Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Jessica Memanggil


__ADS_3

"Kenapa kalian berteriak!? Telinga ku rasanya hampir meledak karna suara kalian bertiga!" Kesal gue yang menatap mereka bergantian.


"Maaf atas ketidaksopanan kami, tapi ucapan anda itu membuat kami sangat terkejut." ucap Jordan.


"Benar, padahal baru berapa menit yang lalu kita membicarakan masalah anda yang tidak pernah menginjakkan kaki ke kastil lagi. Tapi tiba-tiba anda berkata bahwa sore ini akan pindah ke markas." sambung Andre.


"Lalu tempat mana lagi yang cocok untuk menyambut pemimpin Mafia Korea? Markas tempatnya kita berkumpul dan lagi, Markas ini tempat rahasia kita. Mana mungkin aku mengajak orang asing masuk ke dalam markas, dan lagi. Akan lebih baik kalau aku berkunjung ke kastil walaupun hanya semalam saja." jelas gue.


Ketiga Pria itu sontak saling menatap satu sama lain, dengan memasang raut wajah yang kurang yakin dengan perkataan gue.


"Aku serius, kita akan kembali ke kas—"


Tok tok tok


"Oh shit! Siapa lagi ini!?" kesal gue.


"Masuk!" sahut gue.


"Ada apa Dika?" tanya gue saat melihat Dika masuk ke dalam ruangan.


"Maaf mengganggu perbincangan kalian. Nona Carmelia mencari anda, Tuan." jawabnya sambil membungkuk.


"Baiklah, aku akan segera kesana." ucap gue lalu berdiri.


"Dengarkan aku baik-baik! Tepat pada pukul 5 sore nanti, kita akan langsung pergi ke Kastil bersama. Jangan lupa untuk memberitahu Vernon mengenai kedatangan ku, dan juga jangan lupa untuk menyiapkan penyambutan untuk pemimpin Mafia Korea." tegas gue, lalu melangkah pergi dari kursi gue.


Gue tiba-tiba berhenti lalu menengok kebelakang dan menatap ketiga Pria itu.


"Oh ya, jangan lupa untuk menyiapkan kamar ku dan juga kamar untuk Carmelia." ucap gue lalu kembali menatap ke depan dan berjalan keluar dari ruangan itu menuju keruangan gue.


Setelah sampai di depan pintu ruangan gue, gue langsung membuka pintu itu sambil berkata. "Ada masalah apa?"

__ADS_1


"Ketuk dulu, woi!!! Kenapa langsung masuk, sih!!?" teriaknya dan langsung membalikkan tubuhnya, yang hanya memakai pakaian dalam saja.


"Bukan salah gue, lah! Siapa suruh asal buka baju diruangan orang!" jawab gue sambil melangkah kearahnya.


"Habisnya pakaian dalam gue gak nyaman banget! Kayak belum di ganti dari kemarin! Padahal pakaian luarnya udah di ganti!" gerutunya.


*Ya masa gue ganti juga pakaian dalam lu, bisa-bisa gue terjang duluan lu!* batin gue.


Gue sontak memeluk Jessica dari belakang dan meletakkan dagu gue di atas pundaknya.


"Ngapain meluk-meluk, sih!? Gue belum pakai baju, kali!" ketusnya.


"Gak papa, yang penting gue pakai baju." jawab gue.


"Apa hubungannya sama lu? Gak jelas banget!" balasnya.


"Btw, kenapa lu ke markas? Lu gak sekolah? Tapi kok lu pakai seragam sekolah, sih?" tanyanya.


Jessica tiba-tiba melepaskan pelukan gue, dan berbalik menghadap ke gue.


"Sesuatu apa? Lu ada masalah lagi di sekolah?" tanyanya.


"Lu khawatir sama gue?" sahut gue.


"Eng-engak tuh! Sok tau lu!" elaknya dengan wajah yang merona.


*Cantik.* batin gue sambil tersenyum kecil kepadanya.


"Gue boleh cium?" izin gue.


"Hm..." dehemnya lalu mengangguk pelan.

__ADS_1


Gue langsung menggendongnya dan naik ke atas ranjang, membaringkannya tepat di bawah gue.


"Sebelum itu, gue peringatin! Jangan pernah gerak atau memberontak, gue takut lu malah menyentuh bagian sensitif gue." tegas gue.


"Buat apa juga gue memberontak? Lu kan cuma mau—"


Sebelum dia menyelesaikan ucapannya, gue langsung mencium bibirnya dan mel*matnya.


Gue mengambil kedua tangan Jessica dan mengalungkannya di leher gue. Posisi yang sama dengan Bryan yang berada di atas Jessica semalam.


Mengingat kejadian semalam, gue malah menggigit bibir Jessica dan itu membuatnya sontak mendorong gue dengan kuat.


"Kenapa lu gigit gue, sih!? Sakit tau!!" kesalnya.


Gue tidak memperdulikannya, gue langsung mendekatkan wajah gue ke lehernya, lalu menjilati lehernya dan juga telinganya.


"Lu cuma milik gue dan akan terus menjadi milik gue." bisik gue di telinganya dan langsung melanjutkan permainan gue sampai membuat bekas di beberapa bagian tubuh Jessica.


Tentu saja Jessica memberontak dan berusaha untuk melepaskan dirinya dari gue, tapi sialnya. Dia malah mengangkat pinggulnya dan membuat bagian intimnya menyentuh daerah sensitif gue.


Gue sontak berhenti dan menengakkan tubuh gue, lalu menatap Jessica dan atas sampai bawah.


"Lu kenapa, sih!? Lu mabuk atau apa!?" sahutnya.


Tanpa sadar, gue malah menyodorkan tangan gue ke daerah intimnya dan menusukkannya secara perlahan. Dan sontak membuat Jessica mendesah.


"Gue mau lu, apa gue boleh bermain disini?" izin gue sambil mengelus bagian intimnya yang masih tertutupi dengan ****** ********.


Jessica tiba-tiba bangun dari posisinya dan sontak menampar gue dengan sangat keras.


"Lu kenapa, sih!!? Lu gila, hah!!?" geramnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2