
"TUAN!! TUAN!!" teriak seseorang yang tiba-tiba menerobos masuk ke dalam ruangan ku. Aku yang sedang menulis sesuatu, terkejut karna teriakan itu dan membuat tulisan ku tercoret.
"Sialan! aku sudah nulis sejauh ini, tapi malah tercoret? Argh!! tak tau lah!!" geram ku dan melempar kertas yang tercoret itu.
Aku pun menatap kearah Pria itu, dan bertanya. "Ada apa? kenapa kau berteriak dan mengganggu ku?"
"Maaf karna kecerobohan saya, Tuan," ucapnya sambil membungkuk.
"Sudahlah, cepat jawab! kenapa kau berteriak?"
"Itu, Tuan. Nyonya—"
Belum selesai Ia berbicara, aku langsung berdiri. "Apa yang terjadi?! dimana dia sekarang!?"
"Ruang kerjanya, Tuan." Setelah mendengar jawabannya, aku langsung berlari keluar dari ruangan ku menuju ruangan Carmelia. Aku tidak tau apa yang terjadi dengan wanita itu. Tapi, aku takut jika Ia sampai terluka dan membuat bayi yang sudah berumur 8 bulan di kandungannya malah ikut terluka.
Setelah sampai di depan ruangan wanita itu aku langsung menerobos masuk dan memanggil nama wanita itu. Tapi saat di dalam, aku malah dibuat terkejut dengan Hendra yang sudah berada di samping Carmelia. Bukan hanya Hendra, ada Nella, Felix, dan juga Andre di sana.
"Apa yang terjadi?" tanya ku sambil berjalan cepat kearah mereka.
"Nyonya terjatuh dari kursi, Tuan. Untuk saja Nyonya tidak mengalami pendarahan," jawab Hendra.
"Terjatuh!? bagaimana bisa?"
"Apa yang tidak bisa? aku hanya terjatuh, bukan masalah besar," cetus Carmelia.
"Bukan masalah besar? bagaimana kalau kau dan bayi itu terluka!!? bukannya kamu selalu berkata, kalau kamu akan menjaga bayi itu!!?"
"Hei! berhentilah mengomeli ku, aku bisa menjaga diri ku sendiri! aku hanya terjatu karna kaki ku tidak stabil tadi, ini benar-benar bukan masalah besar."
__ADS_1
"Apa susahnya sih diam di kamar!? aku sudah bilang, untuk berhenti bekerja!! pekerjaan mu itu bisa di kerjakan oleh Nella, kau hanya perlu berdiam diri di kamar, dan tidak melakukan apapun! apa sesusah itu, hah!!?" geram ku.
"Bayi mu itu sudah delapan bulan di dalam perut mu, seharusnya kau lebih hati-hati. Bukannya malah terus-terusan melawan perkataan ku, kau itu bukan anak kecil lagi, Carmelia~"
"Ah!, terserahlah! AgNella, bantu aku ke kamar ku."
"Baik, Nyonya." Nella pun membantu Carmelia berdiri dan kedua wanita itu pergi bersama Felix dari hadapan ku tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Haah... kenapa sih dia selalu seperti itu?" keluh ku sambil menyisir rambut ku ke belakang menggunakan tangan kanan ku.
"Sabar, Tuan. Mungkin Nyonya lelah berada di kamar terus. Istri saya juga dulu seperti itu, bahkan Ia tidak ingin berdiam diri dirumah, dan selalu meminta saya untuk mengajaknya jalan-jalan," ucap Hendra.
"Tapi, setidaknya Ia harus memikirkan bayi yang ada di dalam kandungannya. Kalau di terluka, pasti bayi itu juga akan terluka!"
"Mau bagaimana lagi, Tuan. Nyonya memang wanita yang keras kepala—" Tiba-tiba perkataan Andre terpotong karna ponsel miliknya yang berdering.
"Haah... padahal aku hari ini sangat sibuk," gumam ku.
"Anda pasti sangat sibuk, karna tidak ada Jordan yang membantu anda."
"Ya mau bagaimana lagi, Jordan yang menggantikan ku di sana. Kalah bukan karna serikat kepolisian di Amerika, mana mungkin bisa ada masalah sebesar ini. Sampai-sampai 5 Negara langsung yang terkena imbasnya."
"Tapi, ini sudah berjalan satu bulan selama Jordan di Amerika. Sampai sekarang, aku masih belum mendapatkan kabar baik darinya."
"Tuan! Jordan baru saja menelpon!" cetus Andre dengan raut wajah yang gelisah.
"Eh? kenapa tiba-tiba? baru saja aku membicarakannya," heran ku.
"Kabar apa yang Ia berikan?" tanya ku.
__ADS_1
"Kabar kali ini sangat buruk, Tuan. Kita harus segera menyusul mereka hari ini juga," jawabnya.
"Apa maksud mu? kenapa kita harus turun tangan juga? sudah ada 5 perwakilan setiap negara di sana, Jordan saja sudah cukup untuk menyelesaikan masalah ini. Kita tidak perlu kesana."
"Tidak, Tuan. Jordan dan kelima perwakilan itu di tahan dengan tuduhan pemberontak kepada serikat kepolisian."
"HAH!!?" teriak ku.
"Bagaimana bisa? mereka tidak bisa menahan orang seenaknya, dan lagi mana ada orang yang berani menangkap sekretaris para mafia!"
"Saya tidak tau pasti bagaimana itu bisa terjadi. Tapi, sekarang kita harus menyusul mereka segera, Tuan. Jika tidak, Jordan bisa saja mendapatkan masalah lainnya nanti."
"Tapi— argh!! beritahu Vernon untuk mengemas barang-barang ku. Dan kau Andre, cari tau apa yang terjadi di sana dan cari tau juga cara untuk melepaskan para tahanan itu."
"Baik, Tuan," jawab Andre, lalu melangkah pergi.
"Tuan, bagaimana dengan Nyonya? apa anda akan meninggalkannya disini?" timpal Hendra.
"Hendra, ini masalah yang mendesak. Aku tidk mungkin mengatakan ini kepada Carmelia, tapi. Apa aku bisa meminta bantuan mu?"
"Tentu saja, Tuan. Saya akan siap membantu anda."
Aku langsung memegang pundak Hendra. "Tinggal lah disini, dan jaga Carmelia seperti kau menjaga ku. Pastikan dia tetap aman sampai aku kembali. dan tolong... jaga calon anak ku, seperti kau menjaga Putra mu."
"Ba-baik, Tuan. Saya akan tinggal disini dan menjaga Nyonya, sampai anda kembali."
"Baiklah, aku akan pergi sekarang," ucap ku, lalu berdiri. Aku menengok kearah Hendra dulu, dan tersenyum tipis kepadanya. Setelah itu, aku langsung melangkah keluar dari ruangan itu dan berjalan ke ruang ganti untuk bersiap.
BERSAMBUNG
__ADS_1