
Setelah Jordan pergi, gue langsung menatap para bawahan gue yang masih berdiri dengan tegak tanpa luka di tubuh mereka.
"5 orang bawa yang terluka kerumah sakit, sisanya tetap berjaga di markas." perintah gue.
"Baik, Tuan." jawab mereka bersama.
Gue pun melangkah pergi bersama Jessica dengan memeluk pinggangnya, menuju ke kamar gadis itu.
Setelah sampai di kamarnya, gue menyuruhnya duduk di ranjang dan gue berdiri tepat di hadapannya.
"Masih sakit?" tanya gue sambil meletakkan tangan gue di puncak kepalanya.
"Lumayan, tapi itu siapa? kenapa dia tiba-tiba bilang kalau gue ngerebut king? king siapa?" tanyanya.
"Itu Angel, king itu nama panggilan aneh yang dia buat. Dia Putri dari teman orang tua angkat gue dulu." jawab gue.
"Orang tua angkat? gue gak paham." sambungnya yang menatap gue dengan raut wajah kebingungan.
"Sudah lah, gak usah di pikirin. Ada waktunya lu bakal tau segalanya. Sekarang kasih tau gue tentang apa yang tadi lu bilang." ucap gue.
"Bryan? dia nyuruh gue ke klub X, katanya semua anak-anak sekolah ada di sana. Kecuali lu dan murid cupu lainnya. Dan gue disuruh kesana, katanya dia mau ngasih sesuatu. Kalau gue gak kesana, orang tua gue bakal kena imbasnya. Mungkin karna orang tua gue kerja di bawa naungan bokapnya, makanya dia selalu bawa-bawa ortu lu." jelasnya.
"Yaelah, bokap cuma ketua menteri negar aja sombong." ketus gue.
__ADS_1
"Yaudah lah, kita tunggu Jordan kembali. Dan lagi, malam ini Dika dan Mark sudah bisa kembali kerja. Mungkin sekarang mereka dalam perjalanan kesini." ucap gue.
"Kalau mereka bertiga sudah berkumpul, baru kita obrolin tentang lu yang bakal ke klub." lanjut gue.
"Tapi, dia ngasih waktu gue buat datang sebelum jam 9 malam. Dan ini sudah jam 7 lewat." sambungnya.
"Buat apa buru-buru, sih? klubnya kan buka sampai jam 5 pagi, jadi santai aja." jawab gue dan sontak mendorong tubuhnya sampai terbaring di atas ranjang.
"Lu mau ngapain lagi?" sahutnya.
"Mau baring, lah!" jawab gue, lalu berbaring tepat di samping Jessica.
"Lu tau gak? hari ini gue selalu sial, mulai dari tadi pagi semunya gak berjalan sesuai yang gue inginkan. Kesialan gue gak bakal berhenti sampai hari esok, rasanya gue udah kayak di kutuk aja kan?" oceh gue.
Tiba-tiba saja Jessica memegang pipi kanan gue dan memaksa gue menengok kearahnya.
"Dan lagi, semua orang pasti punya kesialan masing-masing. Contohnya gue, sial banget pas ketemu lu. Tapi pada akhirnya? gue malah berharap kesialan ini berlangsung selamanya." lanjutnya.
"Maksud lu?" tanya gue yang kurang memahami ucapannya.
"Gue suka lu, entah sejak kapan perasaan ini muncul. Tapi sekarang, gue bener-bener suka lu, bukan cuma suka. Gue cinta sama Lu." jawabnya serius.
Saat mendengar jawabannya itu, gue benar-benar terkejut dan sontak membatu dan terdiam tanpa kata.
__ADS_1
"Jujur, ini gila banget! Bisa-bisanya gue suka sama cowok kayak lu, lu tau? gue sampai nganggap diri gue gila karna sudah suka sama lu. Gue akui, lu memang tampan. Tapi gue rasa bukan karna itu doang alasan gue suka sama lu, gue tau tau alasannya apa dan sampai sekarang gue masih belum tau alasan pasti kenapa gue bisa suka sama lu." ocehnya yang menatap ke langit-langit dinding setelah melepaskan tangannya dari pipi gue.
"Emang cinta butuh alasan?" sahut gue.
Jessica tiba-tiba menengok dan menatap gue dengan wajah yang terkejut.
"Lu tau gak? gue kira disini cuma gue yang suka sama lu, sampai gue kira. Gue ini bodoh, bisa-bisa suka sama cewek yang sama sekali gak punya perasaan apapun ke gue. Dan sekarang, lu malah nyatain perasaan lu lebih dulu sebelum gue? Harga diri gue rasanya di injak-injak, tau gak?"
"Tapi, gue bakal maafin lu. Karna lu yang sudah ngasih gue jawaban, kalau gue gak bodoh dan gue gak salah milih calon pemimpin wanita. Gue juga gak salah karna sudah melakukan sumpah darah ke lu, dan setelah ini..."
"Gue mau lu menghadapi pelatihan menjadi pemimpin Wanita."
Tiba-tiba Jessica bangun dari posisinya dan duduk menghadap ke gue.
"Bentar-bentar, lu tadi bilang kalau lu suka sama gue? sejak kapan?" tanyanya.
"Entah deh, gue juga gak tau sejak kapa gue suka sama lu. Tapi gue baru-baru aja sadar sama perasaan gue sendiri." jawab gue santai.
"Emang kenapa? lu mau gue tembak kayak pasangan lainnya? yang ngajak pacaran pakai buket bunga yang super gede terus pakai cincin? Kagak bakal gue lakuin, bunga gitu doang buat apa gue kasih pas ngajak jadian doang? gue bisa beli satu toko bunga, biar lu senang. Cincin? gue bisa beli semu cincin yang lu mau, biar lu bisa gonta ganti cincin setiap harinya." oceh gue.
"Gue gak mau buat di tembak, anjir!! kenapa lu baru ngomong kalau lu suka gue? gue udah kayak orang gila nyembunyiin perasaan gue sendiri!" kesalnya.
"Lah? kok marah? gue juga berusaha nyembunyiin perasaan gue, kali! dah lah, gak usah di perpanjang. Intinya gue gak bakal ngajak jadian, gue bakal langung ngajak lu nikah." sambung gue.
__ADS_1
"APA!!? NIKAH!!?" teriaknya.
Bersambung