Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Menyelamatkan Jessica kesekian kalinya


__ADS_3

Gue pikir seseorang yang di maksud Dika itu hanya satu orang saja. Tapi, saat gue menengok ke luar jendela. Ternyata ada lebih dari satu orang, dan mereka semua membawa senjata.


Dika yang hanya sendiri dan hanya memakai Pistol saja, melawan para Pria yang memakai pistol dan senjata lainnya.


Awalnya, Dika bisa menghadapi mereka. Tapi...tiba-tiba saja ada terjatuh ke tanah, karna ditusuk dengan pisau di bagian pinggangnya.


Gue yang melihat itu, benar-benar terkejut sekaligus takut dengan para Pria itu. Tiba-tiba saja, salah satu dari Pria itu berjala kearah mobil dan ingin membuka pintu mobil itu.


Tapi, belum sempat Ia membukanya. Dika tiba-tiba berdiri dan menarik Pria itu kebelakang lalu menembaknya berkali-kali. Bukannya berhenti belawan karna sudah terluka. Tapi, Dika malah terus menembaki para Pria itu.


Gue yang di dalam mobil, gak tau harus berbuat apa. dan lagi...gak ada siapapun selain Dika yang gue kenal.


"Marcel! iya, Marcel!" gumam gue, dan langsung menelpon Marcel.


"Please... angkat...please..." gumam gue sambil menggigit kuku Ibu jari gue.


"Halo..."


Saat mendengar suara Marcel, ada rasa lega dalam diri gue walaupun itu hanya sedikit.


"*Halo...Marcel...tolong gue."


"Tolong apa? lu kenapa?"


"Gu-gue di taman."


"Taman!!? lu ketaman cuma sama Dika!!?"


"I-iya..."


"Tolong gue...ada banyak Pria yang sedang berantem dengan Dika. Tolong gue...gue takut..."


"Oke, oke! sekarang tenang dulu. Jangan matiin telponnya, gue bakal kesana sekarang."


"I-iya*."


MARCEL POV*


Saat tau Jessica di serang oleh para musuh, gue langsung turun dari ranjang dan berlari keluar kamar dengan cepat.


"Dimana Jordan?" tanya gue kepada bawahan gue yang sedang berjaga di depan pintu.

__ADS_1


"Tuan Jordan belum kembali, Tuan." jawabnya.


"Panggil yang lainnya, dan ikut dengan ku. Kita akan membunuh musuh lainnya." perintah gue.


"Baik, Tuan." jawab Mereka dan mulai bertindak.


Setelah semua bawahan gue berkumpul, gue pun langsung berlari dengan cepat menuju ke mobil. Saat sampai di mobil, bukannya duduk di kursi penumpang gue malah membuka pintu supir lalu berkata. "Keluar!!"


"Tapi, Tuan—"


"Cepat keluar!!* potong gue, dan Ia pun langsung keluar dari mobil.


Tanpa membuang waktu lagi, gue masuk ke dalam mobil dan mulai berkendara dengan cepat. Sangking cepatnya, para bawahan gue tertinggal cukup jauh di belakang gue.


Sambil berkendara, gue berusaha untuk mengambil kotak senjata yang ada di kursi belakang. Walaupun kelihata sulit, gue tetap berhasil mendapatkan kotak itu.


Gue langsung mengeluarkan senjata gue dari dalam kotak itu dan mengisi senjata itu dengan peluru yang bisa meledak jika ditembakkan.


Karna Senjata gue yang satu lagi ada sama Jordan. Jadi, gue hanya bisa memakai satu senjata saja. Tapi, gue sudah menyimpan peluru lainnya di dalam saku jas gue.


"*Halo...lu masih disana kan?"


"I-iya...tolong cepat! Dika sudah terluka parah karna harus menjaga gue tetap aman di mobil."


"O-oke, satu...du-dua...tiga*..."


Selama gadis itu berhitung, gue sudah bisa melihat ada keributan di taman. Gue langsung menaikkan kecepatan gue lagi, dan bersiap untuk turun dari mobil.


Sebenarnya ide gue ini memang cukup gila, tapi cuma ini jalan yang bisa gue pakai. Gue harus menabrak orang-orang itu dengan mobil gue, sedangkan gue? gue harus melompat keluar dari mobil dan membunuh Pria yang lainnya.


"*Jessica!!"


"Ke-kenapa?"


"Tutup matanya, dan duduk di bawa. Jangan lupa untuk menundukkan kepala mu, dan juga jangan berhenti menghitung."


"O-oke*."


"Satu...Dua...Tiga!!" ucap gue dan langsung melompat keluar dari mobil, dan membiarkan mobil itu menabrak para Pria itu dengan sendirinya.


Tidak berhenti sampai situ, gue yang masih terkapar di tanah, langsung menembaki para Pria itu dengan tangan kiri gue.

__ADS_1


Para bawahan gue pun akhirya datang, dan mulai membantai para Pria itu sekaligus menolong Dika yang tergeletak di tanah.


Saat gue mencoba untuk bangun dari posisi gue, tiba-tiba gue merasakan sakit di lengan kanan gue, tepatnya di bagian luka gue.


Gue hanya bisa meringis pelan, dan menahan rasa sakit itu agar gue bisa berdiri. Setelah gue berhasil berdiri, gue pun melangkah menuju ke mobil yang di dalamnya ada seorang gadis alias Si Jessica.


"Buka mata lu, dan buka pintu mobilnya."


Saat mendengar suara gue, Jessica sontak menengok dan menatap gue. Lalu membuka pintu mobilnya dengan cepat. Gue pun masuk ke dalam mobil itu, dan berusaha untuk menyembunyikan rasa sakit yang gue rasakan dari Jessica.


"Lu gak nangis, kan?" canda gue untuk mencairkan suasana dan berharap bisa menghilangkan rasa takut Jessica walaupun hanya sedikit.


"Gak lah!! mana mungkin gue nangis, lu pikira gue bocah!?" elaknya.


"Cewek kan lemah, taunya nangisss mulu." ucap gue.


"Ih!! sok tau lu!" rajuknya.


"Yaudah lah, kita kembali ke Hotel sekarang." sambung gue, lalu memanggil salah satu bawahan gue.


"Ada apa, Tuan?" tanyanya.


"2 orang bawa Dika ke rumah sakit, 2 orang ikut dengan ku ke Hotel, dan sisahnya selesaikan masalah ini. Jangan lupa untuk membawa mobil itu ke bengkel, dan juga jangan lupa untuk menghubungi supir ku." jelas gue.


"Baik, Tuan. Mohon tunggu sebentar, saya akan memanggil 2 orang untuk mengantar anda pulang." jawabnya, lalu pergi dan mulai berbincang dengan yang lainnya.


Setelah menunggu, dua orang bawahan gue pun datang lalu masuk ke mobil dan duduk di kursi depan. dan mulai berkendara menuju Hotel.


Selama di perjalanan, gue hanya diam karna menahan sakit. Mau meringis kesakitan, tapi takut Jessica bakal tau kalau gue terluka.


"Percepatan mobilnya!" perintah gue.


"Baik, Tuan." jawabnya dan mulai mempercepat mobilnya.


*Gue bakal kena omel lagi sama tuh Dokter, ditambah lagi Si Jordan. Pasti dia bakal mementingkan gue dari pada Perintah gue gue kasih ke dia.* batin gue.


Saat sampai di hotel, Gue langsung melangkah masuk ke dalam hotel menuju ke kamar gue dengan tergesa-gesa. Gue sengaja tinggalin Jessica jauh di belakang gue, agar dia gak ikut masuk ke kamar gue.


Setelah sampai di kamar, gue megunci pintu kamar gue lalu menelpon Dokter untuk datang ke Hotel dengan cepat.


Gue tau kalau luka gue tambah parah. Tapi, gue berusah untuk tetap tenang dan membuka pakaian atas gue. Saat berhasil melepas kemeja itu, gue bisa melihat dengan jelas perban yang seharusnya berwarna putih hampir berubah menjadi warna merah seutuhnya.

__ADS_1


Entah sebanyak apa darah yang keluar, tapi rasanya memsang sangat sakit sampai membuat gue tidak bisa menggerakkan tangan kanan gue lagi.


Bersambung


__ADS_2