Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
S2. Ucapan Selamat


__ADS_3

Gara-gara informasi yang diberikan Dokter itu masih kurang jelas bagiku, aku menyuruhnya untuk membawa semua peralatannya kekastil. Dengan alasan, aku harus tau sudah berapa bulan calon bayi ku di dalam kandungan Carmelia.


Carmelia yang terbaring di atas ranjang, terlihat sangat bahagia dengan perut yang tak henti-hentinya Ia elus dengan lembut.


"Marcel~ ada bayi di dalam sini, dia benar-benar anak kita~" ucapnya.


Aku tidak tau harus berkata seperti apa, tapi aku juga sangat bahagia. Sampai rasanya, aku ingin mengatakan kepada semua orang di dunia ini, kalau aku akan menjadi seorang ayah.


"Sayang~ apa aku boleh memegang perut mu?" pinta ku.


Carmelia menatap ku dan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Aku pun mengangkat tangan ku dan perlahan meletakkannya di atas perut Carmelia. "Ah! aku tidak tau harus mengatakan apa. Aku benar-benar bahagia~"


Carmelia mencoba meraih kepala bagian belakang ku, dan menarik ku mendekatinya. Ia tiba-tiba mengcup bibir ku dan berkata. "Aku tau perasaan mu sekarang."


"Tapi, aku benar-benar tidak percaya kalau ini nyata. Ini seperti sebuah mimpi," cetus ku.


"Jika ini sebuah mimpi, aku berharap aku tidak akan bangun dari mimpi ini."


"Tapi—" Tiba-tiba saja ada yang menerobos masuk ke dalam kamar kami, aku dan Carmelia langsung menengok dan menatap ke arah pintu.


"Ibu Carmelia!!" teriak Felis sambil berlari kearah kami. Tentu saja anak itu tak sendiri, Ia bersama dengan Jordan, Andre, Nella, dan juga Vernon yang berjalan kearah kami dengan sebuah senyuman yang amat sangat lebar.


Saat Felix ingin melompat kearah Carmeli, aku langsung menarik anak itu dan menjauhkannya dari Carmelia dengan memegang kera baju bagian belakangnya.


"Jangan menyentuh Istri ku!!" kesal ku kepada Felix.


"Ibu~ Papa Marcel jahat," ucap anak itu kepada Carmelia dengan memasang tampang sedih.


"Marcel, lepaskan. Jangan seperti itu!"


"Tapi—ah! Iya,iya!" rajuk ku lalu melepaskan anak itu.


Felix pun mendekati Carmelia, lalu memeluk dan mencium pipi Carmelia. Aku yang melihat itu hanya bisa berdengus kesal.


"Selamat, Tuan. Kami turut bahagia dengan kehamilan Nyonya," ucap Jordan.


"Siapa yang memberitahu kalian?" tanya ku.


"Ah, Hendra yang memberitahu kami. Ia menelpon kami, dan mengatakan bahwa Nyonya sedang hamil. Katanya juga, Ia akan memastikan sudah berapa bulan Nyonya hamil," jawab Jordan.

__ADS_1


"Apa baru kalian yang mengetahuinya?"


"Hm... sepertinya begitu, Tuan."


"Bodoh!! beritahu semua orang yang ada di kastil ini, beritahu bahwa Carmelia sedang hamil dan suruh para pelayan untuk menyiapkan pesta atas kehamilan Carmelia!" perintah ku.


Tapi keempat orang itu sontak saling menatap satu sama lain, dan kembali menatap ku dengan wajah yang datar.


"Sebelumnya mohon maaf, Tuan. Akan lebih baik, kehamilan Nyonya di sembunyikan terlebih dulu. Itu untuk keselamatan Nyonya dan calon bayi anda," saran Nella.


"Benar, Tuan. Kehamilan Nyonya adalah informasi yang sangat besar, itu bisa mengundang para pembunuh kemari. Jadi, akan lebih baik hanya kami saja yang tau terlebih dulu," timpal Vernon.


"Tapi, bagaimana bisa hal seperti ini di sembunyikan? saat perut Carmelia membesar nanti, pasti seluruh kastil akan tau mengenai kehamilannya. dan lagi, kalian tau sendiri sudah banyak pembunuh bayaran yang menyamar menjadi pembantu ataupun penjaga di kastil ini."


"Tenang saja, Tuan. Setiap harinya para pelayan dan penjaga akan mendapatkan pemeriksaan setiap pagi dan malamnya. Kami pasti akan berusaha untuk menjaga Nyonya dan calon bayi anda bagaimana pun caranya," jawab Vernon.


"Mereka benar, Marcel~ aku juga akan berusaha untuk berdiam diri di kastil, dan membatalkan semua undangan para pemimpin wanita," cetus Carmeli.


"Haah...terserah kalian saja," ucap ku.


Felix tiba-tiba berlari melewati ku dan memeluk kaki Nella, lalu berkata. "Ibu, apa aku akan punya adik?"


"Tidak, itu bukan adik mu! itu anak ku!!" seru ku.


"Apa aku salah? kan benar itu anak ku, bukan adik nya!! bagaimana kalau kamu melahirkan anak perempuan? aku tidak mau Felix mencium dan memeluk anak ku seperti kamu yang selalu di cium dan dipeluk olehnya!" oceh ku.


"Pfft..." suara tawa kecil dari Carmelia dan keempat orang itu.


"Beraninya kalian tertawa!!!" geram ku.


"Cepat mebungkuk!!" perintah ku. Dengan cepat mereka langsung membungkuk dengan sempurna di hadapan ku.


"Tertawa tanpa izin dari ku, kalian benar-benar lancang!!"


"Kalau hari ini aku sedang tidak sebahagia ini, akan ku pastikan kalian mendapatkan hukuman yang berat!! sekarang bangunlah!!" tegas ku.


"Maaf atas kelancangan kami, Tuan," ucap mereka bersama, lalu menenggakan tubuhnya.


"Marcel~" pangil Carmeli.

__ADS_1


Aku langsung menengok kearahnya dan duduk di sebelahnya. "Ada apa? apa kau lapar?"


"Ya, aku sangat lapar. Ini sudah lewat jam makan siang, dan kita belum makan mulai tadi," jawabnya.


"Apa yang ingin kau makan?"


"Apapun itu, yang penting perut ku bisa terisi."


"Vernon!" panggil ku.


"Saya akan menyiapkan makanan untuk Nyonya dan anda, sekarang," ucapnya.


"Pergilah."


"Baik, Tuan," jawabnya lalu melangkah pergi keluar dari kamar ku.


"Kalau begitu, kami juga izin undur diri, Tuan. Kami tidak ingin mengganggu makan siang kalian," cetus Jordan sambil menunduk.


"Pergilah, dan hubungi Hendra untuk mempeecepat kerjanya. Sudah hampir satu jam dia belum datang juga."


"Baik, Tuan. Kalau begitu, kami pamit. Selamat siang, Tuan dan Nyonya."


"Terimakasih atas ucapan selamat kalian," timpal Carmelia.


Mereka hanya membalas dengan menundukkan kepala mereka, lalu berbalik dan melangkah pergi keluar dari kamar ku.


"Marcel, apa kau bisa berjanji sesuatu kepada ku?" ucap Carmelia.


"Janji? janji apa?" tanya ku bingung.


"Apa kau bisa tetap di Itali selama aku hamil sampai aku melahirkan nanti? aku hanya takut terjadi sesuatu dengan calon bayi kita."


"Memang apa yang akan terjadi? kau akan aman disini, dan lagi. Kau kan bisa menggunakan senjata."


"Tapi, tidak selamanya aku bisa tetap aman dengan satu senjata milik ku saja."


"Pikiran mu terlalu jauh, Sayang~ tidak akan ada yang terjadi kepada mu ataupun calon bayi kita, aku bisa menjamin hal itu!"


"Tapi, karna ini permintaan mu. Aku berjanji untuk tetap berada di Itali selama kau hamil sampai kau melahirkan," lanjut ku sambil mengelus rambutnya.

__ADS_1


"Aku harap kau menepati janji mu." Perkataan Carmelia itu membuat ku heran, seakan-akan Ia tau jika beberapa bulan kedepan aku akan melanggar janji ku sendiri.


BERSAMBUNG


__ADS_2