Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Gadis itu Tau siapa Gue


__ADS_3

  "Lu bilang apa?" tanya Gue sambil menjauh dari gadis itu.


  "Lu tuli? deket gini masih aja gak denger." protesnya.


  "Kok lu marah-marah, sih? emang gue salah gitu? gue kan cuma nanya doang." balas gue.


  "Muka lu gak asing bego, kayaknya gue pernah liat lu. Tapi dimana ya..." ucapnya dan sontak berfikir.


  Tiba-tiba saja, ada yang mengetuk pintu gue. Gue pun menyauti ketukan pintu itu.


  "Masuk." sahut gue.


  "Ada apa?" tanya Gue ke Jordan saat Ia melangkah masuk keruangan gue.


  "Putri dari pria itu, sudah disini, Tuan." jawab Jordan.


  "Tuan?!!" teriak Jessica.


  Gue sontak menatapnya, dan berkata. "Lu punya hobi teriak-teriak, ya? Ribut banget, sumpah!!"


  "Gue baru ingat, lu kan si kutu buku buruk rupa itu. Yang tadi pagi di bully sama Bryan, kan?" ucapnya.


  Gue dan Jordan yang mendengar itu, sangat terkejut. Jordan tiba-tiba mengeluarkan pistolnya, dan menodongkannya ke gadis itu.


  "Benar kata saya, Tuan. Dia pasti mengenali anda." sahut Jordan.


  "Lu ngapain nodongin gue pistol? pistol mainan gitu, mau ngancam gue? gila lu?!"


  "Pistol mainan? Hahaha...lu pikir tempat ini taman bermain apa?" sambung gue.


  "Lebih tepatnya sih, rumah sakit jiwa." jawab gadis itu.


  "Lemparkan senjata mu, Jordan!!" perintah Gue sambil mengangkat rendah tangan gue.


  Jordan langsung melemparkan senjatanya ke gue, dan gue langsung menangkap sambil menatap gadis itu dengan senyum miring.


  "Ini lu bilang pistol mainan, kan?" tanya Gue yang sudah bersiap untuk menembakkan senjata itu ke kepala gadis itu.


  "Ya iya lah, gue udah pernah liat pistol kayak gi—"


  Gue gak membiarkan ucapan gadis itu selesai, Gue sontak menempak ke belakang gadis itu.


  Gue bisa melihat dengan jelas, ekspresi yang terkejut dan tubuh yang tiba-tiba gemetaran dengan hebatnya.


  "Kenapa diam aja? bukannya lu preman sekolah ya? Sang ratu sekolah, masa takut sama pistol mainan gini?" ucap Gue sambil menyeringai.


  Gue sontak melemparkan kembali pistol itu ke Jordan, lalu berkata. "Bawa gadis itu kesini, dan juga panggil Dika dan Mark."


  Mark sama seperti Dika, tapi jabatan Mark lebih tinggi dari Dika. Mark adalah bawahan terakhir yang mengambil sumpah dengan gue.


  "Tapi, Tuan. Mark sedang di luar kota, apa anda lupa tentang itu, Tuan?"

__ADS_1


  "Hah...aku lupa. Kalau begitu, panggilkan Dika saja."


  "Baik, Tuan." ucap pria itu sambil menunduk, dan keluar dari kamar gue.


  Gue kembali menengok ke Jessica, tapi ekspresinya masih sama saja, dan itu membuat gue sangat bosan.


  "Hey! apa lu mau denger satu cerita?" tanya gue sambil duduk di sampingnya.


  "Ada seorang gadis yang tiba-tiba mengetahui identitas pemimpin Mafia, yang sampai sekarang tidak seorang pun tau tentang identitas asli pria itu." ucap gue.


  "Karna pemimpin mafia itu harus menjaga rahasianya. Jadi, gadis itu..."  sambung gue.


  Gue sontak mendekatkan wajah gue ke telinga gadis itu, dan berbisik. "Harus mati..."


  "Bagus kan ceritanya? gue juga jadi penasaran, cara apa yang bagus untuk membunuh gadis itu. Yakan?" sahut Gue sambil tersenyum lebar.


  Jessica tiba-tiba menengok ke arah gue, dan menatap gue dengan mata yang berkaca-kaca dan tubuh yang masih bergetar hebat.


  "To-tolong...lepasin gue..." lirihnya.


  "Gu-gue bakal ngelekauin apapun, buat lu. Jadi, tolong...lepasin gue." lanjutnya yang tiba-tiba tertunduk.


  "Lu nangis? serius? Hahaha...gila!! sang ratu sekolah, nangis? Wah...hebat banget!!" sahut gue yang sangat puas dengan gadis itu.


  "Lu yang disekolah, sangat berkuasa. Di takuti, karna Bryan suka sama lu, dan lagi...lu cantik, kan?"


  "Gimana kalau...wajah lu itu gue buat datar? kayaknya seru, tuh."


  "Hah...membosankan. Gue kan mau liat lu yang ngelawan Bryan kayak tadi pagi, masa lu gak berniat lari? Atau cari senjata, terus nembak gue?"


  "Gue kasih tau nih, tuh di meja ada senjata. Itu senjata yang cukup berbahaya, sih. Tapi gue yakin, gue pasti mati kalau di tembak berkali-kali."


  "Tapi, lu pasti juga mati di tangan bawahan gue." bisik gue.


  Tok tok tok


  "Masuk." sahut gue.


  "Apa anda memanggil saya, Tuan?" tanya Dika.


  "Ya, mendekat lah." jawab gue.


  Dika pun langsung melangkah menghampiri gue, dan berdiri tepat di hadapan gue.


  "Aku ingin bertama, cara apa yang paling kamu senangi, jika ingin membunuh seorang gadis?" tanya gue.


  "Apa saya harus mengatakannya di depan tamu anda?" tanya Dika yang sedang menunduk.


  "Tamu? dia? hahaha...dia bukan tamu ku." jawab gue sambil merangkul Jessica.


  "Cepat katakan, Dika." sahut gue.

__ADS_1


  "Saya lebih menyukai, menusuk bagian vitalnya sampai menembus mulutnya dengan pedang saya, Tuan." jawabnya.


  Saat mendengar itu, Jessica benar-benar sangat ketakutan. Gue sampai bisa merasakan getaran tubuhnya, dan juga air mata yang menetes di atas pahanya.


  "Wah...kamu benar-benar kejam, gadis ini sampai ketakutan karna mu." ucap gue.


  "Maafkan saya, Tuan." jawabnya.


  "Baiklah, kamu boleh kembali." sambung gue.


  "Baik, Tuan." balasnya dan langsung berbalik, lalu melangkah keluar dari ruangan gue.


  "Sekarang pilih cara mati mu. Mau di tusuk, ditembak, atau mau di pakai oleh semua pria yang ada di markas ini." ucap gue setelah melepas rangkulan gue.


  "Ti-tidak, to-tolong ampuni gue. Gue masih ingin hidup, tolong ampuni gue..." lirihnya sambil menatap gue dengan mata yang merah karna menangis.


  "Oh ya? Lu masih mau hidup? tapi kenapa saat di sekolah, lu malah terlihat ingin di bunuh?" tanya gue.


  "Ada hal yang gak bisa gue ceritakan. Tapi tolong, maafi gue." jawabnya.


  "Hah...membosankan." ucap gue.


  "Aku punya ide bangus." sahut gue.


  "Gimana kalau lu jaga rahasia gue, gue bakal ngejaga lu dimanapun lu berada. Tapi, kalau rahasia gue sampai terbongkar. Lu—bukan maksud gue keluarga lu bakal mati." jelas gue.


  "Kenapa harus keluarga gue?"


  "Suka-suka gue lah, ini kan ide gue. Lu mau protes?"


  "Ti-tidak."


  "Nah gitu dong."


  "Jadi, kalau di sekolah anggap gue murid cupu yang seperti biasa. Tanpa membandingkan gue sama diri gue yang sekarang." ucap gue.


  "Lu bakal ikut gue kerja, setiap malam dimanapun gue lu harus ikut gue. Gue bakal jemput lu di suatu tempat, nanti gue yang nentuin tempatnya." lanjut gue.


  "Hm...dan satu lagi, karna kita bakal terus barengan. Diantara kita gak boleh ada kata suka, apalagi cinta!! Kalau lu ngelanggar itu, lu bakal mati!!" ancam gue.


  "Ke-kenapa cuma gue? bukannya lu juga gak boleh suka sama gue?" tanyanya.


  "Gue gak mungkin suka sama lu, cewek gak berbentuk gini. Gak layak buat gue." jawab gue sambil menatap tubuhnya.


  "Ba-baik." balasnya.


  "Kalau begitu, bersihkan diri lu di kamar mandi. Nanti bakal ada yang mengantar baju ke ruangan ini." sambung gue dan sontak berdiri.


  "Lu mau kemana?" tanyanya.


  "Bukan urusan lu." jawab gue dan langsung melangkah keluar dari ruangan gue.

__ADS_1


  Bersambung


__ADS_2