
Aku sedikit kecewa dengan siapa yang kulihat, aku langsung menghampiri orang itu dan bertanya. "Ada apa? apa kau mencari ku, Felix?"
Ya, yang datang bukanlah Carmelia, melainkan Felix, anak laki-laki yang selalu membuat mood ku buruk. Felix yang mendengar suara ku, langsung berbalik dan menatap ku dengan serius.
"Hm? kenapa? apa yang salah dengan ku?" tanya ku.
"Apa Papa memarahi Ibu Carmelia?" tanyanya balik.
"Anak kecil seperti mu tau apa? kau hnaya tau bermain saja!" ketus ku.
"Aku tau! Ibu Carmelia datang ke kamar ku dan bilang, kalau Papa memarahinya di depan semua bawahan Papa. Padahal Ibu tidak salah! apa Papa bodoh!!? Papa memarahi Wanita secanti Ibu Carmelia!!" ocehnya.
*Oh, pantas dia tidak disini. Ternyata di kamar bocah ini,* batin ku lalu melangkah melewati anak itu dan keluar dari perpustakaan.
"PAPA!! KENAPA PAPA MENINGGALKAN KU!!? PAPA MARCEL!! DASAR PAPA BODOH!!!" teriaknya. Aku tidak memperdulikan teriakan bocah itu, aku terus saja berjalan sampai ke kamar miliknya.
Saat aku sampai di depan kamar Felix dan ingin meraih memegang gagang pintu itu, tiba-tiba saja ada tangan mungil yang lebih dulu memegang gagang pintu itu. Aku langsung menengok kearah sang pemilik tangan, dan ternyata itu adalah Felix.
"Kenapa kau tiba-tiba disini? bukannya tadi kau di perpustakaan?" heran ku.
"Makanya kalau jalan yang cepat, dong! Kura-kura aja bisa nyusul langkah, Papa," ucapnya, lalu mendorong pintu kamarnya dan melangkah masuk meninggalkan ku sendiri di luar.
"Semoga anak ku tidak sepertinya!" gumam ku, lalu melangkah masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
Saat di dalam, aku sudah disuguhkan dengan pemandangan Felix yang duduk di pangkuan Carmelia sambil memeluk erat Wanita itu. Ditambah, Carmelia yang juga memeluknya dan mengelus kepala anak itu.
*Aku sudah kesal karna para Pria yang tidak becus itu, sekarang aku malah di buat kesal sama bocah yang tidak ada apa-apa ini!* batin ku.
"Carmelia~" panggil ku yang berdiri tak jauh darinya.
Carmelia mengabaikan ku dan malah berbicara kepada Felix. "Kamu dari mana saja, sayang? aku kira kau menghilang."
"Aku tadi mencari Pria bodoh!" jawab Felix sambil melirik ku.
*Wah, wah... benar-benar nih anak!"* batin ku.
"Pria bodoh? oh apa maksud mu Pria yang berdiri disana?" balas Carmelia sambil melirik ku sekilas.
*Kok rasanya seperti sedang terpojokkan ya?* batin ku.
"Carmelia, aku tau aku salah karna sudah memarahi mu. Tapi, ini demi keselamatan mu dan calon bayi kita. Bagaimana jika kamu sampai terluka? Iya kalau hanya luka ringan, kalau sampai luka parah bagaimana?" sesal ku.
"Hei!! Pria bodoh!! Kau pikir aku tidak bisa menjaga diriku sendiri, hah!!?"
"Bukan itu maksud ku, tapi—"
"Tapi apa!!? Jangan pakai alasan yang tidak jelas hanya untuk menghindari kesalahan mu!!" potongnya.
__ADS_1
"Aku tidak menghindar, aku tau aku salah. Aku memang salah karna memarahi dan meninggikan suara ku kepada mu. Aku menyesal karna apa yang sudah kulakukan. Tapi, aku melakukan itu hanya untuk memastikan kau tidak terluka. Hanya itu, tidak ada niat lain selain memastikan istri dan calon anak ku aman."
"Dan kau tau sendiri, yang kau lawan itu bawahan pribadi ku dengan senjata utama mereka masing-masing. Kau tau bahwa mereka berdelapan sangat sadis jika bertarung, apalagi saat memegang senjata utama mereka. Mereka tidak akan peduli siapa yang mereka lawan saat itu. Tapi kau? kau malah menantang mereka?"
"Aku saja yang seorang Taun mereka saja selalu menghindar jika mereka mulai bertarung, karn mereka bisa saja menghabisi seluruh orang yang ada di sekitarnya."
"Jadi, aku berpikir aku bodoh? karna aku menatang mereka sekaligus? memang selemah apa aku?" Semakin lama, rasanya Carmelia semakin marah. Aku berusaha untuk tetap tenang, dan mengatur suara ku agar tidak melakukan kesalahan yang sama.
"Tidak, aku tidak menganggap mu bodoh. Kau juga tidak lemah, mana mungkin ada manusia lemah yang berani tinggal di kastil ini. Dan lagi, kau itu Nyonya Anggara, bisa diibaratkan kau ratu di kastil ini. Tapi, aku hanya ingin kau tau siapa lawan mu yang bisa kau kalahkan."
"Apapun itu, aku tidak peduli!! sekarang keluar dari sini!! sekarang!!" usirnya.
"Tapi—"
"Pergi!!!" potongnya.
"Haah...baiklah. Sebelum aku pergi, aku ingin meminta maaf atas kesalahan yang telah ku perbuat tadi," ucap ku.
Aku pun membungkuk dengan sempurna, lalu berkata. "Maaf, aku benar-benar minta maaf." Karna tak kunjung mendapat jawaban dari Carmelia, aku pun menenggakan tubuh ku kembali. Aku pun berbalik, dan melangkah pergi dari hadapannya.
*Sepertinya malam ini aku akan kembali saat larut saja,* batin ku sambil menutup pintu kamar itu. Aku pun melangkah pergi menuju ruang kerja ku.
BERSAMBUNG
__ADS_1