
Saat gue baru saja keluar dari ruangan gue, ternyata Jordan baru saja kembali sambil menarik rambut gadis itu, dan diseretnya ke arah gue.
"Tidak jadi Diruangan ku, bawa dia ke kamar yang ada di lantai bawah." ucap gue.
"Baik, Tuan." jawab Jordan.
"Oh ya, belikan 1 set pakaian untuk gadis yang ada di dalam." sambung gue.
"Apa anda tidak membunuhnya? gadis itu mengetahui identitas anda, anda harus langsung membunuhnya. Jika tidak, anda dan keluarga anda yang akan dalam bahaya." jelasnya.
"Aku tau itu, sebelum dia berani membocorkan rahasia ku. Aku lebih dulu akan merobek mulutnya, jadi jalankan saja perintah ku."
"Baik, Tuan." jawabnya.
Gue pun langsung melangkah turun ke lantai 1, dan berkumpul dengan para bawahan gue.
"Malam ini, kita tidak ada tugas. Jadi bersantai lah." sahut gue sambil duduk di kursi gue.
"Baik, Tuan." jawab mereka.
"Ambilkan semua jenis whiskey, kita akan berpesta malam ini!!" teriak gue.
"Apa para wanita kita keluarkan juga, Tuan?" sahut salah satu dari mereka.
"Apa kalian ingin bermain dengan mereka?" tanya Gue sambil menyeringai.
"Tentu saja." jawab mereka.
"Wah...kalian benar-benar pria mesum." ucap Gue.
"Kalau begitu, bawa mereka semua kesini!!" teriak gue, dengan snagat puas.
"Yeah!!!" teriak mereka yang sangat senang.
Para gadis yang di sekap di dalam markas ini pun di bawa keluar semua, tak lupa juga minuman beralkohol yang sangat kuat, untuk berpesta malam ini.
Saat sedang asik melihat pemandangan yang sangat memuaskan itu, dan juga meminum alkohol. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil gue dari belakang.
"Reyhan..." panggilnya.
Gue dan para bawahan gue yang mendenga itu, sontak menengok dan menatap gadis itu.
Itu adalah Jessica, yang memakai rok pedek seatas lutut, kemeja, dan juga jas panjang yang sama seperti milik gue. Ia memakai pakaian serba hitam, dan membuat itu sangat cocok dengannya yang berkulit putih bersih.
"Ngapain lu turun? lu itu di ruangan gue aja." ucap gue sambil menatapnya.
"Ada apa ini? kenapa banyak sekali pria, dan ada wanita yang sedang di siksa?" bisiknya.
"Ini pesta gue, lu gak usah peduliin mereka." jawab gue.
"Lanjutkan pestanya, jangan memperdulikan gadis ini!!" ucap gue kepada para bawahan gue.
"Tapi kenapa? lu gak kasian sama para cewek itu? ada banyak pria disini, kenapa mereka di gilir? lu jahat banget!" ocehnya.
"Mending lu diam, dari pada lu juga di pakai sama mereka!!" ancam gue.
__ADS_1
"I-iya." jawabnya.
"Lu mau minum gak? biar gak bosan." tawar gue sambil menyodorkan gelas gue.
"Gak, gue gak bisa minum." tolaknya.
"Umur lu berapa? kok gak bisa minum? masih bocah ya, hahaha..." ejek gue.
Tiba-tiba saja, gadis itu sontak merampas gelas yang ada di tangan gue, dan meminum minuman itu dalam sekali teguk.
"Wow...keren." puji gue.
Ia langsung memberikan gelas itu kembali ke tangan gue.
"Jordan, ambilkan kursi untuk gadis ini!" perintah gue.
"Baik, Tuan." jawabnya.
"Ini, kursinya." sahut Jordan sambil meletakkan kursi itu di samping gue.
"Duduk!!" perintah gue.
"I-iya." jawabnya dan langsung duduk.
"Lu mau minum lagi, gak?" tawar gue.
"Iya." jawabnya.
Gue yang mendengar itu, sontak mengeringkan dan berkata. "Berikan dia gelas, dan tuangkan alkoholnya!!"
Gue kira, dia cewek yang kuat minum. Makanya gue gak nahan dia, tapi saat menatap matanya. Teryata, dia sudah sangat mabuk.
"Jangan tungkan lagi, dia sudah mabuk." sahut gue.
"Baik, Tuan." jawab pria yang berdiri di samping Jessica.
"Lagi!! gue mau lagi!!" teriaknya.
"Lu udah mabuk, bego!! Jangan minum lagi! besok masih harus sekolah!" larang gue.
"Lagi!! gue mau lagi!!" teriaknya yang tiba-tiba memberontak.
"Gila nih cewek." gumam gue.
"Stop, woi!! jangan jadi pengacau disini!!" geram gue.
Tapi tiba-tiba saja, tangan Jessica mengenai pipi gue dengan sangat keras. Seperti sedang di tampar, karna Ia tak henti-hentiny memberontak.
Bawahan gue yang mendengar suara tamparan itu, sontak berbalik dan menatap Jessica dengan tajam dan bersiap untuk mengeluarkan sengaja mereka masing-masing.
"Turunkan senjata kalian!!" perintah gue.
"Tapi, Tuan—"
"Tidak usah melawan, Jordan. Cepat bantu aku bawa gadis ini ke ruangan ku!!" potong gue.
__ADS_1
"Baik." jawabnya dan sontak memaksa Jessica untuk berdiri dan menopangnya.
"Kalian lanjutkan saja, aku akan mengurus gadis itu." ucap gue.
"Baik, Tuan." jawab mereka.
Gue dan Jordan pun menopang Jessica sampai ke ruangan gue, dan membaringkannya di atas ranjang gue.
"Kamu boleh keluar." sahut gue.
"Baik, Tuan." jawabnya sambil menunduk dan sontak keluar dari kamar gue.
"Hah...gila nih cewek, kebiasaan mabuknya parah banget." gerutu gue.
"Padahal baru minum 2 botol, doang. Tapi udah mabuk aja, dasar!!"
Gue sontak membuka sepatu gadis itu, dan juga jas yang Ia pakai. Lalu gue gantung jasnya di dekat ranjang gue.
"Gue juga mau tidur." gumam gue.
Gue sontak mendorong Jessica kesisi lain kasur, lalu gue pun melepas sepatu gue dan naik ke atas ranjang, lalu berbaring tepat di samping gadis itu.
Tapi saat gue ingin menutup mata gue, tiba-tiba Jessica menindih perut gue dengan kakinya.
Gue yang terejut, hanya bisa membulatkan mata dan menatap ke langit-langit dinding, lalu menatap Jessica.
"Nih cewek berani banget nindih gue!! perut gue jadi sakit gara-gara kakinya." gerutu gue.
Saat gue ingin memindahkan kaki Jessica, tiba-tiba saja gadis itu malah memeluk tubuh gue dan bergumam. "Lagi,lagi."
"Argh!!!" teriak gue dan sontak terduduk.
Gue sontak menengok ke Jessica dan menatap wajahnya yang sedang tersenyum tapi masih tertidur dengan pulas.
"Hah...gue gak bis tidur kalau ada dia." gumam gue dan sontak turun dari ranjang, dan berjalan kearah sofa.
Gue sontak mengambil ponsel gue yang ada di atas meja, lalu duduk di sofa dengan santai. Gue langsung menelpon Jordan.
"Halo."
"Ada apa, Tuan?"
"Belikan obat pereda mabuk, dan ambilkan 2 botol whiskey, lalu antarkan keruangan ku."
"Baik, Tuan."
Gue pun langsung memutuskan telpon itu, dan meletakkannya di atas meja.
"Hah..." hela nafas gue sambil menyandarkan punggung gue ke sandaran sofa.
Setelah beberapa menit, Jordan pun datang dengan membawa apa yang gue perintahkan. Setelah Jordan keluar dari ruangan gue, gue pun langsung meminum whisky itu dengan santai.
Malam ini, gue memilih untuk tidak tidur sedikitpun. Karna gue yang tidak bisa tidur, jika bukan di atas ranjang.
Bersambung
__ADS_1