Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Sakit Perut


__ADS_3

   Akhrinya Jordan pun kembali dengan 4 kantong plastik yang berisi benda-benda aneh itu, sampai memenuhi tangan sekretaris gue.


  Setelah semua belanjaan itu di letakkan di bagasi, kami pun langsung kembali ke markas.


  Tak lama kemudian, akhirnya kami sampai di basment. Gue pun langsung keluar dari mobil, sedangkan Jordan, Ia mengambil semu kantong plastik itu.


  Gue langsung melangkah masuk ke dalam markas, menuju kamar Jessica, diikuti Jordan di belakang gue.


  Saat sampai di depan kamar gadis itu gue langung menerebos masuk ke dalam kamarnya.


  "Kok lu lama banget, sih?!" protesnya ke gue.


  "Berikan kepadanya!!" perintah gue ke Jordan.


  Jordan pun melangkah masuk, dan langsung memberikan semua kantong plastik itu ke Jessica.


  "Apa ini? kok banyak banget?" tanyanya.


  "Jawab, Jordan!" perintah gue.


  "Itu semua pembalut yang anda inginkan, dan ada beberapa barang lainnya yang mungkin anda butuhkan." jawab Jordan.


  "Sebanyak ini? gue cuma butuh satu, kali!!" protesnya.


  "Maaf, Nona. Karna Tuan tidak tau akan membeli yang mana, jadi Tuan membeli masing-masing satu setiap merekanya. Agar anda bisa memilihnya langung." jelas Jordan.


  "Gue gak pemilih kalau masalah kayak gini, padahal tinggal beli satu doang. Kok ribet banget!" sambung gadis itu.


  "Terserah lu." jawab gue dan langsung berbalik, lalu melangkah keluar dari kamar itu.


  "Shit!! udah bikin malu gue, dia malah protes mulu, dasar!!" gerutu gue, lalu kembali k kamar gue.


  JESSICA POV*


  Gue gak tau, tuh cowok antara terlalu pintar atau terlalu bego. Masa beli pembalut dengan merek yang berbeda-beda.


  *Kalau sebanyak ini, gue bisa jual lagi, kali! dapat duit, buat makan.* batin gue saat melihat semua isi kantong plastik yang ada di tangan gue.


  "Nona, apa anda marah dengan Tuan?" sahut Jordan.


  "Hah? marah? tidak, saya hanya heran saja dengan sikapnya yang plin plan itu." jawab gue.


  "Sebenarnya, Tuan adalah orang yang langsung memutuskan seenaknya. Ia tidak pernah berpikir lagi, jika sudah memutuskan sesuatu. Tuan bukan orang plin plan, seperti yang anda pikirkan." ucapnya.


  "Ya, baiklah. Anda boleh keluar." sambung gue.


  "Baik, Nona." jawabnya, dan langsung keluar dari kamar gue.


  Gue pun langsung meletakkan belanjaan itu di atas ranjang gue, lalu mengambil 1 bungkus pembalut untuk gue pakai.

__ADS_1


  Setelah selesai memakai pembalut, gue langsung cepat-cepat berbaring karna perut gue yang mulai terasa sakit.


  Hari pertama itu, memang hari yang sangat menyakitkan untuk para wanita. Rasanya sudah seperti di siksa tanpa ampun, sangat sakit tapi tidak terluka.


  Gue baru ingat, kalau Jordan tadi mengatakan kalau ada barang lainnya yang mungkin gue butuhkan.


  Gue langsung bangun dari posisi tidur gue, dan mengecek isi setiap kantong plastik itu. dan yang gue dapatkan pertama adalah beberapa botol yang biasa gue minum saat datang bulan.


  Tanpa basa-basi lagi, gue langsung meminumnya. Lalu kembali berbaring lagi.


  Tapi, rasa sakit itu masih saja menyiksa gue. Rasanya gue mau berteriak sekencang-kencangnya, karna rasa sakit ini.


  MARCEL POV*


  Gue yang lagi asik berbaring, sambil bermain ponsel. Tiba-tiba sadar, kalau Jessica mulai tadi gak ada bersuara apalagi datang ke rungan gue cuma buat ganggu gue yang lagi santai.


  Padahal, biasanya dia gak bisa diam di kamar. Entah itu ikut ngumpul sama bawahan gue yang lainnya, ganggu gue yang lagi santai, belajar menempak. Pasti ada aja yang Ia kerjakan, dan pasti setiap menit ada suaranya yang gue denger.


  Tapi sekarang, udah satu jam lebih gue gak ada denger suaranya. Awalnya gue pikir dia lagi tidur, tapi gak mungkin dia tidur di jam segini.


  dan aneh, gue malah berniat untuk mengeceknya di kamarnya. Padahal waktu santai gue ini, sangat jarang gue dapatkan.


  "Ada apa, Tuan?" tanya Jordan saat melihat gue keluar dari kamar.


  "Tidak ada, aku hanya ingin bertemu dengan Carmelia." jawab gue, lalu melangkah menuju kamar gadis itu.


  "Woi! lu lagi ngapa...in." ucap gue terkejut saat melihat Jessica yang sedang tengkurang di atas kasur, sambil memegang perutnya dengan erat.


  "Lu kenapa, woi?!! astaga!!" tanya Gue panik.


  "Sa-sakit..." lirihnya.


  "Sakit? apa lu yang sakit?" tanya gue lagi.


  "Perut gue..." Jawabnya.


  Karna terlalu panik, gue langsung berteriak memanggil Jordan.


  "Ada apa, Tuan?" tanya Jordan.


  "Telpon dokter, dan suruh dia kesini, segera!!' perintah gue.


  "Baik, Tuan." jawabnya lalu keluar dari kamar ini.


  "Lu kenapa, sih?" tanya gue lagi dan lagi.


  "Lu nanya mulu!!! sakit, bego!!" teriaknya.


  "Lah? kok lu marah, sih? gue kan cuma nanya." protes gue.

__ADS_1


  "Serah lu!!" geramnya.


  "Kok jadi gue yang salah?" heran gue.


  Tak lama kemudian, dokter pun datang. Gue langsung menyuruhnya untuk memeriksa Jessica.


  Tapi, saat di periksa dokter itu tiba-tiba saja mengangkat baju Jessica sampai-sampai bagian perutnya telihat.


  Gue yang kaget, refleks menahan tangan dokter itu dan menatapnya dengan tajam.


  "Mau ngapain?" tanya gue.


  "Mau di periksa, Tuan." jawabnya.


  "Buat apa angkat bajunya? Kamu nyentuh di luar aja, udah syukur aku izinin. Sekarang mau nyentuh yang di dalam? kamu mau dibunuh, hah?!!" geram gue.


  Tiba-tiba saja, Jessica memukul legang gue dengan keras.


  "Lu ngapain, sih?!!! jauh lu!!" geramnya.


  "Tapi—"


  "Jauh, gak?!!!" potongnya.


  dan anehnya, gue malah ngelakuin apa yang dia katakan.


  "Permisi, Nona." ucap dokter itu, lalu menyentuh perut Jessica.


  Gue yang melihat itu, rasanya mau gue tembak mati tuh dokter. Sangking kesalnya, gue sampai menatap dokter itu dengan tajam dan ekspresi muak.


  "Apa anda sedang datang bulan, Nona?" tanya dokter itu.


  "Iya." jawab Jessica.


  "Anda akan baik-baik saja, sakit seperti ini sangat wajar jika sedang datang bulan. Anda hanya perlu mengompresnya dengan air hangat saja, agar rasa nyerinya berkurang. ucap dokter itu.


  "Kompres? tadi Jordan sempat beli alat kompres, ada di antara kantorg plastik itu." sambung gue.


  "Pakai alat yang Tuan maksud saja, alat akan lebih praktis dari pada mengompresnya secara manual."


  "Apa sudah selesai?" sahut gue.


  "Sudah, Tuan." jawabnya.


  "Pergilah!!" perintah gue.


  "Baik, Tuan." jawabnya sambil menunduk, lalu pergi.


  Gue langsung duduk di atas ranjang gadis itu, dan mengecek semua isi kantong plastik itu, untuk mencari alat yang di beli Jordan tadi.

__ADS_1


  Bersambung


__ADS_2