
Marcel terdiam, Ia benar-benar tak menyangka akan terjadi seperti ini di kehidupannya. Dan tak terasa, air matanya mulai menetes, Ia menangis dengan posisi terduduk di bawah lantai dan tangan yang di genggaman di atas pahanya.
Dokter itu menyadari apa yang sedang terjadi di bawah sana, Ia pun turun dan berjongkok tepat di hadapan Marcel. "Tuan, pilihan ini memang sulit untuk anda. Tapi kami harus menyelamatkan satu di antara kedua orang itu, kami tidak ingin mengambil resiko besar dan malah akan membahayakan kedua nyawa orang itu. Jadi, Tuan. Tolong pikiran baik-baik pilihan anda."
Marcel menangis tersedu-sedu, Ia tak sanggup untuk memilih diantara kedua orang itu. Ia ingin kedua orang yang Ia cintai itu selamat, tanpa harus merelakan satu nyawa pun.
"Tidak, mereka harus tetap hidup. Kami harus berkumpul bersama dan minum teh di sore hri seperti keinginan Carmelia, kami harus hidup bersama, kami hrus hidup bersama, ka-kami harus... hidup... hiks hiks hiks..." Marcel tak kuasa melanjutkan perkataannya.
Marcel tiba-tiba menatap dokter itu. "Hiks... hiks... tolong... tolong selamatkan mereka... aku mohon kepada mu... tolong selamatkan nyawa mereka berdua, aku mohon..."
Air mata yang sangat deras itu tak henti-hentinya membasahi pipi Marcel, sang dokter yang melihat itupun tak kuasa untuk mengatakan sepatah katapun lagi.
__ADS_1
"Tolong... aku mohon... aku akan memberikan segalanya, aku berjanji. Tapi tolong, selamatkan mereka berdua..." Marcel tak hentinya memohon kepada Dokter itu, Ia bahkan sampai ingin berlutut di kaki Dokter itu. Tapi, Wanita itu menghentikannya dengan cara menahan Marcel lalu berkata. "Tuan, anda adalah seorang pemimpin. Jangan melukai harga diri anda dngan berlutut di kaki saya."
"Tidak! aku bukan seorang pemimpin, aku hnya seorang suami dan calon ayah yang mengharapkan istri dan anaknya selamat. Aku akan berlutut jika kau mau, aku akan mencium kaki mu jika kau berjanji akan menyelamatkan mereka."
"Jadi tolong... tolong berusaha lah untuk menyelamatkan mereka berdua. Bagaimana pun hasilnya, aku akan menerimanya. Aku berjanji atas nama keluarga Anggara!"
"Haah... baiklah, Tuan. Saya akan berusaha untuk menyelamatkan Nyonya dan bayi anda, dan bagaimana pun hasilnya nanti. Tolong terima dengan lapang dada dan jangan pernah menyesal akan apa yang telah di takdirkan," ucap Sang dokter sambil memegang pundak kanan Marcel.
Dokter itu pun membantu Marcel untuk berdiri lalu kembali masuk ke dalam ruang operasi dengan harapan Tuhan bisa membantu mereka untuk menyelamatkan nyawa Ibu dan calon bayinya.
Tapi, baru beberapa menit dokter itu masuk. Tiba-tiba Ia keluar lagi, dan memanggil nama Marcel. Marcel yang mendengar namanya di panggil, Ia langsung menghampiri dokter itu dan bertanya. "Ada apa? apa ada masalah?"
__ADS_1
"Saya lupa memberitahu anda, di lengan kiri Nyonya Carmelia terdapat luka goresan yang tertulis nama Bryan. Apa anda mengenal Pria bernama Bryan itu?"
Mendengar nama itu, Marcel terdiam dan mematung. Nama yang sudah sangat lama tidak pernah Ia dengar, dan pria yang sudah sangat lama tak Ia jumpai. Tapi sekarang, tiba-tiba nama itu muncul disaat ada kejadian besar seperti ini.
"Tuan?" tegur Sang dokter.
"Lupakan nama itu, dan lanjutkan pekerjaan mu saja," ucap Marcel.
"Baik, Tuan." Dokter itu pun kembali masuk kedalam ruang operasi itu.
*Bryan? jangan bilang dia dibalik penyerangan ini? tapi kenapa? untuk balas dendam?* batin Marcel.
__ADS_1
BERSAMBUNG