Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Amarah Angel


__ADS_3

Setelah gue berbicara seperti itu, tiba-tiba Angel menarik kera baju gue dan menatap gue dengan mata yang sangat merah karna marah besar.


"Nona, tolong lepas. Anda tidak boleh bersikap seperti itu." sahut Jordan.


"DIAM!!" teriak Angel sambil menatap Jordan dengan tajam. Dan kembali menatap Gue dengan tajam.


"Tadi kamu bilang apa! Gadis lain yang akan menjadi pemimpin Wanita? kamu bilang seperti itu!!?" geramnya.


"Kenapa kamu marah? memang apa hubungan dengan mu?" tanya gue santai.


"Kita ini udah di takdir kan untuk memimpin Dunia Mafia, kenapa kamu malah memilih Gadis lain? apa kamu gila!!!?" teriaknya.


"Sayang, kamu tidak boleh seperti itu kepada Tuan Anggara. Cepat lepaskan Tuan Anggara." sambung Sang Ibu.


"DIAM!! AKU BILANG DIAM YA DIAM!!" teriaknya.


*Sudah gue duga, pasti bakal kayak gini.* batin Marcel.


"Buang gadis itu, sekarang!! jangan sampai aku bertemu dengannya lagi, jika tidak—"


"Jika tidak apa? apa kamu akan membunuhnya? apa kamu berani membunuh pemimpin wanita masa depan? apa kamu ingin di hukum penggal~?" ancam gue.


"Aku tidak peduli!! aku hanya ingin kamu!!" jawabnya.


"Tapi aku tidak menginginkan mu." ucap gue santai.


Tiba-tiba saja sebuah tamparan melayang tepat di pipi kiri gue, suara tamparan yang terdengar di penjuru ruang makan itu. Entah bagaimana lagi ekspresi Jordan dan orang tua Angel. Tapi jujur saja, rasanya cukup membuat gue meringis pelan dan telinga kiri gue berdengung dengan hebatnya.


"Tu-tuan." ucap Jordan.


Gue yang sudah tidak bisa menahan amarah lagi, gue sontak berdiri dengan emosi yang meluap-luap sampai membuat kursi yang gue duduki jatuh. Gue langsung menatap ketiga anggota keluarga itu dengan serius.


"Baru kali ini aku mendapat perlakuan seperti ini. Perlakuan yang benar-benar menjijikan, sampai rasanya aku tidak ingin melihat wajah kalian lagi di dunia ini." ucap gue serius.


"Tuan Anggara—"


"Jangan menyebut nama ku!" potong gue dan menatapnya dengan tajam.


"Setelah ini, jangan pernah menemui ku lagi. Ini peringatan terakhir untuk kalian! Jika tidak, aku bisa memastikan keluarga kalian hancur." ancam gue.


"Kita pergi sekarang Jordan!" ucap gue lalu berbalik dan melangkah keluar dari rumah itu.


Gue langsung masuk ke dalam mobil, begitupun Jordan. Dan gue langsung menyuruh Jordan untuk jalan. Bukannya jalan, Jordan malah menatap gue dalam diam.

__ADS_1


"Kenapa tidak jalan?" tanya gue.


"Apa anda baik-baik saja, Tuan?" tanyanya.


"Aku tidak apa." jawab gue.


"Oh iya, apa Jessica masih berada di mall?" sambung gue.


"Sepertinya masih, Tuan. Belum ada laporan jika Nona sudah pulang." jawabnya.


"Kalau begitu kita kesana." perintah gue sambil menyandarkan punggung gue di sandaran kursi.


"Baik, Tuan." jawabnya, lalu mulai berkendara.


Selama di perjalanan, gue bisa melihat Jordan yang tak henti-hentinya melirik ke kaca mobil untuk memastikan keadaan gue yang duduk di kursi belakang.


Memang bekas tamparan itu masih berasa sampai sekarang, dan untuknya telinga gue sudah berhenti berdengung.


Jujur saja, saat gue melontarkan perkataan yang seolah-olah gue katakan untuk memutuskan hubungan baik antara keluarga Anggara dan Keluarga Dermi. Itu membuat gue sedikit merasa bersalah dengan mendiang Tuan Anggara dan keluarganya.


Tapi, perbuatan mereka sudah jauh dari kata wajar. Dan jika di diamkan lagi, mungkin setelah ini gue yang bakal di bunuh oleh mereka dan pastinya Jessica juga menjadi incaran mereka.


Gue tau perkataan gue tadi bisa menyakiti Jessica suatu hari nanti, tapi ini yang terbaik buat dirinya. Dari pada Angel mencari tau sendiri mengenai dirinya, itu akan lebih membahayakan untuknya.


Gue memang sadar dengan perasaan gue terhadapnya, tapi...tidak dengan Jessica. Mana mungkin dia menyukai gue, ada banyak Pria di sekelilingnya. Dan lagi, mana ada Gadis yang mau membahayakan dirinya hanya untuk sebuah kekuasaan saja.


Gue bisa memberikan segalanya, dan dia bisa mendapatkan apa yang dia mau. Tapi tidak dengan gue, kalau saja gue sampai menikah dengan seseorang yang gue cintai. Mungkin seseorang itu akan menjadi kelemahan utama gue, dan juga menjadi target empuk untuk balas dendam.


Memang cukup konyol untuk gue mencintai seseorang yang sama sekali tidak memiliki pengaruh besar di Negri ini. Tidak seperti Istri Tuan Anggara, dia adalah seorang wanita yang pernah menyelamatkan Negri ini dari Krisis ekonomi. Karna hal itu Ia di percaya untuk menjadi pemegang ekonomi Negara.


Sedangkan Jessica? Hah...gue tidak tau lagi apa yang harus gue banggakan dari gadis itu. Tapi...rasa nyaman saat di dekatnya itu bisa sedikit gue banggakan dan tentu saja kecantikannya juga tidak bisa di ragukan.


Tak terasa, kami pun sampai di mall itu. Setelah Jordan membukakan pintu mobil, gue langsung melangkah keluar dari mobil.


"Tuan..." tegur Jordan.


"Kenapa?" tany gue.


"Apa anda tidak ingin memakai masker?" tawarnya.


"Tidak, aku tidak butuh itu." tolak gue.


"Baiklah, mari Tuan." ucapnya, dan gue pun melangkah masuk kedalam tempat itu.

__ADS_1


Saat gue baru beberapa langkah masuk ke dalam mall itu, tidak sengaja gue melihat Jessica yang melangkah ke arah pintu utama mall dengan 10 orang Pria di sampingnya yang membawa banyak sekali tas belanjaan.


"Ternyata Nona sudah selesai berbelanja, Tuan." sambung Jordan.


"Ya...dan di kelihatan cukup bahagia." ucap gue yang tanpa sadar tersenyum saat melihat Jessica.


Jessica yang melihat gue, Ia sontak berhenti melangkah dan tiba-tiba berlari kearah gue.


"Marcel~" ucapnya sambil memeluk gue dengan mengalungkan tangannya di leher gue.


"Hai...gimana belanjanya? seru?" tanya gue.


"Banget! gue sampai bingung harus beli yang mana." jawabnya sambil menatap gue.


"Kenapa gak beli semuanya aja? jangan bilang lu takut kalau uang yang di kartu ATM gue gak cukup?" duga gue.


"Gak tuh! gue cuma kasian sama mereka, belanjaan gue udah banyak banget. Lagian gue gak tau harus taruh dimana nanti." jawabnya.


"Di markas aja, nanti gue beliin lemari lagi." sambung gue.


"Kalau di markas, gue gak bisa pakai pas siang dong? gue taruh dirumah aja, deh." ucapnya.


"Btw, kenapa lu kesini? bukannya lu tadi pergi sama Jordan, ya?" tanyanya.


"Mau ketemu lu, lah." jawab gue sambil memegang kedua pipi gadis itu.


"Alah! paling juga ada urusan di mall." rajuknya sambil mengalihkan pandangannya.


Mendengar ucapannya, gue langsung mengembalikan pandanganya ke gue dan mengecup bibirnya sekilas.


"Ih! apaan sih!? malu di liat orang!" kesalnya sambil memukul dada gue.


"Yaudah, kita lanjut di markas mau gak?" tawar gue.


"Kagak! dah, lepasin gue!" tolaknya sambil mendorong gue pelan.


Gue pun melepaskan pipinya lalu bertanya. "Lu udah makan, kan?"


"Udah lah, lu?" tanyanya balik.


"Udah." jawab gue bohong.


"Yaudah, yuk balik. Gue ngantuk." ajak gue sambil merangkulnya lalu berjalan keluar dari tempat itu menuju mobil.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2