Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Gue berhenti Membunuh!?


__ADS_3

Saat tau siapa yang menerobos masuk, aku dan Andre langsung meletakkan gelas yang kita pegang ke atas meja secara bersamaan.


"Ada masalah apa?" tanya gue


"Nona sudah sadar, Tuan." jawab Vernon.


"Secepat ini?! padahal kita baru memulai pestanya." sahut Andre.


"Aku akan kesana sekarang." ucap gue sambil berdiri.


"Apa anda tidak memakai pakaian anda dulu, Tuan?" sambung Vernon.


"Tidak, begini saja sudah cukup." jawab gue santai sambil melangkah kearahnya.


"Oh ya, kalian boleh beristirahat. Perintahkan saja beberapa orang untuk menjaga di depan kamar Carmelia." lanjut gue.


"Baik, Tuan." jawab Vernon.


Gue pun melangkah keluar dari kamar itu dan berjalan sendiri menuju kamar Jessica.


Saat sampai di kamarnya, gue bisa melihat Jessica yang sedang terbaring di atas ranjang dengan posisi membelakangi gue.


Tanpa memanggil dan menyapanya, gue langsung naik ke atas ranjang dan berbaring tepat di sampingnya lalu memeluknya dari belakang.


"Dari mana aja?" tanyanya.


"Dari tempat Bryan." jawab gue santai.


Setelah gue menyebut nama Bryan, gadis itu tiba-tiba berbalik dan menatap gue dengan mata yang membulat besar.


"Buat apa lu ke rumah Bryan? Gue kan udah bilang, gak usah berurusan sama dia!" kesalnya.


"Gue kerumahnya ya buat menyelesaikan urusan gue sama dia, lagian yang gue lakuin juga buat lu." jawab gue.


"Tapi yang lu lakuin itu gila, Cel!! Buat apa lu ngebunuh bokap Bryan!!? Lu tau kan dia siapa!?" geramnya.


"Dari mana lu tau itu?" tanya gue.


"Pengumumannya udah tersebar di forum sekolah, dan di berita juga udah ada, Cel!!" jawabnya.


*Secepat itu? Wajar saja, dia kan Ketua Menteri Negara.* batin gue.


"Kenapa lu diam aja!? Itu benar ulah lu kan? Walaupun di berita gak diberitahu siapa yang ngebunuh, tapi itu lu kan!!?" sahutnya.

__ADS_1


"Kalau itu gue kenapa? Lu gak suka gue ngebunuh orang?" tanya gue santai.


"Gak!! Gue gak suka!!!" jawabnya cepat.


Mendengar jawabannya gue sontak terdiam sebentar sambil menatap matanya yang penuh dengan amarah.


Gue langsung melepas pelukan gue dan berkata. "Kenapa sebelumnya lu bilang suka sama gue yang seorang pembunuh ini?"


"Apa lu suka gue karna uang atau wajah gue? kalau lu bener-bener cuma mau uang gue, gue bisa bayar lu sekarang. Berapapun yang lu mau gue bisa ka—"


Tiba-tiba ucapan gue di potong olehnya, Jessica sontak menutup mulut gue dengan tangannya.


"Kenapa lu malah ngungkit hal itu? Gue beneran suka sama lu, tapi gue gak suka kalau lu ngebunuh orang. Memang apa salah orang itu? Kenapa lu harus ngebunuh mereka?"


"Gue cuma mau, lu berhenti ngebunuh orang. Hanya itu~ gue gak mau lu dapat masalah gara-gara terus-menerus ngebunuh orang."


Gue langsung memegang tangan Jessica dan menjauhkan tangannya dari mulut gue.


"Maaf, gue gak bisa berhenti ngelakuin pekerjaan gue. Kalau gue gak ngebunuh, gue yang bakal di bunuh. Dan lagi, gue ngebunuh mereka karna mereka yang udah berani nyentuh lu."


"Kalau lu gak nerima sisi gelap gue, gue gak bakal maksa lu buat suka lagi sama gue. Tapi, kenyataan bahwa lu bakal menjadi pemimpin Wanita gak bisa di pungkiri lagi dan lu gak bisa menghindar dari kenyataan itu."


Setelah ucapan gue itu, Jessica hanya diam dan tiba-tiba mengalihkan pandangannya lalu berbalik membelakangi gue lagi.


Melihat tingkahnya itu, gue hanya bisa menghela nafas dan memeluknya kembali dengan erat.


Jessica hanya diam, Ia tidak mengatakan sepatah katapun. Entah bagaimana ekspresi dan perasaannya sekarang, tapi gue benar-benar tidak bisa menuruti perkataannya itu.


Memang cukup aneh jika Seorang pemimpin Mafia berhenti membunuh orang-orang, dan seperti perkataan gue.


Jika bukan gue yang membunuh, gue yang bakal di bunuh oleh mereka. Dunia ini memang kelihatan tenang, tapi orang-orang didalamnya sangat kejam dan tamak.


"Apa besok gue boleh gak ke markas?" sahut Jessica yang mulai tadi hnaya diam.


"Kenapa? Lu sakit?" tanya gue.


"Gak, gue cuma mau dirumah aja." jawabnya.


"Hm...tapi—"


"Sekali ini aja, please~" mohonya sambil berbalik menghadap gue.


"Yaudah, kalau ada apa-apa langsung telpon gue. Terus, nanti gue suruh Jordan buat ngasih ATM gue buat lu. Kalau mau beli sesuatu pakai ATM itu aja." ucap gue.

__ADS_1


"Oke, makasih~" jawabnya sambil tersenyum manis.


*Aneh...apa ada yang dia sembunyikan?* batin gue.


"Oh ya, apa malam ini kita bisa tidur berdua lagi?" tanyanya.


"Kenapa? Apa lu gak nyaman tidur sendiri?"


"Gue gak terbiasa sama tempat ini, dan lagi kamar ini terlalu besar, untuk tidur sendiri."


"Biasakan dirimu, awalnya pasti gak nyaman. Kalau udah lama tinggal disini, lu juga bakal nyaman dan terbiasa."


"Memang ini tempat apa? Kenapa ada di tengah hutan? dan lagi, kenapa lebih banyak orang disini dari pada di markas?"


"Tempat tinggal asli ku."


"Tempat tinggal asli?" ucapnya sambil menatap gue dengan raut wajah yang bingung.


"Nanti kamu juga akan tau. Sekarang kita tidur saja, aku akan menemani mu disini."


Jessica hanya mengangguk dan sontak memeluk gue dengan erat dan menempelkan kepalanya di dada gue.


"Gue takut...gue kira, gue bakal mati. Karna gak ada lu di samping gue, banyak orang yang membawa senjata di depan gue dan gue di ikat di kursi." ocehnya.


"Maaf, ini salah gue. Seharusnya keamanan lu lebih diperketat. Tapi, setidaknya lu bisa sedikit pintar, Jes."


"Gue dan yang lainnya tidak selamanya bisa ngejaga lu. Musuh bukan hanya ada di Negara ini aja, dari seluruh penjuru Dunia ini akan ada orang yang berniat ngebunuh gue dan orang di sekitar gue. Dan gue mau, lu belajar ngejaga diri lu sendiri."


"Gue gak berharap buat lu ngejaga gue atau yang lainnya, gue cuma mau lu bisa ngejaga diri lu dan bisa menyelamatkan diri lu sendiri dari bahaya."


Setelah gue berkata seperti itu, Jessica sontak mengangkat kepalanya dan menatap gue.


"Ajari gue caranya menyelamatkan diri dari para musuh." ucapnya dengan raut wajah yang serius.


"Akan ada orang yang mengajari lu cara menggunakan senjata yang baik, bela diri, dan mendidik mu dengan pelatihan untuk menjadi pemimpin wanita. Tapi...sebelum itu, lu harus belajar mengatur perasaan lu sendiri." jelas gue.


"Maksudnya?" tanyanya.


Gue pun menjelaskan lebih detail mengenai hal yang gue jelaskan sebelumnya. Jessica hanya mendengarkan gue sambil menatap dan masih memeluk gue.


Setelah penjelasan yang cukup panjang itu, gue dan Jessica memutuskan untuk beristirahat sebentar.


Tapi, baru beberapa menit gue memejamkan mata. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Carmelia.

__ADS_1


Awalnya ketukan itu terdegar seperti ketukan Jordan tapi tiba-tiba berubah, seperti ada lebih dari 2 orang yang mengetuk pintu itu.


Bersambung


__ADS_2