
JESSICA POV*
Gue yang sedang sibuk membersihkan rumah, tiba-tiba kedatangan seorang tamu yang tak terduga. Ya...dia adalah Jordan, yang datang seorang diri tanpa Tuannya atau pun rekan kerjanya yang lain.
Tanpa meninggalkan pekerjaan gue, gue bertanya kepada Jordan. "Ada apa? ini masih pagi, belum saatnya kamu menjemput ku."
"Tuan yang menyuruh saya, Ia ingin menemui anda sekarang." jawabnya.
Mendengar itu, gue langsung menghentikan aktivitas gue lalu berbalik menatap Jordan.
"Baiklah, biarkan aku bersiap dulu. Dan temui aku di mobil." ucap gue.
"Lalu, orang tua anda? apa saya tidak perlu berbicara kepada mereka?" tanyanya.
"Tidak perlu, mereka sedang pergi. Hanya ada aku dirumah ini." jawab gue.
"Baiklah, kalau begitu saya akan menunggu anda di mobil. Permisi." balasnya, lalu menunduk sekilas dan melangkah pergi dari hadapan gue.
Gue pun berbalik, dan melangkah pergi ke kamar gue untuk bersiap-siap. Walaupun masih banyak pekerjaan yang harus gue selesaikan, tapi panggilan Marcel lebih penting dari pekerjaan ini.
__ADS_1
Setelah beberapa menit berlalu, gue pun keluar dari kamar dan menemui Jordan di mobil yang ada di halaman rumah gue.
"Apa tidak ada yang ketinggalan, Nona?" sahut Jordan saat gue duduk di kursi belakang.
"Tidak ada, semunya sudah ada di dalam tas." jawab gue.
"Baiklah, kita jalan sekarang." ucapnya, lalu menyalakan mobilnya dan mulai berkendara.
Awalnya diantara kami hanya ada suara mesin mobil dan kendaraan lain dari luar mobil, kami tidak sekalipun berbicara ataupun saling melirik satu sama lain. Tapi di saat sudah cukup lama perjalanan yang kami tempuh, Jordan sontak berkata. "Kita tidak akan ke Markas, kita akan kembali ke kastil."
"Hah!? kenapa kamu baru bilang sekarang?" tanya gue terkejut.
"Di kastil Tuan kedatangan Tamu dari kalangan atas, salah satunya adalah Presiden kita. Mereka akan tinggal selama dua hari di kastil. Dan saya berharap, Nona bersikaplah dengan baik. Jangan berdebat dengan Tuan, ataupun membuat kekacauan lainnya."
"Dan akan lebih baik anda tinggal lah di kamar anda, bukannya saya melarang anda keluar. Tapi keberadaan anda masih di rahasiakan kepada para petinggi, itu demi posisi Tuan dan juga keselamatan anda."
Mendengar itu, gue sedikit tersinggung dengan perkataan Jordan. Dia berkata, seolah-olah gue hanya sebuah beban bagi Marcel dan selalu membuat keributan.
"Baiklah, aku akan berdiam diri di kamar. Kamu tidak perlu khawatir." ucap gue.
__ADS_1
"Terimakasih atas pengertian anda." jawabnya.
"Ya...sama-sama." balas gue.
Kami pun kembali diam, sampai kami tiba di kasil yang sangat besar itu. Setelah mobil berhenti, gue langsung diarahkan ke kamar yang sebelumnya pernah gue tepati, oleh pelayan. Dan Jordan, Ia langsung pergi entah kemana.
Saat di kamar, gue hanya membaringkan tubuh gue di atas ranjang, karna tidak ada hal yang bisa di lakukan selain membaca buku dan menonton TV.
Berdiam diri sambil menatap langit-langit dinding adalah hal yang paling membosankan di dalam hidup gue, gue sampai mencoba untuk menghibur diri gue dengan berguling-guling di atas ranjang sampai membuat rambut gue berantakan.
Saat kebosanan yang masih melanda gue, tiba-tiba ada seseorang yang menerobos masuk ke dalam kamar gue. Gue yang sedang dalam posisi tengkurap, sontak menengok dan menatap orang itu.
Melihat siapa yang datang, gue langsung bergegas bangun dari posisi gue dan sedikit merapikan pakaian dan juga rambut gue.
"Ada apa? bukannya lu sibuk?" tanya gue yang sedang duduk di atas ranjang, dan menghadap kearah Marcel yang berjalan keadah gue.
Bukannya menjawab pertanyaan gue, Marcel sontak mendorong gue sampai terbaring di atas ranjang dan naik ke atas gue. Ia langsung mencium bibir gue dengan sangat ganas, sampai-sampai tidak membiarkan gue untuk bernafas.
BERSAMBUNG
__ADS_1