
Gue sontak duduk di sofa, tapi tiba-tiba saja ada yang bertanya. "Kenapa lu ngebunuh orang yang gak salah?"
Gue yang mendengar itu, sontak menengok dan menatap Jessica yang sedang duduk di atas ranjang gue.
"Astaga!! lupa kalau ada lu." ucap gue.
"Tadi lu bilang apa?" tanya gue.
"Kenapa lu ngebunuh orang yang gak salah?" tanyanya kembali.
"Memang kenapa? suka-suka gue, mau ngebunuh siapa. itu bukan urusan lu atau urusan siapapun." jawab gue.
"Hanya karna lu pemimpin dari mereka?" sambungnya.
"Bukan cuma bawahan gue, siapapun itu. Terserah gue, mau ngebunuh atau gak. Kalau gue mau bunuh, ya gue bunuh lah." balas gue.
"Lu terlalu seenaknya, mentang-mentang lu pemimpin mafia. Lu malah bersikap sesuka hati lu, gitu? Lu gak tau kan, bisa aja orang yang lu bunuh malah orang paling berharga di hidup orang." oceh gadis itu.
Gue yang mendengar itu, sontak berdiri dan menghampiri gadis itu.
"Lu mau ngapain?" tanyanya.
Gue sontak memegang dagunya, dan mengangkatnya dengan kasar.
"Emang lu siapa? berani banget ceramahin gue. Jangan lu pikir, gue biarin lu disini, karna gue baik sama lu. Kalau gue muak sama lu, gue bisa langsung bunuh lu disini." ucap gue serius.
"Lebih baik lu diam aja, gak usah banyak bacot kalau lu masih mau hidup!" ancam gue.
"Gue lebih suka cewek penurut, dari pada cewek kayak lu!!" lanjut gue dan langsung menepis dagunya dengan kasar.
Gue pun berbalik, dan bejalan kembali ke sofa gue.
"Jordan!!" teriak gue sambil duduk di sofa.
"Ada apa, Tuan?" sahut Jordan setelah masuk ke ruangan gue.
"Apa kamu sudah menyuruh mereka, untuk membersihkan kamar sebelah?" tanya gue.
"Belum, Tuan." jawabnya.
"Cepat kerjakan!! aku sangat muak melihat gadis itu!!" geram gue.
"Baik, Tuan." jawab Jordan lalu keluar dari ruangan gue.
__ADS_1
Gue langsung menyandarkan punggung gue ke sandaran sofa, lalu memejamkan mata gue.
JESSICA POV*
Gue benar-benar takut dengannya, tapi disisi lain gue malah penasaran sama tuh cowok.
Gue berpikir, mungkin saja dia punya masa lalu kelam. Makanya dia bisa sejahat ini.
Saat dia menembak Pria yang tidak bersalah tadi, itu benar-benar membuat gue sangat takut sampai-sampai tubuh gue bergetar dengan hebat.
Tapi dari perilakunya yang kejam itu, ada yang membuat gue malah bingung dan semakin penasaran dengannya.
Hal itu adalah penampilannya yang bikin gue bisa saja tidak mengenalinya. Dirinya saat di sekolah, dan saat malam hari. Itu benar-benar sangat berbeda.
Saat disekolah, dia kelihatan sangat celek, dan kelihatan kurus. Tapi sekarang? Dia malah kelihatan sangat tampan, dan tubuhnya itu benar-benar membuat para wanita tergoda.
*Kok bisa dia pakai baju kayak gitu? bikin orang tergoda, tapi takut buat deketin dia.* batin gue saat melihat Reyhan yang sedang duduk di sofa sambil melentangkan kedua tangannya di atas sandaran sofa dengan pakaian yang cukup terbuka.
*Dia udah kayak Pria penggoda.* batin gue.
"Ngapain lu liatin gue?" sahutnya yang membuat gue terkejut.
"Gu-gue gak ada liatin lu, kok." jawab gue.
*Lu kan tutup mata, bego!! mana bisa lu liat gue.* batin gue.
"Mata gue memang gue tutup, tapi bukan berarti gue gak bisa ngerasain lu yang dari tadi ngeliatin gue mulu." ucapnya.
"Lu ngomong apa, sih? gak jelas banget" elak gue.
Tiba-tiba saja, dia membuka matanya lalu menengok kearah gue dan menatap gue dengan tajam.
"Lu pikir gue bisa di begoin, apa? lain kali jangan natap gue, kalau gak. Tuh mata gue congkel." ancamnya.
Saat mendengar itu, bulu kudukku rasanya langung merinding hanya dengan kata-katanya saja.
"I-iya." jawab gue.
Dia pun kembali menatap ke langit-langit, dan juga kembali menutup matanya.
*Gila!! tuh orang peka banget atau gimana sih?* batin gue.
Dari pada gue bosan, gue pun akhirnya lebih memilih untuk bermain ponsel saja, dan tidak memperdulikan Laki-laki itu.
__ADS_1
Tapi, saat gue lagi asik bermain ponsel. Tiba-tiba saja, ada yang merampas ponsel gue dengan sangat karas.
Gue sudah siap untuk marah, tapi saat tau siap yang merampas ponsel gue. Gue hanya bisa bertanya. "Kenapa?*
"Selama lu disini, lu gak boleh main HP. Gue gak mau lu malah ngasih tau orang lain, atau lu foto tempat ini terus lu upload di story lu." jelasnya.
"Gak lah, gue cuma mau scroll sosmed doang. Gak mungkin ada yang tau lokasi gue lah." elak gue.
"Sekarang gak ada yang mustahil, jadi mending lu nurut aja. Dari pada HP lu ini, gue lembar." ancamnya.
"Jangan!!" teriak gue sambil merampas ponsel gue itu.
"Lu kenapa, sih? doyan banget ngancem orang, emang lu gak bisa hidup tanpa ngancam orang, hah?!!" oceh gue.
"Lu tuh, doyan banget ngoceh. Tuh Mulu udah kecil, malah ngomong terus. Entar robek, baru lu tau rasa!!" sambungnya dan sontak duduk di samping gue.
"Ngapain lu?" tanya gue bingung.
"Gue ngantuk, mau tidur." jawabnya dan sontak berbaring tepat di belakang gue.
"Lah? terus gue gimana?" sahut gue sambil menengok ke belakang.
"Tidur di lantai." jawabnya santai.
"Gue mana bisa tidur di lantai!! lu pikir gue ap—Aaaa!!!" protes gue yang tiba-tiba berubah menjadi teriakan karna terkejut.
Bagaimana tidak? Reyhan tiba-tiba narik gue untuk berbaring di sebelahnya, dan sontak memeluk gue.
"Lu banyak bacot! gue ngantuk." ucapnya santai.
Karna terlalu kaget, gue sampai tidak bisa berbicara apapun, dan hanya menatap langit-langit dinding tanpa bergerak sedikitpun.
*Ini gimana, woi!! astaga!!!* teriak gue dalam hati.
Walaupun Reyhan tidak memeluk erat gue, tapi tetap saja gue gak bisa bergerak.
Antara takut ganggu dia, dan juga takut gue nyentuh yang lain.
*Tolong!!* batin gue yang benar-benar ingin lepas dari situasi sekarang.
Bersambung
__ADS_1