
Setelah cukup lama menunggu Jessica dan wanita itu kembali, akhirnya mereka pun datang dan berjalan menuju kearah kami.
Tapi ada yang aneh dari gadis itu, mulai tadi Ia selalu menundukkan wajahnya dan membiarkan rambutnya terurai sampai menutupi wajahnya.
"Ini Putri tunggal kami, Tuan." ucap wanita itu.
"Kemari lah!!" perintah gue.
"Hah?!!" sahut kedua pasangan itu.
"Putri anda, suruh dia mendekat." jawab gue.
"Ba-baik, Tuan." jawab Wanita itu, lalu memaksa Jessica untuk berdiri dan mendorongnya pelan kearah gue.
"Hm..." dehem gue.
Jessica pun berdiri di hadapan gue, tapi tetap saja Ia tidak menegakkan kepalanya, walaupun hanya untuk menatap gue.
Gue sontak menarik tangan gadis itu, dan mendudukkannya di atas pangkuan gue.
"Hey...ada masalah apa?" bisik gue.
Bukannya menjawab, Jessica hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Kenapa lu gak datang ketempat itu? lu sibuk atau gimana?" lanjut gue.
"Ba...bawa gue pergi..." lirihnya.
"Tapi, kenapa?" tanya gue pelan.
"To...tolong.... bawa gue pergi dari sini..." pintanya.
"Hah..." Hela nafas gue.
"Apa aku bisa membawa Putri anda sekarang?" tanya gue sambil menatap kedua pasangan itu.
"Tentu saja, Tuan. Anda boleh membawanya." jawab Wanita itu dengan terseyum bahagia.
"Baiklah..." ucap gue dan sontak menurunkan Jessica lalu berdiri.
"Aku akan mengembalikannya besok." lanjut gue sambil menggenggam tangan Jessica, lalu menariknya pergi bersama gue.
Setelah keluar dari rumah itu, gue langsung menyuruh Jessica untuk masuk ke mobil gue lebih dulu.
"Tuan, kenapa anda berkata seperti itu?" tanya Jordan.
"Seperti itu apa?" tanya gue balik.
"Kenapa anda berkata, bahwa anda meminjam Nona? itu tidak sesuai dengan rencana di awal, Tuan." jawabnya.
"Aku hanya ingin cepat pergi dari rumah ini." ucap gue.
"Oh ya, awasi keluarga ini. dan beritahu aku, jika ada yang mencurigakan." lanjut gue.
"Baik, Tuan." jawabnya.
"Kembali ke markas, sekarang!!" perintah gue.
"Baik, Tuan." jawab mereka lalu masuk ke dalam mobil mereka, begitupun gue.
__ADS_1
Tapi, gue tidak langsung menyalakan mobil. Gue menatap Jessica yang masih menyembunyikan wajahnya itu.
"Hey...kenapa dari tadi lu gak ada natap gue, sih? capek-capek gue kesini, buat bawa lu ke markas. Tapi lu gak ngehargai gue." potes gue.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut gadis itu. Karna kesal, gue sontak mengulurkan tangan dan memegang dagu gadis itu, lalu gue paksa menengok kearah gue.
Gue di buat terkejut dengan apa yang gue lihat. Wajah Jessica penuh dengan luka, dan parahnya itu ditutupi dengan riasan wajah.
"Siapa!?" tanya gue.
"Ini bukan apa-apa." ucapnya sambil melepas tangan gue.
Gue gak membiarkan dia untuk menunduk lagi, gue langsung memegang kedua pipinya dengan kedua tangan gue.
"Gue tanya sekali lagi, siapa yang ngelakuin ini!!?" geram gue.
"Gu-gue tadi jatuh." jawabnya dan yang pasti itu adalah kebohongan.
"Apa orang tua lu yang ngelakuin ini!?" tanya gue.
Saat mendengar pertanyaan gue, Jessica sontak terdiam dan mengalihkan pandangannya.
"Pantas saja tadi gue denger suara teriakan." gumam gue, dan sontak melepas wajah gue dari pipi Jessica.
Gue berniat, untuk keluar lagi dari mobil dan memberikan pelajaran kepada kedua pasangan gila itu.
Tapi saat gue ingin melangkah keluar mobil, Jessica sontak memegang lengan gue lalu berkata. "Jangan pergi..."
Gue yang mendengar itu, langsung menengok dan menatap gadis itu.
"Gue cuma mau ngasih pelajaran, doang. Bentar juga balik." ucap gue.
"Tapi—!"
"Gue mohon..." pintanya sambil menatap gue dengan mata sayunya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Jordan yang ternyata berdiri di depan pintu gue.
"Tidak ada." jawab gue setelah menengok ke Jordan.
"Oh ya, panggilkan Dokter. Suruh dia menunggu di kamar Nona kalian." lanjut gue.
"Baik, Tuan." jawabnya.
"Kembalilah!" perintah gue.
Jordan menjawab hanya dengan menunduk, lalu pergi. Gue pun langsung menutup pintu mobil gue kembali, lalu menyalakan mobil, dan sontak menginjak gas.
Selama di perjalanan kami berdua hanya diam saja, gue sesekali melirik Jessica untuk memastikan keadaannya saja.
Setelah sampai di markas, gue langsung menarik Jessica masuk ke dalam kamarnya, tanpa memperdulikan bawahan gue yang menunduk saat gue melewati mereka.
Saat sampai di kamar gadis itu, gue langsung memaksanya duduk di atas ranjang, lalu menatap wajahnya dengan teliti.
Tapi saat gue menatapnya, Jessica selalu saja menghindari tatapan gue.
"Jordan!!" panggil gue.
"Ada apa, Tuan?" sahutnya.
__ADS_1
"Dimana Dokter itu?" tanya gue.
"Dia sedang dalam perjalanan, Tuan." jawabnya.
"Suruh dia tunggu di luar sampai aku menyuruhnya masuk, dan tutup pintu itu. Jangan sampai ada yang masuk!!" perintah gue.
"Baik, Tuan." jawabnya.
"Kalau gue lagi natap lu, jangan buang muka dong. Apalagi sampai ngalahin pandangan lu ke yang lain, itu sama aja lu gak ngehargai gue." ucap gue.
Tapi Jessica, masih saja mengalihkan pandangannya, saat gue menatapnya. Karna kesal, gue sontak mencium bibir gadis itu dan **********.
Seperti biasanya, Jessica selalu ingin memukul atau mendorong gue saat sedang menciumnya. Tapi kali ini, gue gak membiarkan dia mumukul gue. Gue langsung mengunci kedua tangan gadis itu dengan satu tangan gue.
Jessica mulai memberontak dan menendang kaki gue.
*Gak bisa diam banget.* batin gue dan sontak mendorong gadis itu ke belakang, sampai Ia terbaring di ranjang.
Saat gadis itu terbaring. Ia seperti ingin berteriak, tapi tidak bisa karna gue yang masih ******* bibirnya. Tapi, saat gue menatap mata Jessica. Matanya membulat besar sedang menahan rasa sakit.
Karna khawatir, gue langsung berhenti ******* bibirnya.
"Kenapa? gue sakitin lu, ya?" tanya gue.
"Eng-engak." jawabnya berbohong.
"Hm..." dehem gue, lalu duduk di samping gadis itu. Begitu pun Jessica, Ia dengan cepat bangun dari posisi tidurnya, dan duduk di depan gue.
"Lu tipe orang yang gak bisa bohong." ucap gue.
"Hah!?" sahutnya bingung.
"Jujur sama gue! selain di muka lu, dimana lagi orang tua lu mukulu lu?" tanya gue.
Jessica hanya diam, sambil menundukkan kepalanya lalu menyentuh lengan kanannya.
*Disitu?* batin gue sambil menatap lengan kanannya.
Gue sontak mengulurkan tangan gue, dan meraih tangan kanan Jessica, lalu menarik keatas lengan baju Jessica.
"Apa ini!!?" sahut gue yang terkejut saat melihat lengan Jessica yang penuh dengan memar.
"Ini bukan apa-apa, nanti juga hilang." ucap Jessica sambil menarik tangan kembali.
"Buka baju lu!!" perintah gue.
"Hah!!?" sahutnya terkejut.
"Buka baju lu!!" perintah gue sekali lagi.
"Eng-engak mau!" tolaknya.
"Buka sendiri, atau gue yang bukain!?" ancam gue.
"Ta...tapi—!"
Gue sontak merobak pakai Jessica dengan kasar, sampai tubuhnya terlihat jelas.
Gue yang melihat tubuhnya, sontak terdiam sambil menatap tubunya dengan mata yang membulat besar.
__ADS_1
Bersambung