
MARCEL POV*
Setelah malam yang panjang, tak terasa bulan sudah berganti menjadi matahari. gue yang baru membuka mata sudah di suguhkan dengan pemandangan yang sangat indah.
Ya... Jessica yang tertidur tepat di samping gue dan gue masih memeluknya dengan sangat erat. Kami yang tadinya tidak menggunakan sehelai benang pun, sekarang hanya di tutupi selimut saja.
Gue bisa merasakan kulit halus dan dingin milik gadis itu, wajah yang terlihat sangat lelah dan rambut yang sedikit berantakan. Memang terlihat sangat kacau, tapi bagi gue itu pemandangan terindah yang pernah gue lihat.
Rasa ingin menyerangnya lagi, tapi terlintas wajahnya yang merasakan sakit saat pertama kali melakukan hal itu semalam. Dan akhirnya, gue hanya mengecup lembut keningnya lalu bangun dari posisi gue.
Tanpa menggunakan sehelai benang pun, gue dengan santainya turun dari ranjang dan berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan diri gue.
Tak butuh waktu lama, gue pun keluar dari kamar mandi dengan memakai baju handuk berwarna biru gelap. Karna Jessica masih tertidur, gue memutuskan untuk membuka tirai yang menghalangi cahaya matahari masuk ke dalam kamar itu.
Baru saja tirai itu terbuka lebar, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar dan membuat gue menengok ke arah suara ketukan itu.
Karna tidak ingin siapapun melihat keadaan Jessica, gue akhirnya berbalik dan melangkah kearah pintu itu. Saat pintu itu terbuka, ternyata Vernon lah yang berdiri di balik pintu itu.
"Selamat pagi, Tuan." sapanya sambil membungkuk sekilas.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya gue santai.
"Sudah waktunya sarapan, Tuan." jawabnya.
"Aku tidak sara—"
"Ketiga Keluarga itu sudah menunggu anda di meja makan." potong Vernon.
"Haah... panggilkan Pelayan yang menemani Carmelia kemarin, suruh mereka untuk melayani gadis itu lagi dan jangan lupa untuk memberikannya sarapan."
"Baik, Tuan."
Gue pun kembali menatap Vernon, dan melangkah keluar dari kamar itu sambil menutup pintu kamar itu dengan perlahan.
"Pakaian anda sudah di siapkan di ruang ganti, ada 6 pelayan yang sudah menunggu anda di sana." sahut Vernon.
"Pergilah ke meja makan, dan katakan aku akan sedikit telat." ucap gue.
"Baik, Tuan." jawabnya sambil menunduk lalu melangkah pergi dari hadapan gue. Dan gue melangkah kearah lift untuk naik ke lantai 3, menuju ke ruang ganti.
__ADS_1
Setelah 10 menit berlalu, gue akhirnya sampai di meja makan. Anehnya, makanan yang di sajikan masih utuh seperti tidak ada yang menyentuhnya sedikit pun.
"Maaf atas keterlambatan saya." ucap gue, lalu duduk di kursi.
"Akhirnya Tuan rumahnya datang juga." celetuk Henry.
"Kenapa kalian tidak sarapan? aku sudah bilang akan terlambat, untuk apa menunggu ku lagi?"
"Tidak baik jika mendahului Tuan rumahnya, akan lebih baik jika kami menunggu anda dan sarapan bersama." jawab Emiliano.
"Haah... sekarang makanlah, tidak baik jika sarapan lewat dari waktunya." sambung gue, lalu mengambil pisau dan garpu, dan mulai menyantap sarapan gue dengan santai.
***
Setelah sarapan, gue memutuskan untuk mengecek keadaan Jessica terlebih dulu, lalu kembali ke ruang santai untuk berkumpul dengan ketiga Keluarga itu.
Saat sedang dalam perjalanan menuju kamar Jessica, gue merasakan ada seseorang yang mengikuti gue dari belakang. Awalnya gue pikir itu hanya seorang pelayan yang sedang bersih-bersih di daerah lantai 2. Tapi semakin lama, langkah seseorang itu semakin dekat ke arah gue.
Gue sontak menghentikan langkahnya gue dan berbalik dengan cepat. Gue sangat terkejut, saatt melihat siapa yang berdiri di hadapan gue dan mengikuti gue mulai tadi.
__ADS_1
BERSAMBUNG