Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Racun!!


__ADS_3

  Malam yang panjang pun berakhir, tepat pada pukul 6 pagi. Gue langsung berdiri, dan berjalan menghampiri gadis itu yang masih tertidur dengan pulas.


  "Woi!! bangun!!!" teriak gue.


  "Bangun, woi!!" teriak gue lagi sambil menggoyangkan tubuhnya.


  "Apaan sih, ganggu orang aja." balasnya dan sontak membalikkan tubuhnya, membelakangi gue.


  Karna kesal, gue sontak menarik tangannya degan keras, sampai Ia terduduk.


  "Sa-sakit!!" teriaknya.


  "Buruan minum." ucap gue sambil melemparkannya obat pereda mabuk.


  "Ini apa?" tanyanya sambil menatap gue.


  "Racun!!" jawab gue.


  "Se-serius?" tanyanya.


  "Hah...tolol bangett, dah." gumam gue samb menepuk jidat gue.


  "Itu obat pereda mabuk, biar lu gak gila pas ke sekolah. Buruan minum, terus ganti baju yang lu pakai itu sama baju yang kemarin. Nanti bawahan gue yang antar lu pulang." jelas gue.


  "Tapi, gue mau pulang sama lu." sambungnya.


  "Sama gue? gila lu?!!"  sahut gue.


  "Gue gak kenal siapa-siapa selain lu disini, jadi plis...anterin gue pulang, ya." bujuknya dengan mata yang berbinar-binar.


  "Ogah!!" tolak Gue.


  "Gue juga harus pulang, dan gue yakin rumah kita beda arah. Jadi, lu sama bawahan gue ya. Mau gak mau, suka gak suka. Tetap sama bawahan gue." ucap gue lalu tersenyum kepadanya.


  "Hah...oke,oke." jawabnya dan sontak berdiri.


  "Lu kenap masih disini? buru keluar!! gua mau ganti baju!!" sahutnya.


  "Lu ngusir gue? berani banget lu!!"


  "Bukan ngusir, tapi kan guemau ganti baju. Masa lu ngeliat tubuh gue, yang indah ini."


  "Cih...indah? rata gitu dibilang indah? udah kayak tebok aja." ejek gue dan sontak berbalik lalu melangkah pergi.


  "Lu bilang apa? tebok?!! Dasar orang gila!!" teriaknya.


  "Bilangin orang lain gila, dia sendiri gila. Aneh!" gumam gue lalu keluar dari ruangan gue.


  "Selamat pagi, Tuan." sapa Jordan yang selalu berjaga di depan ruangan gue bersama 2 bawahan lainnya.


  "Pagi, dimana Dika?" tanya gue.

__ADS_1


  "Ada apa, Tuan?" sahut Dika yang berjalan menghampiri gue.


  "Hari ini kamu pakai kendaraan apa??" tanya gue.


  "Mobil, Tuan. Ada apa, Tuan?"


  "Antar gadis yang ada didalam ruangan ku, kembali kerumahnya. Jangan biarkan ada yang mengetahui, jika Ia baru saja keluar dari markas ini. Jika tidak, kamu pasti tau apa yang akan terjadi." perintah gue.


  "Baik, Tuan." jawabnya sambil menunduk.


  "Jordan, ayo." ucap gue dan sontak melangkah pergi menuju basement, di ikuti oleh Jordan.


  Setelah di dalam mobil, supir gue pun langsung menginjak gas dan pergi menuju rumah gue, alias rumah bokap gue.


  Tapi tiba-tiba saja gue baru ingat, kalau gue gak ada bawa apapun, pas kleuar dari ruangan gue.


  "Astaga!!" teriak gue.


  "Ada apa, Tuan?" tanya Jordan.


  "Aku lupa mengambil ponsel ku, dan pistol ku juga masih ada di dalam ruangan ku." jawab gue.


  "Apa kita perlu putar balik lagi, Tuan?" sambung Jordan.


  Gue sontak melihat jam tangan gue, dan berkata. "Hah...tidak usah, aku sudah sangat terlambat."


  "Baik, Tuan." jawabnya.


  *Semoga aja, cewek gila itu gak ngeliat HP gue.* batin gue.


  Gue yang baru selesai memakai baju sekolah, dan bersiap untuk keluar dari ruangan itu.


  Tapi, saat gue melewati sofa dan juga meja. Gue gak sengaja liat HP yang ada di atas meja itu.


  Karna penasaran, gue langsung meraih ponsel itu dan berkata. "Hp siapa?"


  Belum sempat gue nyalain tuh ponsel, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


  "Apa sudah selesai?" teriak seseorang dari luar.


  "Su-sudah." sahut gue dan sontak memasukkan ponsel itu kedalam tas gue, lalu berjalan keluar dari ruangan itu.


  "Apa kamu bawahan Reyhan?" tanya Gue sambil menatap pria itu.


  "Bukan hanya saya, tapi semua orang yang ada di markas ini, adalah bawahan Tuan Marcel." jawabnya.


  "Marcel? bukannya namanya Reyhan?" sambung gue.


  "Saya tidak pantas memberitahu anda tentang itu, biar Tuan sendiri yang menjelaskan." ucapnya.


  "Hah? oh...i-iya." Jawab Gue bingung.

__ADS_1


  "Mari ikut saya." sahutnya.


  "Kemana?" tanya gue bingung.


  "Ke basement, saya akan mengantar anda pulang." jawabnya.


  "Oh, ayo." balas gue.


  Pria itu pun langsung berjalan lebih dulu dari gue, karna gue gak tau jelas tentang tempat ini, yang mereka sebut markas. Jadi, gue hanya mengikuti Pria itu saja.


  Walaupun masih ada rasa takut yang menyelimuti diri gue, bagaiman tidak? Tempat ini benar-benar dipenuhi dengan para pria yang memakai pakaian serba hitam, dan lagi wajah mereka sangat menakutkan.


  *Rasanya gue kayak lagi diculik.* batin gue.


  Saat di tempat, yang terlihat seperti basement itu. Gue di buat terkejut, dengan mobil hitam yang bejejer dengan sangat rapi. Bukan hanya itu, ada beberapa motor-motor keren disitu.


  "Hm...Apa saya boleh bertanya?" sahut gue.


  "Ada apa?" tanyanya.


  "Kenapa kendaraan disini semuanya berwarna hitam?"


  "Itu memang warna yang di pakai untuk para Mafia." jawabnya santai.


  "Ma-mafia?" sahut gue terkejut dengan mata yang membulat besar.


  "Ada apa? Bukannya anda sudah tau ini markas para Mafia berkumpul?" sambungnya.


  "Hah? tentu saja saya tau, ha ha ha..." jawab gue sambil tertawa dengan sangat kaku.


  "Baiklah, silahkan masuk. Saya akan langsung mengantar anda." ucapnya sambil membukakan gue pintu mobil.


  "Terima kasih." jawab gue dan sontak masuk ke dalam mobil itu.


  Lalu pria itu pun berjalan dengan cepat kesisi lain mobil, dan masuk ke dalam mobil.


  *Kenapa gue gak duduk di depan aja, sih?* batin gue bingung.


  Selama perjalanan, pria itu hanya diam saja. Gue pikir dia diam, karna terlalu fokus berkendara. Padahal, dia memegang stir mobil saja dengan satu tangan, dan terlihat sangat santai.


  "Hm... bisa tolong di percepat? saya sudah cukup terlambat." sahut gue.


  "Baik." jawabnya, dan tiba-tiba saja mobilnya berjalan dengan sangat cepat.


  *Ya Tuhan... selamatkan gue, dong. Gue memang selalu minta nyawa gue cepet-cepet di ambil, tapi kalau kayak gini caranya. Gue gak mau, Ya Tuhan.* batin gue.


  "Ini sih ngajakin gue mati, bukannya ngantar gue pulang." gumam gue sambil memegang pintu mobil itu.


  Tak lama kemudian, akhrinya gue pun sampai di depan rumah. Tanpa basa basi lagi, gue langsung keluar dari mobil, dan berlari masuk ke dalam rumah agar tidak ada yang melihat gue. Karna baru pulang pagi ini.


  Seperti dugaan gue, gak ada satupun orang yang khawatir sama gue. Gak ada yang peduli, kalau gue gak ada pulang dari kemarin.

__ADS_1


  Gue yang juga gak peduli sama mereka, langsung masuk ke dalam kamar untuk bersiap ke sekolah.


  Bersambung


__ADS_2