
Saat sudah dekat dengan ruang kerja Marcel, aku bisa melihat 4 orang penjaga yang sedang berjaga di depan pintu ruangan itu.
Aku pun menghampiri mereka dan bertanya. "Apa Tuan ada di dalam?"
"Selamat Pagi, Nona." sapa mereka bersama sambil membungkuk sekilas.
"Apa Tuan Marcel ada di dalam?" tanya ku lagi.
"Ada, Nona. Silahkan masuk." jawabnya dan bergegas membukakan pintu untuk ku.
Aku pun melangkah masuk kedalam ruangan itu. Saat di dalam ternyata ada Jordan yang sedang duduk di sofa dengan dokumen yang menumpuk di hadapannya. Bukan hanya itu, aku juga melihat seorang Pria yang terlihat sangat fokus dengan dokumen yang ada di tangannya.
Ya...itu adalah Marcel, wajahnya yang sedang serius itu terlihat sangat tampan. Rasanya tidak ingin mengganggu dan membuat sebuah karya seni itu rusak.
Tapi pada akhirnya Jordan menyadari keberadaan ku dan berkata. "Eh, Nona? kapan anda datang?" dan membuat Marcel sontak menengok dan menatap ku.
"Baru saja, kalian terlihat sangat serius, aku sampai tidak rela untuk mengganggu kalian." jawab ku.
"Kemarilah." panggil Marcel.
Aku pun melangkah kearahnya dan berdiri tepat di samping Pria itu. Tapi, tiba-tiba saja Marcel menarik ku ke atas pangkuan dan memeluk pinggang ku dengan tangan kanannya.
"Jordan, tinggalkan kami berdua." ucapnya.
Dengan cepat Jordan bangun dari posisinya dan menunduk sambil berkata. "Selamat bersenang-senang." lalu melangkah pergi keluar dari ruangan ini.
Marcel sontak mengangkat tubuh ku dan mendudukkan ku di atas mejanya, lalu memeluk pinggang ku dan menatap ku lekat.
"Ada apa? apa ada yang menggangu pikiran mu?" tanya ku sambil mengelus puncak kepalanya.
__ADS_1
"Aku hanya merindukanmu." jawabnya.
Mendengar jawabannya itu, aku langsung tersenyum kecil dan memegang kedua pipinya.
"Aduh~ bayi besar ku ini manja sekali~" sambil sedikit menekan pipinya.
"Bayi besar mu ini buatuh sebuah ciuman." ucapnya dengan bibir manyunnya.
"Baiklah, sebuah kecupan kecil untuk bayi besar ku ini." jawab ku, lalu mengecup bibirnya.
Tapi tiba-tiba saja Marcel menahan leher bagian belakang ku dan memaksa ku untuk membuka mulut. Pria itu mulai memainkan lidahnya didalam sana, Ia menatap ku seolah-olah mempermainkan ku.
*Benar-benar penipu kecil.* batin ku, dan langsung mengikuti permainannya itu.
Sialnya, saat Marcel sudah memulai permainannya. Ia tidak mengizinkanku untuk beristirahat sebentar, membiarkan ku bernafas pun tidak.
Tanpa sadar, aku malah menggigit bibir Marcel dan membuatnya sontak melepaskan bibirku.
"Maaf, maaf... aku tidak sengaja, maafkan aku." ucap ku.
"Tidak apa." jawabnya sambil memegang bibir bawahny itu.
"Eh!? i-itu berdarah!" sahut ku dan langsung memegang kedua pipi Marcel dan mendekatkannya kewajah ku.
"Aduh....gimana nih? ini berdarah loh, sakit gak?" tanya ku khawatir.
"Gak sakit, cuma perih aja."
"Serius? aduh...maaf banget, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak sengaja tadi."
__ADS_1
"Hm...kalau begitu kecup bibir ku, agar perihnya hilang."
Mendengar ucapannya itu, aku langsung mendorongnya dan berkata. "Jangan menipuku lagi!"
"Kapan aku menipu mu? bibir ku benar-benar terasa sangat perih."
"Huuh!!" ketus ku.
"Carmelia~" panggilnya.
"Hm..." dehem ku.
"Sudah lama kita tidak seperti ini, apa kamu tidak merindukan kehidupan kita saat di markas dulu?"
"Tentu saja aku merindukan hari-hari di markas, tapi sekarang kan sudah berbeda. Kamu harus kembali ke kastil dan menetap disini sebagai pemimpin keluarga Marcel.
"Ya...aku harus menetap disini."
"Tapi, apa kamu mau menemani ku? untuk menetap disini selamanya? bukan hanya dikastil ini, apa kamu mau menetap selamanya disisi ku?"
"Apa maksud mu?" tanya ku yang bingung dengan perkataannya.
"Carmelia, apa kamu mau menikah dengan ku?"
BERSAMBUNG
*Annyeong~ maaf ya akhir-akhir ini lama banget updatenya, trs kemarin sempat gak update juga. Maaf banget~
Akhir-akhir ini author lagi sibuk, tapi tetap berusaha untuk up kok* :)
__ADS_1