak, apa saya boleh mendobrak pintunya?" sahut Dika.
"Tidak! Tunggu aku, aku akan segera kesana." jawab gue dan langsung berdiri lalu berlari keluar dari ruangan gue.
Gue berlari masuk ke dalam lift bersama dengan Marka dan Jordan. Karna terlalu terburu-buru, gue sampai melupakan 4 bawahan gue yang lainnya.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di lantai 3, setelah lift terbuka. Gue langsung melangkah keluar dan berlari mencari ruangan dengan nomor 333.
__ADS_1
Setelah sampai di depan ruangan itu, gue langsung bertanya kepada Dika.
"Bagaimana? Apa ada suara teriakan lagi?" tanya gue.
"Tidak ada suara teriakan lagi, Tuan. Tapi mulai tadi Nona tidak keluar dari ruangan ini, saya takut teradi sesuatu kepada Nona." jawabnya.
"Minggir!" sahut gue.
Mereka yang berdiri di depan pintu langsung memberikan gue jalan, gue langsung menendang pintu itu dengan sangat kuat. Sampai pintu itu terbuka lebar.
Saat pintu itu terbuka, gue di buat terkejut dengan Bryan yang berada di atas Jessica tanpa memakai pakaian. Dan yang lebih membuat gue terkeju adalah, Jessica yang mengalungkan tangannya di leher Bryan.
Gue langsung melangkah masuk ke dalam ruangan itu dan berjalan menghampiri mereka berdua dengan emosi yang meluap-luap.
"Lu siapa? Kenapa menerobos masuk keruangan orang lain!!? Lu gak liat gue lagi bersenang-senang!?" ucap Bryan.
Gue tidak memperdulikan ucapan bocah itu, gue langsung menarik tangannya dengan kuat sampai Ia terlempar ke lantai.
"Tahan, dia!!" perintah gue tanpa menatap ke Bryan.
Gue langsung melepas jas gue dan menutupi tubuh Jessica dengan pakaian yang masih menempel di tubuhnya.
Jessica tiba-tiba melepas kancing kemeja atas gue, gue yang terkejut sontak menahan tangannya dan mejauh dari wajahnya.
Gue langsung berdiri dan berjalan kearah Bryan yang kedua tangannya di letakkan di belakang dan ditahan oleh kedua bawahan gue.
"Berlutut!!" perintah gue.
"Buat apa!!? Lu siapa!!? Lu kenal Jessica?" kesalnya.
Gue sontak mengangkat tangan kanan gue setinggi dada gue, dan menunjukkan Bryan lalu menganyunkan jari telunjuk gue kebawah.
Kedua bawahan gue sontak menarik Bryan kebawah dan memaksanya untuk berlutut di hadapan gue. Gue pun menurunkan tangan gue kembali.
"Lepas!! Kalian tau gue siapa!!?" teriaknya
"Bryan Delano Erland, Putra dari Kepala Menteri Negara. Berani sekali kamu berteriak di hadapan Tuan Marcel Anggara, Sang Pemimpin Mafia!" sambung Jordan.
"Pe-pemimpin Mafia!?" sahutnya yang menatap gue dengan mata yang membulat besar karna terkejut.
__ADS_1
Gue sontak mengangkat kaki kanan gue, dan meletakkan kaki gue di atas pundak kiri Bryan.
"Apa yang kamu berikan kepada gadis itu?" tanya gue santai.
"Tidak ada, aku tidak memberikan apapun, Tuan. Tolong lepaskan saya..." jawabnya berbohong.
"Aku tanya sekali lagi, apa yang kamu berika kepada gadis itu?" tanya gue lagi.
"Saya memberikan wine yang di campur obat!" jawabnya dengan cepat.
Mendengar jawabannya itu, gue langsung menendang wajahnya dengan sangat keras.
Gue bener-bener kesal dengan apa yang Ia lakukan kepada Jessica.
"Berani-beraninya kamu menyentuh wanita ku!!" geram gue dan menendangnya berkali-kali.
"Tuan, tolong tahan amarah anda. Anda bisa saja membunuhnya, tolong tahan Tuan. Nona pasti tidak ingin jika anda membunuh seseorang lagi." ucap Jordan yang menahan tubuh gue dari belakang.
"Tidak!! Dia pantas mati!!" tolak gue dan langsung mendorong Jordan ke belakang.
Tapi tiba-tiba saja, Jessica memanggil nama gue. Gue sontak berhenti menendang Bryan, dan berbalik lalu berlari kearah Jessica.
"Kenapa, Jes? Ada yang sakit?" tanya gue yang duduk di sampingnya.
"Pa-panas...tolong gue..." lirihnya sambil menggeliat di atas ranjang.
Gue langsung menggendongnya lalu berdiri.
"Kita kembali ke markas!" perintah gue.
"Lalu bagaimana dengan Pria itu, Tuan?" sambung Dika.
"Lepaskan saja, dia tidak penting." jawab gue lalu melangkah keluar dari ruangan itu menuju ke basment.
Selama di perjalanan menuju basment, Jessica tak henti-hentinya berkata "Panas" dan "Tolong" Ia juga sesekali menarik kera baju gue dan mencium bibir gue.
Gue memang suka sama ciuman dari gadis itu, tapi gue gak mau mengambil keuntungan darinya yang sedang menderita seperti ini. Gue berusaha untuk menahan diri gue dan menjauhkan wajah gue dari wajahnya.
Bersambung
__ADS_1