
Sudah berjam-jam kami menatap layar monitor, tak sekalipun diantara kami pergi dari tempat itu. Makan siang pun di sajikan di ruang pertemuan. Vernon yang seharusnya menghandle kastil ini, Ia malah menyerahkan pekerjaannya kepada para pelayan senior.
Kami tidak sekalipun melewatkan setiap detik dari kerjadian itu, sampai pada mayat palsu ku di antarkan kerumah.
Tentu saja sebelum mayatnitu di antarkan, kedua orang tua ku masih tidak percaya dengan apa yang telah menimpah Putra bungsunya. Ibu ku yang berkali-kali tidak sadarkan diri, membuat para perawat dan Papa ku kewalahan.
Bukan hanya itu, Rizky yang lebih dulu melihat mayat palsu itu. Ia sampai berkali-kali mengecek tubuh mayat itu, dan selalu membentak para perawat dan Dokter karna mereka mengatakan bahwa adiknya telah tewas sebelum Ia sampai di lokasi kejadian.
Rizky berkali-kali berteriak. "Tidak!! itu bukan adikku! adikku masih hidup!! dia sekarang berada di kampus ku!!"
Aku tau Rizky sangat terpukul dan tidak percaya akan apa yang telah menimpah ku, tapi sampai sekarang Ia tidak sekalipun meneteskan air mata. Setiap kali Ibu ku menangis dan berteriak memanggil nama ku, Rizky selalu berkata. "Dia bukan Reyhan, Bu! Reyhan masih hidup! itu bukan Reyhan, untuk apa Ibu menangisi mayat orang lain!?"
Tapi pada akhirnya, mayat palsu itu pun di bawah kembali kerumah. dan Rizky masih terlihat tidak rela dengan pilihan Papa untuk membawa kembali mayat itu.
Setelah setengah jam mereka kembali kerumah, ku pun memutuskan untuk langsung menemui mereka dan di temani kelima orang itu, termaksud Hendra yang akan menyusul nantinya.
Selama di perjalanan, Jordan hanya mendapatkan kabar dari beberapa bawahan yang selalu berjaga di sekitar rumah itu.
"Kerabat anda sudah mulai berdatangan, Tuan. Bukan hanya itu, beberapa pengawal kantor milik orang tua anda pun datang setelah mengetahui kabar ini." ucap Jordan.
"Apa pemakannya akan di lakukan hari ini?" tanya ku.
__ADS_1
"Sepertinya tidak, Tuan. Saudara anda masih tidak menerima kematian anda, Ia masih tidak percaya dengan kematian anda."
"Haah...sudah kuduga." gumam ku.
"Hubungi Hendra, perintahkan dia untuk membuat surat pernyataan bahwa mayat itu asli mayat ku. Kalau bisa, ambil stempel darah ku, dan cocokkan dengan stempel dari kedua orang tua ku."
"Bagaimanapun caranya, Rizky harus memercayai bahwa itu mayat ku dan pastikan mayat itu di makamkan hari ini. Jika tidak, kalian yang akan mendapat hukumannya!!"
"Ba-baik, Tuan." jawab Jordan.
Tiba-tiba saja ponsel ku berdering, tanpa basa-basi aku pun langsung mengangkat telpon itu tanpa melihat siapa sang penelepon itu.
"*Ada apa?"
"Aku baik-baik saja, ada apa? bukannya kamu sedang sibuk sekarang?"
"Tadi aku mendapat telpon dari salah satu temen sekelas ku, dia bilang kalau kamu mati karna terkena bom bunuh diri."
"Oh...aku memang mati, tapi itu hanya Reyhan, bukan Marcel."
"Apa maksud mu!!? sekarang kamu dimana!? cepat jawab!!"
__ADS_1
"Jangan berteriak, aku sedang di jalan. Aku akan memberitahukan mu nanti, jadi... nikmati pesta mu*."
Sebelum dia sempat mengatakan sepatah katapun, aku langsung mematikan telpon itu dan memasukkan ponsel ku kembali ke dalam saku jas.
"Apa Nona belum mengetahuinya, Tuan?" sahut Nella.
"Belum, bukannya dia selalu bersama mu beberapa bulan ini? aku sampai tidak pernah tidur dengannya karna Ia yang terlalu sibuk belajar setiap malamnya."
"Bukannya anda yang menyuruh saya untuk mengajarkan segala hal kepadanya dalam waktu yang sangat singkat? 3 bulan ini termaksud waktu yang sangat-sangat singkat, Nyonya Anggara saja memakan waktu selama 6 bulan untuk memahami segalanya."
"Sedangkan Nona Carmelia? Ia harus membagi waktu untuk mempelajari dunia Mafia dan dunia yang Ia jalani sebelumnya. Mempelajari 2 hal yang berbeda dalam waktu yang bersamaan itu cukup sulit, Tuan."
Mendengarnya mengoceh dan membela Jessica, gue sontak menengok kearahnya dan berkata. "Kenapa kamu malah membelanya? kamu seharusnya berada di pihak ku, Nella! kamu sama saja Ibu yang selalu membela ayah ku!"
"Nyonya Anggara tidak membela Tuan Anggara, Ia hanya ingin anda tumbuh dengan baik." ucapnya yang menatap gue dengan sangat santai.
"Haah...kamu dan Ibu selalu saja berkata seperti itu, padahal Ayah diam-diam mengajari ku hal-hal yang sangat Ibu benci. Tapi selalu aku yang dimarahi olehnya, sedangkan Ayah? Ia selalu bersembunyi di belakang ku." protes gue.
Nella adalah wanita yang sangat dekat dengan Nyonya Anggara alias Ibu angkat ku, dan Nella selalu tau apa saja masalah ku mulai dari aku pindah ke kastil sampai Ibu meninggal.
Maka dari itu aku sangat dekat dengan Nella, dan hanya kepadanya aku bisa menunjukkan sifat kekanak-kanakan ku yang selama ini ku sembunyikan.
__ADS_1
BERSAMBUNG