
"Menyukainya? apa yang sedang kau maksud?" tanya Marcel yang merasa bingung dengan jawaban Bryan.
"Apa kau sekarang menjadi bodoh, karna Istri mu mati?" ejek Bryan.
"Kalau menurut mu aku seperti itu, anggap saja aku memang benar gila," balas Marcel.
"Haah... terserah!"
"Lebih baik kau bunuh aku sekarang, sebelum aku bebas dan malah aku yang membunuh mu!" ancam Bryan.
"Aku tidak akan membunuh mu sekarang, kita akan bermain terlebih dulu," kata Marcel sambil memberikan pedangnya kepada Andre.
"Tutup saja pedang itu, aku tidak akan menggunakannya," lanjutnya.
"Jordan, bisa ambilkan aku kursi lagi?" pinta Marcel.
"Bisa, biar saya ambilkan sekarang," jawab Jordan.
"Tunggu! ambilkan juga pematik, gunting kuku, teh panas, wine, dan alat itu."
"Alat itu? maaf, Tuan. Alat apa yang anda maksud?" tanya Jordan.
__ADS_1
"Alat bor," jawab Marcel.
"Eh? anda akan menggunakan alat itu? alat itu kan tidak berfungsi dengan baik, dia bisa—"
"Andre, aku tau tentang itu. Lebih baik kau bantu Jordan untuk menyiapkan segalanya!" potong Marcel.
Andre hanya menjawab dengan menundukkan kepalanya saja, lalu mereka berdua pun pergi untuk mengambil barang-barang yang di minta oleh Marcel.
Tak butuh waktu lama, semua barang yang di minta oleh Marcel sudah berada di atas meja tepat disampingnya. Marcel yang duduk di depan Bryan itu, tak henti-hentinya menatap wajah Bryan dengan ekspresi datar.
"Jordan, apa kau sudah menyambungkan alat itu ke listrik?" tanya Marcel.
"Sudah, Tuan," jawab Jordan.
"Aku akan menjelaskan tentang alat itu, sebelum itu..." kata Marcel sembari mengambil secangkir teh panas.
"Lebih baik kau minum dulu, aku tau kau pasti sangat haus," lanjutnya.
Disaat Marcel menyodorkan secangkir teh panas itu kearah Bryan, Bryan hanya diam dengan ekspresi yang heran.
"Kenapa kau tidak membuka mulut mu?" tanya Marcel. Bryan masih heran dan sedikit curiga dengan Marcel, tapi Ia akhirya memajukan sedikit kepalanya dan membuka mulutnya perlahan. Marcel pun menempelkan ujung cangkir itu ke bibir Bryan, dan mulai membantu Bryan untuk minum dengan tangannya sendiri.
__ADS_1
"Aku mulai bertanya-tanya, kenapa kau tidak waspada kepada ku? padahal bisa saja aku menuangkan racun di dalam teh ini." Bryan tak bereaksi sedikitpun pada perkataan Marcel, Ia malah menghabiskan teh yang cukup panas itu. Lalu kembali memundurkan kepalanya.
"Kau yang di angkat sebagai pemimpin Mafia Dunia dan memiliki julukan Mafia terkejem, hanya memberikan ku sebuah racun untuk membalas kematian Istri dan anak mu? itu benar-benar mustahil," balas Bryan.
"Kau cukup mengenal ku."
Setelah meletakkan kembali cangkir teh itu, Marcel mengambil gunting kuku, lalu menyuruh Andre untuk meletakkan tangan Bryan di depan dan tetap di rantai.
Marcel memegang tangan kiri Bryan, dan mulai memotong kuku jari Marcel. "Kau tadi bertanya tentang alat itu kan? aku akan memberitahunya sekarang."
"Alat itu di sebut bor manusia, kenapa? karna alat itu jika di nyalakan akan membolongi tubuh manusia dengan waktu yang sudah di tentukan—"
"Apa maksud mu!!? kenapa kau membawa alat gila itu!!?" potong Bryan.
Marcel yang kesal karna perkataannya di potong oleh Bryan, Ia tiba-tiba menarik kuku Bryan dengan gunting kuku itu sampai kuku milik Bryan terlepas dari jari telunjuknya. Bryan sontak berteriak dengan keras, tapi Marcel hanya diam tanpa ekspresi.
"Diam dan dengarkan saja!! " tegas Marcel.
"Sampai mana kita tadi? oh! tapi alat itu tidak berfungsi dengan baik, bukan berarti alat itu tidak bisa di pakai. Hanya saja, alat itu akan bergerak sangat lama, jika di liat dari tubuh mu. Itu akan menembus kedepan setelah fajar tiba," lanjutnya.
"Kenapa kau harus menggunakan alat itu!!? kau hanya perlu membunuh ku, tembak saja aku berkali-kali!!"
__ADS_1
Marcel tiba-tiba menatap wajah Bryan, dan menjawab. "Karna aku suka~" lalu tersenyum tipis.
BERSAMBUNG